Edukasi Kesehatan
Kapan Sebaiknya Anak disunat? Ini Saran Ahli
Orangtua memegang peranan penting ketika memutuskan kapan anak disunat.
Penulis: LilisSetyaningsih | Editor: LilisSetyaningsih
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Orangtua memegang peranan penting ketika memutuskan kapan anak disunat.
Ada banyak pendapat tentang kapan sebaiknya anak disunat.
Sebagian menyatakan saat bayi saja, ada juga yang menunggu agak besar.
masalah ini bahkan bisa menimbulkan perdebatan suami dan istri ketika memutuskan kapan waktu yang tepat anaknya akan disunat.
Dalam talkshow yang diselenggarakan Wartakotalive dan Tribun Network, Kamis (21/10/2021) ada penanya mengaku bingung ketika memutuskan kapan anaknya disunat. Anaknya kini berusia 1,5 tahun.
Baca juga: VIDEO Sunat Pada Pria Ternyata Tidak Pengaruh ke Kepuasan Pasangan di Ranjang, Simak Selengkapnya
Baca juga: Edukasi : Khitan Berpengaruh pada Kesehatan, Apakah juga pada Kepuasan Hubungan Seks?
Istrinya berkeyakinan semakin kecil usia anak disunat semakin baik. Sementara sang suami ragu, karena ada yang berpendapat sebaiknya menjelang usia 12 tahun.
Medical Sexologist dr. Binsar Martin Sinaga FIAS mengatakan anak disunat bisa juga dilihat kondisinya. Ada yang harus segera dilakukan karena menimbulkan kesakitan dan penyakit, ada yang bisa menunggu.
Ketika ada bayi dengan kondisi fimosis harus segera disunat untuk menghindari terjadinya infeksi.
Fimosis merupakan kondisi penyempitan dari ujung kulit depan penis atau bagian kulup tak bisa ditarik ke belakang.
Kondisi ini menyebabkan bagian kulit penis mudah kotor dan akhirnya terjadi infeksi saluran kemih.
Kondisi lainnya adalah terjadinya testis tidak turun (kriptokidisme), walaupun kondisi ini jarang terjadi. Kalau pun terjadi biasanya pada bayi prematur.
Dokter Binsar berpendapat bila anak laki-laki tidak dalam kondisi fimosis atau testis tidak turun, atau tidak ada penyakit yang mengharuskan segera disunat, sebaiknya menunggu anak lebih besar dulu.
Ia beralasan banyaknya kasus mikropenis (penis yang kecil) saat ini. Peluang keberhasilan untuk pengobatan mikropenis lebih besar jika didiagnosa pada masa bayi. Ketika sudah diperbaiki mikropenisnya, barulah si anak disunat.
“Usia terbaik diatas 6 tahun sampai 10 tahun. Tapi jangan usia 1,5 tahun,” jelas dr. Binsar.
Baca juga: 3 Penyebab Rasa Nyeri saat Berhubungan Intim, Ini Solusinya Menurut dr Binsar Martin Sinaga FIAS
Baca juga: Hati-hati Pria dengan Perut yang Buncit, Tanda Hormon Testosteron Turun. Gairah seks Ikut turun
Dokter Binsar praktek di Sex and Men’s Health Clinic Raditya Medical Centre di Jalan Margonda Raya, Kota Depok, Jawa Barat, MMAC Jakarta Selatan, dan Renata Clinic Bogor.
Klinik ini dapat menangani gangguan seksual, masalah infertilitas, termasuk micropenis.
Konsultasi juga dapat dilakukan jarak jauh dengan melalui Whatsapp ke nomor 0813 8231 7586 (hanya chat jangan menelpon).
Para orangtua sebaiknya menggali informasi terus perihal sunat atau khitan ini agar jangan sampai terjadi kesalahan menyangkut ‘masa depan’ anak.
Baca juga: Turunnya Hormon Testosteron Pada Pria Bikin Melorot Gairah Seks, tapi Ada Hal lain, Apa Saja?
Khitan Berpengaruh pada Kesehatan, bukan pada Kepuasan Hubungan Seksual Terhadap Pasangan
Ada banyak alasan pria atau orangtua yang punya anak laki-laki melakukan khitan atau sunat.
Bagi umat muslim, tentu saja berhubungan dengan ajaran agama Islam yang memerintahkan pria harus disunat.
Terlepas dari agama, banyak juga pria non muslim melakukan sunat, terutama untuk alasan kesehatan. Bahkan tidak sedikit yang beranggapan untuk kepuasan seksual kepada pasangan. Sehingga tidak sedikit pria dewasa yang belum disunat, diminta oleh pasangannya untuk disunat.
Namun apakah sunat memang benar bisa lebih memuaskan wanita dalam hubungan seksualnya?
Medical Sexologist dr. Binsar Martin Sinaga FIAS mengatakan, setelah diteliti ternyata sunat lebih berhubungan dengan kesehatan.
Pria yang dikhitan memiliki penis yang lebih bersih sehingga menjadi sehat.
Baca juga: Siapa Bilang Pria Selalu Perkasa Sepanjang Usia, di Atas 40 Tahun juga Mengalami Penurunan
Namun apakah berhubungan dengan kepuasan dalam berhubungan intim?
Dokter Binsar mengatakan, penis yang tidak disunat atau disirkumsisi dalam bahasa kedokteran akan berisiko menyimpan smegma.
Smegma adalah kumpulan minyak, keringat, kotoran, dan sel mati yang berbentuk seperti krim atau bercak putih di penis.
Pada pria yang tidak disunat, smegma ini berada di lipatan kulit penis yang membutuhkan perhatian ketika dibersihkan.
Sementara pada pria yang sudah disunat, lipatan kulit itu sudah terbuka sehingga lebih mudah dibersihkan.
Smega yang dibiarkan akan menyebabkan gatal, kemerahan, dan juga bengkak pada kepala penis.
Baca juga: Jangan Marah Dulu, bila Pasangan Mulai Ogah-ogahan Diajak Aktivitas Seksual, Cari Penyebabnya
Kesehatan iya, Kualitas Ereksi Tidak
Khitan sangat berpengaruh di kesehatan, namun bila pria perhatian terhadap kesehatan di sekitar penis, risiko kesehatan yang berhubungan dengan kebersihan di sekitar penis bisa dihilangkan.
Sementara khitan tidak berhubungan dengan kualitas ereksi. Khitan tidak mempengaruhi kualitas seksual, dan tetap sama memuaskan pasangannya.
“Khitan bila dihubungkan dengan kualitas seksual tidak ada hubungannya. Tidak berpengaruh terhadap ereksi, kualitas hubungan seksual, dan memuaskan pasangan wanita,” ujarnya.
Tiga hal menjadi dasar pertanyaan yang perlu dijawab secara ilmiah.
Dari hasil symposium andrologi dan seksual dan penelitian di seluruh dunia, disimpulkan ternyata tidak ada hubungannya antara sunat dengan kualitas ereksi, pemuasan pasangan dan kualitas seksual.
“Kualitas ereksi tetap memegang peranan kunci dan peran penting dalam kehidupan seksual pria,” katanya. Dalam hal ini adalah kekerasan atau kekakuan ereksi.
Baca juga: Menopause Pada Wanita Bukan Penghalang Untuk Mencapai Orgasme
Dokter Binsar mengatakan, selain kekerasan ereksi, yang menentukan kualitas hubungan seksual pada pria adalah kadar hormon testosteron, dan kesehatan pada pria. Hormon testosteron berhubungan dengan libido atau gairah seksual.
Pada pria yang kesehatannya menurun, memiliki hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, akan menyebabkan gangguan pembuluh darah.
Termasuk pembuluh darah di sekitar penis. Akibatnya akan menyebabkan kekerasan ereksi juga terganggu.
Bila tidak diobati akan menyebabkan tidak terjadi kekerasan ereksi.
Ereksi adalah reaksi pada kepala penis (gland) akibat rangsangan yang diterima baik penglihatan, penciuman, dan sentuhan. Kondisi ini terjadi karena pada kepala penis memiliki banyak sel saraf.
Seperti diketahui ada 4 derajat kekerasan ereksi, yakni tipe 1 seperti tape, tipe 2 seperti pisang, tipe 3 seperti sosis, dan tipe 4 seperti timun.
Pada ereksi derajat 1 dan 2 penetrasi sulit dilakukan apalagi memuaskan pasangan. Derajat 3 sudah dapat penetrasi, namun kepuasan belum tentu didapat. Kepuasan maksimal didapat pada derajat nomor 4 yang keras dan kaku seperti timun.
Mitos lain soal kualitas seksual juga berhubungan dengan ukuran penis pria. Ternyata ukuran juga tidak menentukan.
Dokter Binsar mengatakan, kesimpulan tersebut, didapat dari banyak sampel pria yang sunat dan tidak. Baik pria di Asia dan Eropa atau multi center.
Selain efek kebersihan, dan agama, pria yang dikhitan dan yang tidak dikhitan, memiliki seksual life yang sama. Kehidupan seksual pria dan pasangan tergantung pada kekerasan ereksi, libido, serta pencapaian orgasme nya.
Selain dikaitkan dengan kepuasan hubungan seksual juga dikaitkan dengan lebih mudah membuat hamil wanita.
Dokter binsar menegaskan, sunat juga tidak ada pengaruh dengan cepatnya hamil pasangan wanita.
“Sunat itu untuk kesehatan bukan untuk kepuasan,” tegasnya.
Ada banyak faktor terjadinya kehamilan. Baik pada pria dan wanitanya. Pada pria sangat terpengaruh pada kualitas sperma dan sel telur pada wanita.
Kualitas sperma juga dipengaruhi banyak faktor. Tapi, pria yang disunat atau tidak bukan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas sperma. (lis)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/sunat-laser1104.jpg)