Rabu, 29 April 2026

lifestyle

Hindari dengan Kekerasan, ini Trik Mendisiplinkan Anak

orangtua terlalu sering membentak anak, sangat mungkin terjadi kerusakan komponen di otak anak dan menimbulkan trauma berkepanjangan.

Editor: LilisSetyaningsih

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Melatih si Kecil agar disiplin selalu menjadi tantangan bagi orangtua.

Tak jarang pula, karena orangtua merasa tidak sabar dengan kelakuan anak-anak yang dirasa tidak disiplin.

Akibat ketidaksabaran dan membuat jengkel, kerap membuat  ayah atau ibunya memarahi, membentak, bahkan memukul si Kecil ketika menerapkan disiplin ke anak

Namun, alih-alih menjadi disiplin, ketika anak sering dimarahi, dibentak bahkan diberi kekerasan dengan dipukul, hasilnya justru sebaliknya. 

Baca juga: Sajikan Hidangan yang menarik dapat Menambah Kelezatan, Buktikan

Baca juga: Anak dan Orangtua Mendapatkan Manfaat yang Sangat baik dari Kegiatan Bermain Bersama

Lalu bagaimana caranyaUntuk memahami hal tersebut, Teman Parenting belum lama ini melakukan sesi Instagram Live bertajuk "Mendisiplinkan Anak Ada Triknya!" bersama dr. Putu Ayuwidia Ekaputri, M. Sc., dokter yang mendalami ilmu cognitive neuroscience.

Sejak Usia Berapa Mengajarkan Anak Disiplin?

dr. Putu Ayuwidia Ekaputri, M. Sc., dokter yang mendalami ilmu cognitive neuroscience mengatakan, pada dasarnya, mendisiplinkan anak dapat dilakukan sejak ia lahir.

Pasalnya, sejak lahir, anak sudah memiliki otak yang mampu bekerja, walaupun fungsi dan kerjanya belum begitu kompleks serta optimal.

Baca juga: Jaga Mood Selama Menstruasi dengan Pilihan Pembalut yang Tepat

Oleh karenanya, menjadi catatan penting bagi orangtua, bahwa dalam mendisplinkan anak perlu disesuaikan dengan tahapan usianya.

Tak hanya itu, ekspektasi orangtua terhadap anak juga perlu dikontrol dengan baik ketika ingin mengajarkan soal kedisiplinan.

Dijelaskan dokter yang biasa disapa dr. Widia,  ketika anak baru lahir, bagian otak yang berfungsi secara dominan adalah bagian lower brain atau primitive brain.

Bagian otak ini memiliki tugas dalam pengaturan emosi anak dan berkembang sangat pesat sebelum anak menginjak usia 3 tahun.

Baca juga: Dengan Teknologi Kain Nano Shield Bikin Generasi Rebahan bisa Aman dari Gangguan Virus dan Bakteri

Setelah usianya mencapai 3 tahun, perlahan otak bagian logika akan mulai terbentuk dan bekerja, sehingga mencapai tingkat kematangan di usia 25-30 tahun.

"Dengan memahami perkembangan otak anak ini, diharapkan orang tua akan lebih mudah mencari metode paling efektif saat mengajarkan disiplin pada anak, sejak awal kehidupannya,"  katanya saat menjadi pembicara di Teman Parenting sesi Instagram Live bertajuk "Mendisiplinkan Anak Ada Triknya!" belum lama ini. 

Trik Mendisiplinkan Balita

Kekerasan bukanlah cara yang tepat dalam mengajarkan kedisiplinan pada anak. Sebaliknya, agar anak memahami ketika diajarkan untuk disiplin, orangtua perlu melakukan pendekatan emosional.

Menurut dr. Widia, karena di usia balita dan anak-anak, otak emosional masih dominan, maka cara terbaik untuk orangtua adalah mengambil kesempatan tersebut untuk menarik hatinya.

Baca juga: Chef Thomas Tirta: Gaya Hidup Sehat Tak Lagi Sekadar Tren, Masyarakat Mulai Selektif Soal Makanan

Di usia bawah 3 tahun, berikan anak perhatian yang penuh cinta. Misalnya, ketika anak menangis, gendong dan tenangkan.

Ketika anak emosional dan mengamuk, tenangkan dan beri pelukan.

"Cobalah pererat bonding dengan anak, buat anak merasa "cinta mati" dengan orangtuanya. Ketika anak merasa dicintai, mereka akan menyadari dan percaya bahwa setiap aturan serta omongan yang terucap dari orangtuanya, merupakan yang terbaik untuknya," kata dr. Widia.

"Jika anak sudah merasa nyaman dengan aturan yang diterapkan, lakukan secara konsisten,” imbuhnya.

Baca juga: Apakah Remaja Sudah Boleh Melakukan Perawatan Botox? Begini Saran Ahli

Lebih lanjut, dr. Widia juga mengatakan bahwa ketika mengajarkan anak untuk disiplin, orangtua sebaiknya jangan terlalu keras.

Seringkali orangtua terlalu keras ketika mengajarkan anak, namun anak sebenarnya belum memahami tujuan dari orangtua. Hal ini akhirnya hanya akan menimbulkan perasaan takut dan trauma pada diri anak.

Kekerasan Verbal atau Nonverbal dan Pengaruhnya pada Anak

Ketika anak diberi kekerasan baik verbal (kata-kata) atau non verbal dengan alasan  untuk mendisiplinkan anak, bukannya disiplin malah menimbulkan masalah lain. 

Rasa marah dan tantrum yang timbul dari anak bukanlah tanpa sebab.

Baca juga: Anak lebih Aman didudukan di Car Seat daripada dipangku saat di dalam Mobil, ini Alasannya

Ada berbagai alasan yang mendasari kemarahan si Kecil, sayangnya ia belum bisa mengungkapkannya dengan baik secara verbal.

Oleh karena itu, penting juga bagi orangtua untuk mengobservasi apa penyebab anak merasa emosional, kemudian barulah mencari cara untuk menenangkannya.

Apabila orangtua terlalu keras terhadap anak, ada 2 kemungkinan yang mungkin terjadi pada diri anak.

Pertama, anak menjadi takut dan menghindari orangtuanya. Jika sudah begini, bonding yang sudah terbangun mungkin akan perlahan memudar dan anak menjadi semakin jauh dengan orangtua.

Baca juga: Keju Cheddar Selain Sebagai Sumber Energi juga Tinggi Kalori Agar Buah Hati tidak Mudah Lelah

Baca juga: Metaverse Akan Menjadi Masa Depan Manusia

Akibatnya, anak akan semakin sulit untuk menuruti perintah orangtua.

Kedua, anak justru akan semakin memberontak karena merasa emosionalnya tidak bisa tersalurkan serta dipahami oleh orangtuanya.

Dalam jangka panjang, apabila orangtua terlalu sering membentak anak, sangat mungkin terjadi kerusakan komponen di otak anak dan menimbulkan trauma berkepanjangan.

"Prinsipnya, perlakukan anak sebagaimana kita ingin diperlakukan. Kalau anak marah, tanyakan kenapa dia marah, beritahu kalau misalnya kita mengerti kenapa dia marah," jelasnya

"Namun, bukan berarti juga kita langsung memberikan apa yang dia mau. Ada perbedaan tipis antara mengerti dan memberikan. Yang harus kita lakukan adalah mengerti, karena anak masih punya banyak keterbatasan untuk mengungkapkannya" tutur dr. Widia. (*)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved