Catatan Ilham Bintang
KISAH Perjalanan Harmoko yang Selalu Menang Banyak, dari Menpen hingga Minta Lengser Pak Harto
Kisah Harmono selain pekerja ulet dan kreatif, juga bejo sehingga dikenal selalu menang banyak. Orang dekat dan yang pertama minta Pak Harto lengser.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-- Saya berada di kota Medan, Sumatera Utara, untuk persiapan terakhir penyenggaraan Festival Film Indonesia 1983 ketika Presiden Soeharto mengumumkan anggota kabinetnya.
Kabinet Pembangunan IV (19 Maret 1983-22 Maret 1988) yang dibentuk Presiden Soeharto dengan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah.
Dalam jajaran kabinet itu termasuk nama Ketua Umum PWI Pusat Harmoko. Dia diangkat sebagai Menteri Penerangan Republik Indonesia, menggantikan Letnan Jendral TNI Ali Murtopo.
Rombongan Panitia FFI yang mengikuti pengumuman di layar TV, sontak bersorak gembira.
Bagi kalangan film Harmoko adalah insan film yang dulu berkiprah sebagai wartawan film. Punya hubungan erat dengan tokoh- tokoh penting perfilman Indonesia seperti Djamaluddin Malik, pendiri Parfi Surjo Sumanto, dan Usmar Ismail.
Baca juga: Sisi Lain Harmoko: Praktisi Pers dan Mantan Ketua Umum PWI yang Gemar Membreidel Media
Baca juga: Pak Harmoko Trending Topic, Ucapan Bela Sungkawa Mengalir, Netizen Mengenang Gaya dan Ciri Khasnya
Bahkan dengan H Misbach Jusa Biran, Soekarno M Noer, Harmoko sama-sama dedengkot komunitas Seniman Senen yang lagendaris itu. Jangan lupa Harmoko juga seorang karikaturis.
Menang Banyak
Jabatan Menteri Penerangan jelas bergengsi dalam kabinet. Akses bertemu Presiden sangat terbuka luas.
Penunjukan Harmoko sebagai Menpen, akan semakin menarik jika dihubungkan dengan kisah di baliknya.
Jendral Ali Murtopo ternyata sempat meminta kepada Presiden untuk tetap sebagai Menpen. Namun, Pak Harto tak mengabulkan. Alasannya fungsi Menpen berat sementara Pak Ali waktu itu menderita sakit jantung.
Ini mengulang kisah keberuntungan Harmoko yang menurut istilah populernya selalu "menang banyak " dalam situasi sulit.
Sebelumnya juga begitu ketika terpilih sebagai Ketua Umum PWI Pusat (1973-1978) hingga dua priode (1978-1983).
Pemilihan Harmoko mengakhiri kepengurusan kembar PWI hasil kongres XIV tahun 1970 di Palembang, Sumatera Selatan.
Selama satu priode itu (1970-1973) PWI punya dua pengurus. Ada PWI Ros (Ketua Umum Rosihan Anwar- Sekjen Jakob Oetama ) dan PWI Diah (Ketua Umum BM Diah - Sekjen PG Togas).
Pada Kongres XV PWI Desember 1973 di Tretes, Jawa Timur, PWI kembali kepengurusan tunggal.
Baca juga: DAFTAR 10 Instansi Pelamar CPNS 2021 Terbanyak, 10 Instansi Pelamar CPNS 2021 Terkecil, Sabtu 4/7
Baca juga: PROFIL Harmoko, Sosok yang Minta Soeharto Mundur, Meniti Karir Jurnalis, Politisi, hingga Menteri
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/mantan-menteri-penerangan-harmoko-dan-mantan-presiden-ri-soeharto.jpg)