Catatan Ilham Bintang
KISAH Perjalanan Harmoko yang Selalu Menang Banyak, dari Menpen hingga Minta Lengser Pak Harto
Kisah Harmono selain pekerja ulet dan kreatif, juga bejo sehingga dikenal selalu menang banyak. Orang dekat dan yang pertama minta Pak Harto lengser.
Dua suhu pers Indonesia itu akhirnya sepakat menerima jalan tengah : Harmoko Ketua Dewan Pelaksana PWI priode 1973-1978.
Adapun BM Diah dan Rosihan Anwar dalam posisi menempati posisi sebagai Dewan Pembina.
Ketum Golkar Pertama
Dua puluh tahun kemudian Harmoko kembali mengulang suksesnya. Ia terpilih sebagai Ketua Umum Golkar periode 1993-1998.
Harmoko menjadi Ketua Umum keenam Golkar sekaligus orang nonmiliter pertama yang menduduki jabatan tersebut.
Lima pengurus sebelumnya semuanya militer. Mulai dari ketua umum pertama Jenderal Djuhartono, Suprapto Sukowati, Amir Moetono, Sudharmono, dan Wahono.
Setelah Pemilu 1997, yang dimenangkan Golkar dengan perolehan suara sekitar 74 % (PPP 22 % dan PDI 3 %) mengantarkan Pak Harto kembali terpilih untuk keenam kalinya sebagai Presiden RI. BJ Habibie sebagai Wapres.
Menjadi pengetahuan umum, kesediaan Pak Harto untuk kembali menjadi Presiden itu atas bujukan dan jaminan Harmoko bahwa "rakyat memang menghendaki Pak Harto lanjut".
Perolehan suara Pemilu Golkar memang menjadi bukti kuat. Tak terbantahkan. Secara formal legalistik.
Harmoko sendiri terpilih sebagai Ketua DPR/MPR-RI. Ketika krisis multidimensi menimpa Indonesia (Mei 1998) yang mendorong mahasiswa turun ke jalan menuntut reformasi, Harmoko bikin kejutan.
Dia pula dalam posisi sebagai Ketua DPR-RI yang meminta Pak Harto lengser. Perubahan sikap itu yang membuatnya selamat dari amukan gerakan reformasi.
Ia dianggap ikut berjasa menurunkan Pak Harto.
Tapi Golkar sempat diamuk massa, yang menuntut pembubarannya. Dianggap biang keladi kerusakan bangsa Indonesia. Sarang praktik KKN rezim Orde Baru.
Setelah reformasi, Harmoko kembali ke habitatnya sebagai wartawan. Mengisi hari-harinya dengan menulis secara teratur mengisi rubrik tetapnya "Kopi pagi" di Harian "Pos Kota".
Semasa hidup almarhum telah menulis beberapa buku. Antaranya, "Zaman Edan", dan "Nasihat Harmoko Untuk Anak-Anak dan Cucu-Cucu"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/mantan-menteri-penerangan-harmoko-dan-mantan-presiden-ri-soeharto.jpg)