Sabtu, 9 Mei 2026

Virus Covid19

Ini yang Harus Dihindari dan Menjadi Titik Lengah Penyebaran Virus Covid-19

Dokter spesialis paru, Erlina Burhan, mengungkapkan beberapa titik lengah yang mengakibatkan penyebran virus Covid-19 kin masif.

Tayang:
Penulis: LilisSetyaningsih | Editor: Valentino Verry
Warta Kota
Dokter spesialis paru, Erlina Burhan, meminta masyarakat untuk tidak lengah dalam menjalani aktivitas, jika tak mau terpapar virus Covid-19. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Saat ini kasus positif Covid-19 di Indonesia masih tinggi.  Walaupun dalam beberapa hari ini sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Dokter Spesialis Paru Konsultan Dr.dr.  Erlina Burhan, M.Sc,  Sp.P(K),  mengatakan, munculnya kasus varian baru jenis Delta dari India  di Indonesia yang cepat menyebar, menurunkan efikasi vaksin serta memperparah gejala.

Selain itu, protokol kesehatan yang tidak dijalankan dengan baik, serta belum terbentuknya kekebalan kelompok dari program vaksinasi,  diantara sebab melonjaknya kasus Covid mulai Juni ini.

Baca juga: Perpanjang PPKM Darurat, Jokowi: Saya Mengajak Seluruh Komponen Bangsa Bersatu Melawan Covid-19

Belum lagi,  terjadi titik lengah penyebaran yang seringkali tidak disadari masyarakat.

Titik lengah itu diantaranya saat makan bersama.

Saat makan bersama,  dipastikan masker dibuka, potensi terkena droplet (cairan atau cipratan liur yang dikeluarkan seseorang,Red) sangat tinggi.

Di acara pemakaman juga jadi titik  lengah.

Saat pemakaman kondisinya  bersedih, memberi support dengan berpelukan, sehingga tidak ada jarak yang mempertinggi potensi penularan.

Sebelum adanya PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan masyarakat),  kadang ada rapat tatap muka dan olahraga bersama misalnya bersepeda bersama.

Sehabis olahraga  bicara tidak jelas lalu orang menurunkan masker.

Baca juga: Bima Arya Sampaikan 4 Hal Kendala Vaksinasi Massal ke Pemerintah Pusat, Salah Satunya Insentif Nakes

Saat foto bersama kadang masker dilepas.

Belum lagi kegiatan-kegiatan pernikahan, silaturahmi di rumah-rumah, di pusat perbelanjaan yang membuat banyak terjadi penularan.

Mutasi virus

Erlina mengatakan, munculnya varian Delta yang lebih berbahaya harus disikapi dengan kebiasaan yang juga harus ‘bermutasi’.  

Varian Delta ini lebih menular, lebih berat dan menurunkan efikasi vaksin.

Secara ilmiah bila terlalu banyak yang terinfeksi maka virus ini pun akan bermutasi dan semakin meningkat.

Baca juga: Kebiasaan Baru Pandemi Covid, Anak-anak Kombes Ady Wibowo Dibiasakan Jadi Khotib Saat Salat Jamaah

Ketika virus masuk ke tubuh dan bisa melakukan kerusakan sel sistem kekebalan tubuh sehingga virus ini survive, virus ini bermutasi menjadi varian yang berbeda dari yang pertama.

Saat ini di Indonesia terbanyak ditemui varian Delta.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memberi nama varian dengan istilah alpha, beta, delta, dan lainnya untuk memudahkan.

Sebelumnya di Indonesia yang banyak ditemui varian Alpha.

Sebagai perbandingan tingkat keparahan dan penularan varian Alpha bila diberi bintang hanya satu, pada Delta menjadi empat bintang.

“Varian Delta mampu menembus kekebalan imun kita dan menurunkan efikasi vaksin," ujarnya.

Baca juga: Manfaatkan Media Sosial, NJ Mania Tetap Jalin Silahturahmi di Tengah Pandemi Covid-19

"Lebih cepat berkembang biak dan menimbulkan keparahan tinggi disemua usia," imbuhnya.

"Varian sebelumnya banyak menyerang orang tua, memiliki komorbid, sekarang pasien muda dan sehat juga bisa karena virus ini bisa mengelabui sisitem imun,” papar Erlina saat menjadi pembicara di acara PT Soho Global Health dengan topic Waspadai Lonjakan Covid-19, Ayo Lindungi Keluarga,  yang disiarkan lewat youtube belum lama ini.

Ia mengatakan, mau tidak mau, cara pencegahan Covid-19 dengan varian ini juga harus berubah dan meningkat.

Protokol kesehatan dengan 5M harus benar-benar dilakukan.

Bahkan kini Kemenkes juga mengumandangkan 6M dengan tambahan 1M, yakni meniadakan makan dan minum bersama.

Bila dulu masker disarankan menggunakan satu masker cukup, kini disarankan menggunakan masker ganda.

Baca juga: Kophi dan BenihBaik, Kolaborasi Bantu Jurnalis Terdampak Covid-19

Bagian dalam masker medis, lalu dibagian luar menggunakan masker kain.

Jangan menunda untuk melakukan vaksinasi.

Penggunaan masker ganda ini bisa membuat proteksi menjadi 95 persen, mendekati menggunakan masker N95.

Selain itu segera melakukan vaksinasi.

“Tidak perlu pilih-pilih vaksin. Ketika sudah ada jadwal segera lakukan vaksinasi. Pakai yang ada karena vaksin terbatas dan semua yang disediakan pemerintah sudah direkomendasikan WHO dan memiliki efikasi yang baik,” tuturnya.

Semakin banyak yang divaksin akan segera membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity.  

Baca juga: Pandemi Covid-19 Dorong Masyarakat Ubah Pola Makan Lebih Sehat

Di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Perancis sudah terbentuk herd immunity sehingga di tempat terbuka boleh tidak menggunakan  masker.

Sayangnya di Indonesia pembentukan herd immunity masih memerlukan waktu.

Kekebalan kelompok terjadi bila sudah 70 persen yang divaksinasi.

Di Indonesia dari 180 juta orang yang seharusnya divaksin  yang sudah melakukan dosis kedua belum sampai 10 persen.

“Tidak semata-mata mengandalkan vaksin, tetap Prokes dan meningkatkan sistem imun,” katanya.

Meningkatkan sistem imun dengan mengonsumsi nutrisi seimbang, istirahat cukup, olahraga, dan mengonsumsi vitamin serta suplemen. 

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved