Kesehatan
50 Persen Lebih Perempuan Didiagnosa Kanker Payudara Tidak Pernah Periksa Kesehatan
Kanker payudara merupakan kanker terbanyak yang diderita wanita yaitu sebanyak 24,5 persen dari seluruh kanker.
Penulis: LilisSetyaningsih |
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia dan di Indonesia.
Berdasarkan Globocan 2020, diperkirakan 1 dari 5 orang menderita kanker di dunia.
Kanker payudara merupakan kanker terbanyak yang diderita wanita yaitu sebanyak 24,5 persen dari seluruh kanker.
Di Indonesia, kanker payudara merupakan kanker tertinggi dengan angka kejadian 44 per 100.000 penduduk.
Angka angka kematian penderita kanker payudara 15,3 per 100 penduduk berdasarkan data BPJS Kesehatan.
Baca juga: Syukuran HUT ke-75 Persit Kartika Chandra Kirana, Ada Pemeriksaan Mamografi Cegah Kanker Payudara
Baca juga: VIDEO: Yayasan Kanker Payudara Indonesia dan Persit KCK Gelar Talkshow Edukasi untuk Istri TNI AD
Dokter spesialis bedah onkologi dr Bob Andinata SpB(K)Onk menjelaskan, payudara merupakan organ berupa kelenjar yang terdapat pada dada.
Payudara terdiri atas kelenjar dan saluran susu, lemak, saraf, pembuluh darah serta jaringan penunjang lainnya.
Kanker berbeda dengan tumor.
Secara umum, tumor yakni benjolan yang dapat disebabkan peradangan, metabolik atau neoplasma (pertumbuhan sel-sel baru).
Tumor dapat bersifat jinak maupun ganas. Tumor ganas ini disebut sebagai kanker. Penyebab dari kanker payudara belum diketahui secara pasti.
"Kunci keberhasilan program pengendalian kanker payudara adalah skrining yang diikuti dengan pengobatan yang optimal," ujar Bob Andinata.
Baca juga: Dipilih Jadi Duta Love Pink, Chelsea Islan Terinspirasi Perjuangan Ibu dan Penderita Kanker Payudara
Baca juga: Cerita Chelsea Islan Selalu Menemani Ibunya yang Divonis Mengidap Kanker Payudara
Bob Andinata mengatakannya saat acara virtual peluncuran buku 'Kenali dan Hadapi Kanker Payudara - Panduan Lengkap untuk Pasien Kanker Payudara', Rabu (16/6/2021).
Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia. WHO tahun 2004, lebih dari 50 persen perempuan terdiagnosa kanker tidak pernah melakukan skrining.
Skrining merupakan upaya untuk menemukan suatu kondisi penyakit pada individu sehat tanpa gejala menggunakan pemeriksaan mudah dan cepat.
Sedangkan deteksi dini adalah suatu upaya menemukan penyakit sedini mungkin pada individu dengan gejala sehingga tingkat keberhasilan terapi lebih optimal.
Bob Andinata menjelaskan, beberapa cara diagnosis kanker payudara yakni Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari), Pemeriksaan Payudara Klinis (Sadanis) yang dilakukan dokter.
Pemeriksaan Radiologi (Mammografi dan/atau USG), biopsi tanpa pembedahan (Fine Needle Aspiration Biopsy atau Core Biopsy).
"Dengan skrining dan deteksi dini kanker payudara dapat disembuhkan," ujarnya.
Baca juga: Pria Juga Bisa Terkena Kanker Payudara, Ini Penjelasan Dokter Mulai dari Gejala dan Faktor Risikonya
Baca juga: KABAR Gembira, Pengobatan Kanker Payudara, Kanker Prostat, Kanker Paru-paru dan Usus Cukup 1 Minggu
Dia mengatakan, deteksi dini kanker payudara penting dilakukan karena semakin dini kanker payudara terdeteksi, makin banyak pilihan terapi.
Serta makin tinggi angka kesembuhan, makin rendah total biaya pengobatannya.
Untuk mengedukasi deteksi dini pada kanker payudara, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) meluncurkan buku Kenali dan Hadapi Kanker Payudara, Panduan Lengkap untuk Pasien Kanker Payudara.
Buku disusun oleh Retno Kustiati-penyintas kanker payudara, tim editor yaitu Bob Andinata, SpB(K)Onk, dr Alif Rizky Soeratman SpB, dan dr Jeremy Romeo Partahi.
Buku terdiri atas 4 bab yaitu Skrining dan Deteksi Dini, Kanker Payudara Stadium Dini, Kanker Payudara Stadium Lanjut, Keadaan-keadaan Khusus pada Kanker Payudara.
Tulisan itu terwujud berkat kerjasama Pusat Kanker Nasional Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) dan Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi (PERABOI).
Serta mendapat dukungan dari PFIZER melalui progam ASA DARA.
Baca juga: Kesedihan Taylor Swift Ungkap Ibunya Derita Kanker Payudara Serta Tumor Otak dan Jalani Kemoterapi
Baca juga: KABAR DUKA, Penyanyi Fera Queen Jebolan X Factor Meninggal Dunia, Lima Tahun Derita Kanker Payudara
Dr R Soeko W Nindito D MARS, Direktur Utama RS Kanker Dharmais mengatakan, masyarakat harus terus diedukasi mengenai Sadari dan Sadanis.
"Sosialisasi ini bertujuan agar masyarakat paham tentang penanganan yang harus dilakukan bila ternyata dalam tubuhnya kedatangan “tamu yang tidak diundang” ini," kata Nindito.
Dia mengatakan, berbekal pengetahuan cukup dan pemahaman tentang kanker payudara, maka masyarakat akan lebih berani melakukan kunjungan deteksi dini.
Serta pengobatan dan upaya medik untuk mengatasi kanker payudara di fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit.
Ketua YKPI, Linda Agum Gumelar berharap, buku tersebut menjadi panduan lengkap tentang kanker payudara, yang dibutuhkan masyarakat awam dan pasien kanker payudara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/buku-kanker-payudara1166.jpg)