Eksklusif Warta Kota
Kompol Rosana Albertina Bicara Pengalaman Jadi Kapolsek di Masa Pandemi
Selama 50 tahun usia Polres Metro Jakarta Barat, inilah pertama kalinya polwan dipercaya menjabat sebagai Kapolsek.
Saya enggak tahu Akpol itu apa, yang saya tahu ingin jadi polisi wanita. Saya enggak tahu ada polisi brigadir, polisi perwira, tahunya ya setelah tes.
Lalu saya ke Semarang, tiga setengah tahun pendidikan, lulus di tahun 2007. Penempatan pertama (saya) di Polda Sulawesi Tenggara.
Penempatan itu bukan masalah karena saya belajar hidup dari keluarga yang sederhana. Jadi saya enggak masalah ditempatkan di mana saja. Saya bisa menyesuaikan kondisi.
Saya enam tahun di sana (Sulawesi Tenggara). Jabatan mulai dari Kanit, KBO Binops, Pejabat Sementara (pjs) Kapolsek, Kapolsek, terakhir sebelum saya ke PTIK itu Kasat Reskrim selama dua tahun.
Di PTIK setahun enam bulan, lulus dapat penempatan di Bareskrim, di Jakarta.
Apa yang terbayang saat ditugaskan ke Jakarta?
(Di) Bareskrim (saya) ditempatkan di Direktorat IV Narkoba Polri. Di situlah awal mulanya saya belajar tentang penyidikan dan penyelidikan tindak pidana narkoba.
Kemudian saya dapat kesempatan masuk ke tim satgasnya. Bersama tim satgas, kami mengungkap 135 kg (kilogram) sabu.
Dari situ saya ditawari lagi, "Kau mau pindah enggak, pindah ke mana terserah?".
Mungkin melihat posisi saya sudah berkeluarga, saya dikasih kesempatan mau pindah ke Kendari lagi atau bagaimana (keluarga Kompol Ocha berada di Kendari--red). Tapi saya bilang mau ke Polda Metro, akhirnya dapat kesempatan itu, dikabulkan. Jadi saya pindah ke Polda Metro ditempatkan ke Polres Metro Depok sebagai Wakasat Narkoba.
Di sana itulah awal mula satu ton itu (sabu di Anyer, Banten). Pada waktu jabat Wakasat Narkoba depok itu, kami diberi informasi oleh bapak Kapolres bahwa ada info dari polisi Taiwan, ada empat orang Taiwan masuk ke Indonesia yang diduga akan melakukan peredaran narkoba.
Satu bulan dua minggu kami melakukan penyelidikan, enggak pulang-pulang.
Kemudian sewaktu penyelidikan di lokasi kami tidur di mobil. Kami tidak boleh tidur di hotel karena kalu di hotel enggak bisa memantau keluar-masuknya orang. Jadi kami tidur di mobil, bersama-sama anggota lainnya. Kemudian secara gantian berjaga, mata tidak ada yang boleh tertutup, harus ada satu orang di antara kami yang melek.
Sampai pada akhirnya di bulan Juli itu, ada transaksi narkoba sabu sebanyak 1 ton. Dari situ saya bersama dengan rekan-rekan mendapatkan pin emas dari bapak Kapolri.
Setelah itu kami diberikan apresiasi oleh pimpinan karena mendapat perhatian dari bapak Presiden (Joko Widodo) karena itu adalah pengungkapan terbesar waktu itu ya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/kompol-rosana-albertina1.jpg)