lifestyle
Ini Pentingnya Deteksi Dini dan Penanganan Kanker Prostat pada Pria Dewasa
Berdasarkan data dari Global Burden of Cancer (GLOBOCAN) pada tahun 2020, di Indonesia, kanker prostat menempati urutan kelima jenis kanker pada pria
Penulis: Ign Agung Nugroho | Editor: LilisSetyaningsih
"Kanker prostat juga dapat menyebar ke organ-organ terdekat, seperti kandung kemih, tulang atau organ lain. Kanker prostat yang menyebar ke tulang dapat menyebabkan nyeri dan patah tulang," ujarnya.
Dokter Agus menguraikan, deteksi dini pada kanker prostat dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu anamnesa dengan melihat riwayat medis dari pasien dan juga keluarganya.
Berikutnya, melakukan pemeriksaan fisik seperti misalnya Digital Rectal Exam (DRE) atau colok dubur untuk menilai dan melihat ukuran prostat, konsistensi, bentuk, serta ada atau tidaknya abnormalitas bentuk pada prostat.
Selain itu, juga dapat dilakukan pemeriksaan lab dengan melakukan pemeriksaan Prostate Spesific Antigen (PSA).
"Prostate Spesific Antigen (PSA) merupakan pemeriksaan darah yang penting pada skrining kanker prostat dengan nilai sensitivitas sebesar 21persen dan nilai spesifisitas sebesar 91persen," katanya.
"Nilai ini dapat meningkat apabila terdapat pembesaran pada prostat jinak, prostatitis, dan kondisi jinak lainnya," ujar dokter Agus.
Seseorang dikatakan memiliki risiko kanker prostat yang rendah, apabila mendapatkan nilai PSA dibawah 4 ng/ml.
Dan risiko terkena kanker prostat akan meningkat seiring dengan peningkatan nilai PSA.
"Skrining untuk kanker prostat dapat mulai dilakukan bagi pria berusia di atas 45 tahun dengan riwayat kanker prostat pada keluarganya dan pria berusia di atas 50 tahun yang memiliki keluhan gangguan berkemih," ujar dokter Agus.
Ia kembali menjelaskan, setelah melakukan diagnosa pada pasien, pasien yang terdiagnosa mengidap kanker prostat harus menjalani beberapa terapi tergantung pada stadium apa kanker ini terdiagnosa.
Pada kanker prostat stadium rendah, dapat dilakukan pemantauan ketat, operasi dan radioterapi.
Untuk kasus kanker prostat stadium lanjut yang terlokalisir akan dilakukan radioterapi pada pasien.
Sedangkan untuk kasus kanker prostat yang sudah menyebar, dilakukan terapi Hormonal dan juga kemoterapi.
"Agar menurunkan risiko kanker prostat, masyarakat dapat melakukan beberapa tindakan pencegahan seperti dengan melakukan diet sehat tinggi buah dan sayuran, memilih makanan sehat dibandingkan suplemen, melakukan olahraga secukupnya, menjaga berat badan, dan dengan melakukan konsultasi dengan dokter," kata dokter Agus.
Menyikapi hal tersebut, Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), memiliki berbagai pelayanan untuk meningkatkan deteksi kanker prostat, mulai dari medical check-up (MCU) prostat, Magnetic Resonance Imaging (MRI) 1.5 T, skrining PSA, sampai biopsi prostat robotik yang dapat meningkatkan tingkat akurasi deteksi kanker prostat.
Khusus dalam rangka Prostat Cancer Awareness Month (PCAM) atau Bulan Kesadaran Kanker Prostat, masyarakat dapat melakukan pemeriksaan PSA gratis mulai tanggal 13 September 2021 sampai 1 Oktober 2021 di RSUI. (ign)