Kolom Trias Kuncahyono
Emaknya Setan
Setan atau syetan yang dalam bahasa Ibrani disebut ha-Satan atau “sang penentang”, dalam bahasa Arab disebut Syaithon, “sesat atau jatuh.”
Karena pendengki, maka mungkin saja mereka menebarkan kedengkian. Karena penyesat, tidak aneh kalau mereka menyebarkan kesesatan dengan pernyataan-pernyataan yang jauh dari kebenaran, yang membuat gaduh.
Setan, iblis adalah sahabat dusta, kebohongan. Setan adalah dusta dan kebohongan itu sendiri. Mereka menjauhi kebenaran.
Maka terus terjadi pertempuran antara terang dan gelap, antara kuasa baik dan kuasa jahat yang halus, licin, dan berbahaya serta mematikan.
Tetapi, iblis, setan tidak bekerja sendirian, melainkan menggunakan manusia sebagai alatnya.
Manusia yang menjadi alat iblis, setan adalah manusia-manusia yang mendewa-dewakan kegelapan; yang dirasuki oleh nafsu akan kekuasaan; yang dikuasai oleh rasa dengki dan iri; yang tidak bisa menerima kekalahan dengan legawa.
Karena itu terus berusaha menebarkan penyesatan, kedengkian, kegelapan, kedustaan; yang kemaruk akan harta maka itu nekad korupsi.
Setan bisa merasuki manusia, bahkan sangat mudah. Maka muncullah “orang-orang yang kesetanan” dalam segala bidang kehidupan manusia, termasuk dalam bidang politik dan ekonomi, serta agama.
Ketika seseorang kesetanan, maka dia tercermar sifat dan kualitas setan. Orang-orang yang hidupnya dikuasai nafsu itulah yang mudah tercemar sifat dan kualitas setan.
Padahal, orang beragama semestinya dalam dirinya mewarisi sifat dan kualitas Tuhan, bukan sifat dan kualitas setan.
Maka John Kerry (dulu Menlu AS) pernah mengatakan, dunia tidak dapat membiarkan menyebarnya “setan” dari kelompok ISIS.
Memang, seluruh sejarah manusia sarat dengan perjuangan sengit melawan kekuatan kegelapan.
III
Di tengah perjuangan melawan kekuatan kegelapan itu—antara lain terorisme—eh, tiba-tiba ada yang usul agar Densus 88 dibubarkan.
Bukankah dalam hal memerangi terorisme, Densus 88 ada di garda terdepan? Mengapa harus dibubarkan?
Bukankah dunia—termasuk Indonesia—harus diselamatkan dari patologi terorisme. Dunia harus diselamatkan dari cengkeraman iblis, setan terorisme.
Lewat terorisme, manusia mampu membunuh sesamanya dengan kepala dan hati yang dingin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/setan-trias.jpg)