Kamis, 21 Mei 2026

Kolom Trias Kuncahyono

Trias Kredensial Bersama Dr Baskara T Wardaya SJ: Jas Merah

Ada yang mengatakan, jas merah artinya jangan melupakan sejarah. Ada lagi yang mengatakan, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Tayang:
YouTube
Dr Baskara T Wardaya SJ, sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 

Kedua, mengapa masih ada yang mempersoalkan bahaya laten komunis, alasannya ada tiga. 

Pertama, biasanya orang tidak paham teori Karl Marx itu. Hanya dengar-dengar saja. Karena tidak paham, yang dilihat hanya negatifnya. 

Tapi gagasan bahwa sebagai komunitas manusia itu kita hendaknya saling berbagi, saya kira itu ide yang sah. Dan saya kira setiap agama mengajarkan itu. 

Kedua, itu adalah bagian propaganda negara-negara kapitalis, yang memang mengunggulkan hak milik pribadi, dan merasa setiap ide untuk berbagi itu adalah ancaman. 

Ketiga, saya kira mas Trias sendiri tahulah, teman-teman tahulah di Indonesia ini ada kepentingan politik sesaat di balik itu. Mengibliskan atau mensetankan satu kelompok supaya dia kelihatan baik. Tapi sebenarnya dia juga nggak beda jauh.

Kalau terorisme, radikalisme itu bisa nggak disebut bahaya laten?

Bahaya laten itu kan mengalami metamorfosa. Sebelum 1998, dulu yang rajin menyampaikan (soal bahaya laten komunisme) kan Orde Baru. Dengan mengatakan itu, orang menjadi ketakutan. Kalau takut kan mudah dikuasai.

Tapi tanpa sadar itu menggembosi prestasi mereka sendiri. Kan tahun 1965-1966 (PKI) sudah kalian habisi, kok sekian tahun kemudian muncul bahaya laten, berarti kalian gagal dong. Apa gunanya menghabisi nyawa 3 juta orang Indonesia, kalau sepuluh-dua puluh tahun kemudian masih ada.

Metamorfosa kedua adalah ketika Orde Baru sudah tumbang. Itu ada yang mendengung-dengungkan lagi. Saya kira tujuannya tidak banyak beda dengan yang pertama tadi. Itu menciptakan ketakutan bersama karena dia mempunyai kepentingan lain. 

Orang yang sering teriak-teriak begitu adalah yang punya kepentingan transnasional. Ada ideologi transnasional tertentu yang mau dia usung lalu dia memakai bahaya laten komunis sebagai jargon untuk menakut-nakuti.

Bagaimana caranya untuk mengatasi itu semua?

 Yang pertama, kita melawan ignorance dulu. Supaya tahu konteks lebih luas. Maksudnya, kita harus tahu juga dinamika internasional. Salah satunya, perang dingin waktu itu. Geng kapitalis benar-benar ingin menghancurkan geng sosialis. 

Nah, kita nggak sadar, secara teori kita memang bebas aktif alias netral. Tapi dalam praktek geng kapitalis kan tidak mengizinkan kita netral. Nah, itu harus kita diagnosis dulu. 

Kedua, kita juga harus tahu dinamika di dalam negeri. Siapa yang menggunakan istilah-istilah itu, untuk kepentingan apa, dan seterusnya. 

Yang lain, saya kira perlu mempelajari sejarah dulu, baik yang lokal, nasional, domestik maupun internasional supaya tahu ceritanya. Dari situ kita baru mengambil kesimpulan.

Sumber: WartaKota
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved