Kolom Trias Kuncahyono

Emaknya Setan

Setan atau syetan yang dalam bahasa Ibrani disebut ha-Satan atau “sang penentang”, dalam bahasa Arab disebut Syaithon, “sesat atau jatuh.”

Istimewa
Iblis atau Iblīs adalah julukan nenek moyang bangsa jin, yang memiliki nama asli Azazil. Dia-lah mahkluk pertama yang membangkang pada perintah Allah. Foto: Ilustrasi. 

Terorisme adalah politik kematian. Bukan kematian yang menjadi tujuan di sini—melainkan ketakutan akan mati.

Kuasa teroris menebarkan technology of fear, lewat dramatisasi kematian (Budi Hardiman, 2011).  Bunuh satu orang dan buatlah seribu orang ketakutan! Begitu kredo mereka.

Maka penemuan 35 kilogram bahan baku peledak jenis TATP (Triacetone Triperoxide, senyawa peroksida) yang dikenal dengan sebutan The Mother of Satan, di Desa Bantar Agung, Sindangwangi, di kaki Gunung Ciremai, Majalengka, Jawa Barat, oleh Densus 88 menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Dengan The Mother of Satan, Emaknya Setan ini, para teroris menebarkan ketakutan dan kematian.

Dan, dengan menemukan The Mother of Satan itu, Densus 88 telah memutus sebagian dari alat penebar teror kematian.

Temuan itu berdasarkan pengakuan terduga teroris Imam Mulyana—narapidana teroris Jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang ditangkap pada tahun 2017. 

The Mother of Satan, Emaknya Setan  adalah bom kimia yang sangat berbahaya dan memiliki daya ledak tinggi (high explosive), dan menimbulkan efek korban jiwa banyak.

Karena daya ledak dan efeknya yang dahsyat itulah, maka diberi nama The Mother of Satan. Bom jenis ini banyak digunakan oleh ISIS di Irak dan Suriah, karena daya hancurnya yang mematikan.

“Emaknya setan”, tidak hanya dalam bentuk bahan peledak saja, yang mampu menghancurkan badan wadak manusia.

Tetapi, sebagaimana sifat setan dan iblis, yang memiliki kekuatan penghancur, maka “emaknya setan” pun mampu merusak nalar dan budi manusia.

Bila hasrat setan sudah terbentuk dalam tubuh manusia, maka orang akan kesetanan, misalnya dalam beragama (dalam pengertian fanatisme terhadap agama yang berlebihan); juga dalam politik menggunakan kekuatan setan untuk kepentingan diri, termasuk korupsi.

Seperti itulah yang terjadi, dari dulu hingga kini.

Dokumen Persaudaraan Manusia di Abu Dhabi menyatakan, sedari dulu hingga saat ini, agama (religion) masih digunakan sebagai komoditas politik dan berbagai kepentingan lainnya.

Yang terbukti dapat menjadi sarana destruktif dan menakutkan untuk mengobarkan pertikaian hingga berkembang menjadi perang saudara seperti terjadi di Suriah, Irak, India, dan beberapa negara di kawasan Timur Tengah, Afrika, bahkan Eropa.

Kekuatan penghancur The Mother of Satan, Emaknya Setan, memang sangat dahsyat.***

Baca kolom Trias Kuncahyono selengkapnya: Emaknya Setan

Sumber: WartaKota
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved