Kamis, 4 Juni 2026

Lifestyle

Pentingnya Menilai Cadangan Ovarium untuk Keberhasilan Program Bayi Tabung

Program bayi tabung jadi alternatif pasangan yang akan memiliki buah hati. 

Tayang:
Editor: LilisSetyaningsih
Goldstone Gym & Fitness Waterford
Ilustrasi ibu hamil berolahraga 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Program bayi tabung jadi alternatif pasangan yang akan memiliki buah hati. 

Angka keberhasilan program bayi tabung juga semakin besar.

Saat ini bayi tabung memiliki angka keberhasilan hingga 40 persen per siklus. 

Untuk mendapatkan keberhasilan yang tinggi, pemeriksaan awal jadi kunci. 

Salah satu hasil pemeriksaan awal yang cukup penting bagi program bayi tabung adalah menilai cadangan ovarium calon ibu.

Baca juga: Harapan Baru Mendapatkan Keturunan Lewat Program Bayi Tabung

Baca juga: Tanam Bibit 2.500, Morula IVF Indonesia Fasilitasi Warga Tak Mampu Miliki Bayi Tabung, Ini Caranya

Cadangan ovarium ini akan menentukan bagaimana potensi reproduksi seorang wanita.

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Fertilitas, Endokrinologi, dan Reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre dan RS Pondok Indah – Pondok Indah dr. Yassin Yanuar Mohammad, Sp.OG-KFER, M.Sc mengatakan, cadangan ovarium atau ovarium reserve mengacu pada jumlah dan kualitas sel telur seorang wanita, yang sangat erat kaitannya dengan potensi reproduksi.

Potensi reproduksi adalah kemampuan seorang perempuan untuk dapat menghasilkan setidaknya satu sel telur sehat yang siap dibuahi.

Cadangan ovarium yang rendah dapat mengurangi kemungkinan untuk memperoleh keturunan.

Baca juga: Sebelum Hamil, Zaskia Sungkar Rencana Jalani Program Bayi Tabung Diluar Indonesia, Mengapa Belanda?

Sebaliknya, jumlah cadangan telur yang terlalu tinggi juga dapat menjadi penanda adanya sebuah kondisi gangguan pematangan telur, yang juga dapat menyebabkan gangguan kesuburan.

Berbeda dengan sperma yang dapat diproduksi terus menerus, sel telur wanita hanya diproduksi satu kali seumur hidup.

Ia menjelaskan, saat seorang bayi perempuan lahir, ia sudah memiliki sekitar tujuh ratus ribu hingga sejuta sel telur.

Jumlah tersebut terus berkurang seiring bertambahnya usia.

Ketika mendapatkan haid pertamanya, cadangan telur ini tinggal empat ratus ribu.

Baca juga: Program Bayi Tabung Belum Membuahkan Hasil, Gilang Dirga: Tuhan Memang Belum Kasih

Penurunan yang drastis terjadi saat seorang wanita memasuki usia 35-37 tahun.

Apabila sel telur wanita sudah habis, maka ia tidak lagi subur.

Kondisi ini umumnya terjadi sekitar usia 40 tahun, diikuti dengan menopause sepuluh tahun kemudian.

Meskipun demikian, usia menopause setiap wanita berbeda-beda, tergantung dari beberapa faktor, seperti riwayat penyakit dan gaya hidup.

Beberapa wanita dapat kehilangan sel telurnya lebih cepat, dan beberapa lainnya lebih lambat.

Baca juga: Bersyukur Miliki Dua Anak, Baim Wong Ingin Biayai Proses Bayi Tabung Pasangan yang Belum Punya Anak

"Usia seorang perempuan merupakan parameter paling sederhana yang sekaligus paling penting dalam memprediksi potensi reproduksinya," kata dr. Yassin, Kamis (11/11/2021).

"Semakin muda usia seorang wanita untuk menjalani program kehamilan, seperti bayi tabung misalnya, maka success rate-nya tentu semakin besar, karena jumlah sel telur yang dimiliki masih lebih banyak, apabila dibandingkan pada wanita yang menjalani program kehamilan berbantu di usia yang lebih lanjut," imbuhnya. 

Namun demikian, ada beberapa kondisi di mana wanita di usia reproduksi memiliki cadangan sel telur yang kurang baik (poor ovarium reserve). Beberapa penyebab kondisi cadangan sel telur yang rendah antara lain:

·         Kebiasaan merokok

·         Memiliki endometriosis

·         Memiliki riwayat operasi di indung telur

·         Terpapar bahan-bahan toksik kimiawi

·         Tindakan kemoterapi atau terkena paparan radiasi dalam jumlah banyak

·         Autoimun

·         Penyakit infeksi virus HIV

·         Kelainan genetik

·         Idiopatik/faktor yang tidak dapat dijelaskan

Ia menjelaskan, tidak ada jenis makanan, vitamin, atau terapi yang dapat menambah cadangan telur.

Baca juga: Termasuk dalam golongan Rentan Terkena Infeksi, Ibu Hamil dan Menyusui Jangan Ragu Vaksinasi Covid19

Maka, untuk wanita yang sudah menikah selama setahun, berhubungan intim rutin tanpa menggunakan kontrasepsi namun belum mendapatkan keturunan, atau bagi wanita yang sudah menginjak usia 35 tahun, sebaiknya tidak perlu menunggu setahun.

"Segeralah berkonsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi. Waspada, berkurangnya cadangan telur dapat terjadi tanpa gejala," kata dr. Yassin.

Ada berbagai metode yang dapat digunakan untuk menilai potensi reproduksi seorang wanita. Berikut ini beberapa tes khusus untuk kedua metode yang umum digunakan di klinik.

Pemeriksaan ini meliputi: usia kronologis, merupakan parameter yang baik untuk menilai potensi reproduksi, mengukur kadar Anti Mullerian Hormone (AMH), pengambilan sampel dalam tes hormon ini dilakukan dengan pengambilan sampel darah, di hari kapanpun.

Kadar AMH digunakan untuk memperkirakan cadangan ovarium atau menilai usia biologis seorang perempuan.

Baca juga: Pentingnya Menjaga Kecukupan Hidrasi, Ini Jumlah Kebutuhan Air Minum Bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Penilaian folikel antral basal (FAB), penilaian ini dapat dilakukan melalui pemeriksaan USG transvaginal dengan melihat jumlah folikel (kantong sel telur) yang ada pada ovarium seorang perempuan. Folikel antral basal merupakan folikel yang berukuran 2-9 milimeter.
 

"Cadangan ovarium dapat berbeda dari waktu ke waktu sehingga cara yang terbaik untuk mengonfirmasi hasil suatu pemeriksaan adalah dengan melakukan pemeriksaan tambahan," ujarnya. 

Namun, perlu dipahami bahwa metode pengujian cadangan ovarium yang tersedia saat ini hanya dapat menyediakan informasi jumlah sel telur yang tersisa, tetapi tidak dapat memberikan gambaran secara detail mengenai kualitas sel telur. (lis)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved