Breaking News:

Banjir Bekasi

Diguyur Hujan 1 Jam Selasa Lalu, Pondok Hijau Permai Masih Banjir, Warga Sebut Bisa 3 Hari Surutnya

"Ini mendingan, baru sehari air yang tadinya sepaha, sekarang siang sudah jadi sebetis. Kemarin pas Februari, baru surut setelah 5-7 hari.

Penulis: Rangga Baskoro | Editor: Dedy
Wartakotalive.com
Andika Tama, Ketua RT 05/03 Pondok Hijau Permai menyebut kawasan Perumahan Pondok Hijau Permai menjadi satu-satunya wilayah yang masih tergenang banjir akibat tingginya intensitas hujan pada Selasa (15/6/2021) malam kemarin. 

WARTAKOTALIVE.COM, RAWALUMBU --- Kawasan Perumahan Pondok Hijau Permai (PHP), Kecamatan Rawa Lumbu, Kota  Bekasi menjadi satu-satunya wilayah yang masih tergenang banjir akibat tingginya intensitas hujan pada Selasa (15/6/2021) malam kemarin.

Meski hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut hanya beberapa jam saja, namun butuh beberapa hari agar genangan air surut.

"Hujannya sih sejam atau dua jam, tapi kalau banjir di sini bisa sampai 3 hari," kata Andika Tama, Ketua RT 05/03 PHP saat ditemui di lokasi, Rabu (16/6/2021).

Banjir saat ini adalah untuk yang ketiga kalinya dirasakan warga PHP, sejak Januari 2021 lalu.

Andika mengatakan genangan yang terjadi pada hari ini lebuh cepat surut dibandingkan banjir di bulan Februari.

"Ini mendingan, baru sehari air yang tadinya sepaha, sekarang siang sudah jadi sebetis. Kemarin pas Februari, baru surut setelah 5-7 hari. Waktu itu tinggi karena banyak sampah yang nyangkut, kalau sekarang mah sedikit sampahnya," ujarnya.

Pria yang tinggi di kawasan tersebut sejak tahun 1995 ini, paham betul akan kondisi wilayahnya.

Ketika masih banyak resapan air dan belum banyak perumahan, sedikit pun kawasan tersebut tak pernah dilanda banjir.

Hingga kemudian, pembangunan kawasan yang tak memperhatikan lingkungan menyebabkan warga kebanjiran sejak 2005 lalu.

"Dulu masih banyak sawah, perumahan sedikit, banyak kebun. Jadi resapan airnya banyak walaupun kawasan ini emang ada di cekungan. Awal banjir itu 2005, pas sudah banyak perumahan, gedung, ruko," kata Andika.

Sebenarnya, terdapat polder yang terletak di belakang kawasan komplek.

Embung tersebut bahkan cukup besar untuk menampung debit air.

Namun, minimnya resapan air menyebabkan air tertahan.

Kali buatan yang dibuat oleh pengembang malah membuat kondisi banjir semakin parah.

"Padahal polder itu dalamnya 14 meter, kalau luasnya mungkin 1 hektar kurang ya. Kemarin saya lihat air itu penuh masuk polder malah setelah hujan. Banjirnya ini justru setelah hujan," tuturnya.

Sementara itu, Lurah Pengasinan Juhasan mengklaim banjir tersebut terjadi karena beberapa saluran air yang tersambung menuju polder dipenuhi sampah.

"Kenapa sekarang banjir, artinya sekarang folder itu tidak maksimal, kemarin pintunya itu tidak bisa terangkat, jadi air yang dari tiga kelurahan itu masuk semua, nggak masuk ke polder," kata Juhasan.

Penanganan banjir di kawasan PHP membutuhkan kerjasama antara wilayah, terutama kelurahan Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan yang berbatasan langsung dengan PHP.

Permasalahan sampah yang menyumbat saluran menuju polder harus terintegrasi agar genangan air di sekitar wilayah cepat menyurut, termasuk program pembuatan saringan sampah di saluran air.

"Tentunya saya sudah berkoordinasi dengan Jatimulya, bahkan sebulan yang lalu sampah yang ada di perbatasan itu kita angkat. Baik pematusan gabungan kabupaten dengan kota. Kebetulan ini intensitas hujannya sangat besar, poldernya tidak bisa menampung, sehingga air tidak maksimal masuk ke dalam, sehingga air masuk kesini. Jadi ini limpahan air dari Bojongmenteng, Rawalumbu, sama Mustikasari," tuturnya. 

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved