Kolom Trias Kuncahyono
Trias Kredensial Bersama Dr Baskara T Wardaya SJ: Jas Merah
Ada yang mengatakan, jas merah artinya jangan melupakan sejarah. Ada lagi yang mengatakan, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Awas bahaya laten komunisme! Begitu isu yang selalu gencar dikumandangkan pada momen-momen tertentu.
Looh, bukannya komunisme sekarang sudah sekarat di seluruh dunia? Di Indonesia bahkan komunisme sudah ditumpas habis oleh Orde Baru tahun 1966?
Namun, mengapa masih saja isu "bahaya laten komunisme/PKI" terus digaungkan?
Mereka yang gemar menggemakan isu itu jelas punya tujuan tertentu. Apa itu? Hanya melalui pemahaman akan sejarah, kita bisa paham maksud si penggaung isu tersebut.
Hanya melalui sejarah kita bisa lebih bijak dalam menyikapi masa kini dan masa depan. Historia magistra vitae, sejarah adalah guru kehidupan.
Trias Kredensial kali ini mengusung topik: Jas merah.
Ada yang mengatakan, jas merah artinya jangan melupakan sejarah. Ada lagi yang mengatakan, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Adalah Bung Karno yang pertama kali dulu melontarkan istilah jas merah.
Misalnya, sejarah pemberontakan G30S/PKI tahun 1965. Untuk membahas lebih jauh tentang bahaya laten PKI, arti pentingnya sejarah, Trias Kredensial menghadirkan sejarawan Dr FX Baskara Tulus Wardaya SJ, yang meraih gelar doktor di bidang sejarah dari sebuah universitas di Amerika Serikat.
Sejumlah buku karya Baskara T Wardaya antara lain Membongkar Supersemar (2007), Bung Karno Menggugat (2006), Suara di Balik Prahara (2011).
Berikut ini wawancara virtual antara Trias Kuncahyono dengan Baskara T Wardaya:
Komunisme sebagai simbol, ideologi, paham, dan teori dapat dikatakan sudah gagal. Tapi mengapa di negeri ini masih dikatakan sebagai bahaya laten?
Sebelumnya, ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan. Pertama, sebenarnya saya ini bukah ahli tentang komunisme. Saya bidangnya lebih sejarah. Tapi sejauh (yang saya) tahu, yang namanya negara komunis itu menurut Karl Marx, tidak ada.
Pertama, kata Karl Marx, masyarakat itu komunal dulu seperti suku-suku. Tahap selanjutnya ada kapitalisme dengan industri maju, dan seterusnya. Lalu di situ ada kelompok kaya-miskin, ada proletar, lalu ada revolusi.
Memang tujuannya negara komunis, tapi yang terjadi setelah itu adalah negara sosialis. Nah, di dalam sosialis itu yang dulu kaya, tidak kaya lagi karena ada kepemilikan bersama. Kalau itu terjadi, negara itu akan menjadi layu. Maka nanti akan terjadi negara tidak ada, itu masyarakat komunis.
Itu catatan saya yang pertama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/baskara-trias.jpg)