Kolom Trias Kuncahyono

'Gusti Kulo Nyuwun Saras'

Para anggota komunitas Perempuan Berkebaya ini tidak hanya nembang, menyanyikan lagu itu, tetapi bahkan juga menari di sebuah pendopo.

Istimewa
Kolom Trias Kuncahyono "Gusti Kulo Nyuwun Saras". Foto ilustrasi. 

Terasa sangat mengena, refren lagu itu ditembangkan pada saat ini. Saat ketika bangsa ini sedang dalam kondisi yang sangat berat karena pandemi Covid-19 yang semakin menggila.

(meskipun ada yang lebih gila lagi, tidak percaya pada serangan Covid-19 dan malah memberikan komentar-komentar yang sama sekali tidak bijaksana, tidak menunjukkan keluhuran budi, keluhuran orang yang beragama.

Dan, ada pula yang mencari keuntungan politik dan bisnis di tengah derita bangsa).

II

Ilustrasi: Istimewa

Dengan melantunkan refren tembang itu, kita serasa sedang berdoa.

Ya, memang berdoa. Doa  dilangitkan oleh banyak orang pada saat ini, dengan cara masing-masing:

Oleh mereka yang berduka ditinggal orang-orang yang dicintai karena menjadi korban Covid-19, oleh mereka yang sedih karena ada anggota keluarga atau sanak famili yang sakit, oleh mereka yang kesulitan  mendapatkan obat-obatan atau vitamin, oleh mereka yang kesulitan sekali mendapakan oksigen, oleh mereka yang tidak mempunyai lagi pekerjaan, oleh mereka yang bisnisnya mati, oleh mereka yang sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan menghadapi situasi tak menentu sekarang ini, dan masih banyak lainnya yang menjadi alasan mengapa berdoa.

Manusia sudah mengenal doa sebelum ia mengenal Tuhannya.

Pada waktu manusia masih berada di zaman kegelapan, bisa jadi matahari, bulan, bintang, pohon-pohon besar atau batu-batu besar, atau roh-roh yang dituhankan, dianggap sebagai kekuatan yang bisa diminta pertolongan.

Manusia sudah mempunyai kebutuhan untuk meminta tolong kepada sesuatu yang lebih berkuasa dari dirinya, terutama ketika dirinya merasa lemah dan kalah terhadap sesuatu yang lebih kuat dan berkuasa.

Mengapa berdoa? Dengan berdoa, kita tidak merasa sendiri. Tetapi, dengan berdoa, kita merasa bahwa Tuhan bersama dengan kita; menemani kita dalam menghadapi situasi berat, termasuk situasi sekarang ini.

Karena kita tidak sendiri, maka kita menjadi berani; berani menghadapi persoalan hidup, sekalipun itu berat dan sulit, bahkan melampaui kemampuan manusia.

Itu berarti bahwa dengan berdoa, kita merasakan bahwa Tuhan selalu beserta kita.

Melalui doa, kita bisa menyampaikan segala hal kepada Tuhan. Kita bisa curhat apa pun; apa pun yang ada dalam hati kita, entah itu perasaan sedih, gembira, kecewa, puas, putus asa, lega, panik, frustasi, kemarahan, atau apa pun.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved