Senin, 20 April 2026

Lifestyle

Anna Mariana : Tenun Warisan Budaya Leluhur Kebanggaan Indonesia

Misi gerakan ini adalah mendukung program pemerintah dalam mengurangi pengangguran melalui peningkatan produksi industri ekonomi kreatif

Penulis: MNur Ichsan Arief |
dokpri
Anna Mariana 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Perkumpulan Pecinta Pariwisata Indonesia (P3I), Komunitas Tekstil Tradisional Indonesia (KTTI ), Yayasan Cinta Budaya Kain Nusantara (CBKN), Asosiasi Tenun Songket Indonesia (ATSI), LaSalle College Indonesia , Dewan Keraton Nasional menggelar diskusi webinar, Selasa, (7/9/2021). Diskusi ini dalam rangka Memperingati Hari Tenun Nasional (HTN) pada 7 September dengan tema ‘Tenun Kebanggaan Indonesia’.

Acara ini dihadiri oleh pelopor tenun Indonesia, Prof. Dr. Anna Mariana SH., MH., MBA., sekaligus pembina P3I.

Kemudian, ada para raja dan sultan se-Nusantara dan Direktur Kemenparekraf Bidang Kriya, Kuliner, Design dan Fashion Yuke Sri Rahayu.

Baca juga: Bangkitkan Lagi Usaha Ibu Yuyun dan Ribuan Perajin Tenun Asal Bima, Sandiaga Uno Bidik Pasar Ekspor

Baca juga: Ayu Azhari Promosikan Kain Tenun Nusa Tenggara Timur ke Penjuru Dunia, Bentuk Cinta pada Indonesia

Lalu, Ketua Umum Kadin, Arsjad Rasjid, Ketua Umum Iwapi, Nita Yudi, hingga Ketua Umum P3I, Jeffry Yunus. Serta Awilutan, mantan Duta besar Meksiko dan pencinta budaya hingga para moderaton Lana Kuncoro, dr. Caty dan sebagainya. 

Seperti sudah diketahui, Anna dikenal sebagai sosok perempuan Indonesia pelopor HTN, yang juga pendiri KTTI bersama Yayasan CBKN, serta Asosiasi Perajin Tenun Songket Indonesia. Ia mendedikasikan diri dan berjuang untuk menaungi para perajin tenun songket binaannya yang ada di 34 provinsi di Indonesia. 

“Misi gerakan ini adalah mendukung program pemerintah dalam mengurangi pengangguran melalui peningkatan produksi industri ekonomi kreatif, serta pemberdayaan dan pembinaan perajin tenun tradisional Indonesia,” kata Anna. 

Usaha dalam menggagas peringatan Hari Tenun Nasional terus dilakukan sejak 24 Februari 2019, dengan deklarasi bahwa HTN ditetapkan pada 7 September. 

Baca juga: Tenun Ulos Taput Tembus Pasar Dunia, Ketua DPD RI Sarankan Pelaku UMKM Tingkatkan Standar

Baca juga: Rayakan HUT ke-45 Tahun, Disbud DKI Gelar Pameran Kain Tradisional Bertema Fauna di Museum Tekstil

Ini berkaitan dengan kajian secara akademi, serta hasil perumusan bersama dengan seluruh jajaran kementerian terkait, mulai dari DPR, Setneg, Kemenko PMK, Kemendikbud-Ristek, Kemenkumham, para ahli hukum dan budayawan

Sekolah tenun pertama didirikan di Indonesia pada 7 September 1929 oleh dr. Soetomo di Surabaya, Jawa Timur, dan sekolah tenun dikembangkan ke daerah-daerah lain. 

Sehingga dengan hasil kajian dan rumusan bersama tersebut, lantas menjadi bahan rekomendasi keputusan presiden secara resmi yang diajukan melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy tahun 2019 kepada Presiden Joko Widodo. 

“Ini bentuk upaya perjuangan pelopor budaya wastra tradisional tenun-songket Indonesia dalam memperjuangkan dan menyelamatkan, serta melindungi aspek legalitasnya dan tercatat resmi dalam administrasi negara dengan baik. Ini diakui sebagai aset warisan budaya leluhur tak benda asli milik bangsa Indonesia,” kata Anna. 

Anna juga mengimbau agar masyarakat bisa meningkatkan rasa kecintaan pada produk dalam negeri melalui tradisional tenun-tenun Indonesia. “Ini karya anak bangsa  yang menjadi  karakter dan jati diri bangsa. Kebanggaan Indonesia di mata dunia,” ujarnya.

Baca juga: GIVEAWAY Wagub DKI Jakarta Berhadiah Kain Batik Betawi, Caranya Bikin Pantun dan Video Lewat Tangga

Selain didukung P3I, Komunitas Budaya Wastra Tradisional Tenun Songket Indonesia, KTTI, CBKN, Asosiasi Tenun Songket Indonesia, LaSalle College, desainer, duta-duta besar luar negeri, gerakan ini turut didukung beberapa komunitas di luar negeri, mulai dari Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Paris, Milan Italia, Jepang, China, London, sampai Dubai, Arab Saudi.

“Mereka antusias dan sangat mendukung peringatan HTN. Harapannya, produk tenun dan songket Indonesia produknya bisa terus berkembang lebih baik dan di minati , di gunakan masyarakat Indonesia dan hingga manca negara , secara lebih luas,” tutur Anna.

Anna menambahkan, gerakan cinta tenun ini tidak  menyurutkan semangat perajin selama pandemi Covid-19. “Kita sama-sama memberi semangat kepada seluruh perajin untuk tetap dapat berkarya di masa pandemi dengan tetap menjaga prokes. Warisan budaya ini harus kita jaga. Kami juga mendorong pemerintah hingga Presiden, tak hanya memberi contoh namun secara implementasi sehari-hari terus semangat dan jadi kewajiban bersama menggunakan busana tenun-tenun tradisional karya anak-anak bangsa sendiri,” tukas Anna.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved