Breaking News:

Pemilu 2024

Pemilu 2024, Hamdan Zoelva: Calon Pemilih Masuk ke TPS Harus Sudah Divaksin Covid-19

Hamdan Zoelva memandang perlu ada ketentuan calon pemilih menunjukkan sertifikat vaksin ketika akan masuk TPS di Pemilu 2024 jika pandemi belum usai.

Kompas.com
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Hamdan Zoelva, memandang perlu ada ketentuan calon pemilih menunjukkan sertifikat vaksin ketika akan masuk TPS pada Pemilu 2024 jika pandemi Covid-19 belum berakhir. Foto dok: Hamdan Zoelva saat menjabat Ketua MK. 

WARTAKOTALIVE.COM, SEMARANG -- Tren kasus Covid-19 di Tanah Air terus menunjukkan sinyal menggembirakan secara nasional.

Tingkat keterisian rumah sakit rujukan pasien Covid-19 juga menunjukkan penurunan signifikan, bahkan beberapa rumah sakit rujukan Covid-19 ada yang mulai menerima pasien umum.

Tentu kabar baik itu diharapkan terus berlangsung hingga gelaran Pemilu 2024 dan Pilpres 2024, agar hajatan besar politik Tanah Air itu bisa berlangsung aman, lancar dan sukses.

Namun sebaliknya, bagaimana jika situasinya tidak seperti yang diharapkan kita semua dan pandemi masih berlangsung?

Atas dasar itu, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva, memandang perlu ada ketentuan calon pemilih menunjukkan sertifikat vaksin ketika akan masuk TPS pada Pemilihan Umum 2024 jika pandemi Covid-19 belum berakhir.

"Kalau pandemi masih berlangsung, persyaratan itu perlu untuk mencegah klaster baru penularan Covid-19," kata dia kepada ANTARA di Semarang, Kamis (23/9/2021) pagi.

Ia menyinggung pula hari-H pencoblosan Pemilu pada 21 Februari 2024, kemudian ada pula yang mengusulkan pelaksanaan pesta demokrasi lima tahunan ini pada bulan April dan Mei.

Ketika menjawab apakah pelaksanaan pada Februari dan Mei tidak melanggar UUD NRI Tahun 1945 pasal 22E ayat (1), dia mengatakan, "Yang penting masih dalam kurun lima tahun tidak ada masalah."

Baca juga: JUNIMART: Penyelenggaraan Pemilu 2024 Dilaksanakan Minimalis, Kampanye Pilpres-Pileg Cukup 3 Bulan

Baca juga: Tinggal 4 Bulan Lagi Menyongsong Pemilu 2024

Hal terpenting, menurut ketua umum Pimpinan Pusat/Lajnah Tanfiziah Syarikat Islam ini, adalah disesuaikan dengan masa jabatan untuk jabatan yang dipilih melalui pemilu, yaitu presiden dan wakil presiden serta DPR, DPD, dan DPRD.

Sebelumnya, KPU mengusulkan penyelenggaraan pemilu pada 21 Februari 2024. Selain itu, KPU juga mengusulkan penyelenggaraan Pilkada serentak pada 27 November 2024.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Keadilan dan Persatuan, Said Salahudin, meminta DPR, pemerintah, KPU, dan Badan Pengawas Pemilu perlu berhati-hati dalam menentukan jadwal Pemilu 2024.

Berbicara di Jakarta, Senin (20/9), dia mengemukakan bahwa mengubah waktu pelaksanaan pemilu berpotensi inkonstitusional karena UUD NRI Tahun 1945 pasal 22E ayat (1) tegas menyatakan bahwa pemilihan umum dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil setiap lima tahun sekali.

Baca juga: Rumor Pemilu 2024 Diundur ke 2027, Wakil Ketua DPR: Jangan Termakan Isu yang Bisa Membuat Imun Turun

Ia menjelaskan bahwa frasa "lima tahun" itu mudah sekali menghitungnya, yaitu 12 bulan dikali lima. Kalau pada 2019 Pemilu dilaksanakan pada April, 60 bulan berikutnya jatuh pada April 2024.

Menurut Hamdan, semestinya semua pihak patuh dan konsisten pada perintah konstitusi karena negara harus dibangun dengan sistem yang ajek agar agenda kenegaraan lima tahunan bisa dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Kalau ada alasan yang bersifat force majeure, seperti bencana alam atau bencana nonalam yang terjadi di seluruh Indonesia atau ada unsur kedaruratan serta alasan khusus lainnya, kata Hamdan, itu bisa saja sebagai pertimbangan untuk memajukan atau memundurkan jadwal pemilu sehingga tidak harus pelaksanaannya pada April. (Antaranews)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved