Berita Nasional

Bela Letjen Dudung soal Tudingan Komunis Susupi TNI, Ferdinand: Dia Tegas kepada Kaum Radikalis

Letjen Dudung membantah keras tuduhan Gatot Nurmantyo ihwal ada dugaan komunisme sudah menyusup ke tubuh TNI.

Editor: Feryanto Hadi
Tribunnews.com
Letjen Dudung Abdurachman 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-- Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman menjadi sorotan terkait raibnya beberapa patung di Museum Kostrad.

Namanya diperbincangan warganet hingga trending topik pada Selasa (28/9/2021)

Isu raibnya patung Soeharto, Sarwo Edhie, dan AH Nasution di Museum Kostrad pertama kali disampaikan oleh eks Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

Ketiga Jenderal tersebut diketahui punya hubungan kuat dengan peristiwa penumpasan Gerakan 30S/PKI.

Gatot pun heran kenapa ketiga diorama tersebut mendadak lenyap.

Baca juga: Jenderal Gatot Vs Dudung soal Kecurigaan TNI Disusupi PKI,Denny Siregar Cs Sebut Gatot Memecah Belah

Baca juga: Novel Baswedan Ungkap 19 Rekannya Jadi Korban Peretasan saat Mahasiswa Kepung Gedung KPK

Bahkan Gatot menyebut, hilangnya tiga patung itu merupakan tanda PKI sudah masuk ke TNI.

Letjen Dudung membantah keras tuduhan Gatot Nurmantyo ihwal ada dugaan komunisme sudah menyusup ke tubuh TNI.

Ia menyatakan, kesimpulan tersebut tidaklah benar.

"Ketika penarikan tiga patung itu kemudian disimpulkan bahwa kami melupakan peristiwa sejarah pemberontakan G30S/PKI tahun 1965, itu sama sekali tidak benar," kata Dudung dalam keterangannya, Senin (27/9).

Dudung menegaskan sebagai prajurit TNI, dirinya tidak akan pernah melupakan peristiwa G30S.

"Saya dan Letjen TNI (Purn) AY Nasution mempunyai komitmen yang sama tidak akan melupakan peristiwa terbunuhnya para jenderal senior TNI AD dan perwira pertama Kapten Piere Tendean dalam peristiwa itu," tambah dia.

Tiga patung itu dibuat oleh eks Pangkostrad AH Nasution pada periode 2011-2012.

Dudung menyebut, patung itu ditarik karena Nasution merasa berdosa karena bertentangan dengan keyakinan agamanya.

Oleh sebab itu, Dudung mengatakan seharusnya Gatot melakukan klarifikasi terlebih dahulu kepada dirinya sebelum menyampaikan pernyataan itu. Dalam agama Islam sudah dijelaskan ada istilah tabayyun.

Seharusnya Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo selaku senior kami di TNI, terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan bisa menanyakan langsung kepada kami, selaku Panglima Kostrad.

Baca juga: Partai Demokrat Terus-menerus Digoyang, SBY: Mungkin Hukum Bisa Dibeli, tapi Tidak untuk Keadilan

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved