Info Balitbang Kemenag
Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Tak Berjalan Efekfif di Masa Pandemi Covid-19
Sejumlah siswa kelas 7 SMP N 2 Kairatu Barat mengatakan bahwa, mereka cenderung merasa jenuh dan cepat bosan saat belajar sendiri di rumah.
Penulis: Ichwan Chasani | Editor: Ichwan Chasani
Pendidikan Agama Kristen adalah salah satu mata pelajaran yang bertujuan untuk membentuk pribadi yang berakhlak dan berkarakter yang kuat.
Untuk itu, diharapkan setiap guru PAK mampu merancang dan menciptakan pembelajaran/media pembelajaran yang menarik sehingga tujuan pembelajaran boleh tercapai dengan baik.
Teknologi komputer memungkinkan seseorang untuk mengeksplorasi data dan informasi secara lebih luas dan praktis. Perkembangan teknologi juga memberikan inovasi dalam proses pembelajaran dan juga membuat pembelajaran menjadi menarik.
Pengembangan media pembelajaran ditujukan untuk menarik perhatian siswa dan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar.
Media pembelajaran berbasis multimedia interaktif dapat menarik minat siswa dengan memanfaatkan teknologi komputer.
Oleh karena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan media pembelajaran Pendidikan Agama Kristen berbasis multimedia interaktif sebagai penguatan pendidikan karakter.
Pada pengembangan ini, peneliti menggunakan model pengembangan ADDIE yang terdiri dari Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation, namun dalam hal ini peneliti hanya sampai ke tahap uji kelayakan tanpa mengukur tingkat efektifitasnya.
Hasil dari penelitian ini berupa software yang ada dalam DVD room ataupun Flashdisk yang dapat diinstall dan disave di komputer.
Hasil pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif menggunakan Powerpoint, Corel draw, Filmora ini digunakan untuk menyampaikan pelajaran Pendidikan Agama Kristen tingkat SMP agar peserta didik dapat belajar mandiri, meningkatkan pemahaman dan untuk mendorong kreativitas pendidik dalam mengembangkan media pembelajaran.
Temuan penelitian
Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa ketidakefektifan pembelajaran di masa pandemi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang bersumber dari pendidik, peserta didik maupun orang tua.
Dari 421 orang guru Pendidikan Agama Kristen yang diobservasi, ada sebanyak 204 orang (48,5 persen) yang melaksanakan pembelajaran online, 205 orang (48,7 persen) yang menerapkan pembelajaran penugasan (cukup memberikan tugas tanpa ada interaksi), sebanyak 4 orang (1 persen) yang mengatakan tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka dan sebanyak 8 orang (1,9 persen) yang menjawab tidak ada aktifitas pembelajaran.
Permasalahan yang dihadapi oleh guru Pendidikan Agama Kristen dalam pembelajaran di masa pandemi bervariasi, mulai dari masalah sarana-prasarana, masalah ekonomi dan masalah keterbatasan pemahaman dan keterampilan ITC guru. Hal ini juga terjadi di SMP Negeri 2 Kairatu Barat.
Guru Pendidikan Agama Kristen di SMP Negeri 2 Kairatu Barat hanya memberikan penugasan kepada peserta didik. Setiap hari Senin guru akan mengunjungi peserta didik ke rumah masing- masing untuk memberikan tugas dan membagikan materi pembelajaran dalam bentuk kertas fotokopi.
Pada hari Jumat berikutnya guru akan kembali datang untuk mengumpulkan tugas-tugas yang telah diberikan.
Terbatasnya sumber belajar atau media pembelajaran sebagai penghubung antara guru dengan siswa membuat pembelajarn kurang efektif.
Sejumlah siswa dan orang tua sangat mengeluh terhadap tugas-tugas yang diberikan oleh guru kepada peserta didik.
Peserta didik merasa bosan dan sangat cepat jenuh ketika belajar mandiri di rumah yang diperhadapkan dengan tugas-tugas yang sangat banyak. Hal ini sangat berhubungan dengan moral atau karakter peserta didik selama belajar dari rumah.
Peserta didik tidak kreatif dalam mengerjakan tugas, tidak bersemangat saat belajar mandiri di rumah, tidak disiplin atau kurang bertanggung jawab dalam menyelesaikan tuga-tugas yang sudah diberikan oleh guru. Hal ini sering menimbulkan permasalahan antara orang tua dengan anak saat belajar di rumah.
Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan akademik, keterbatasan ekonomi yang mengharuskan orang tua untuk tetap beraktifitas di dusun (kebun), membuat orang tua tidak maksimal bahkan tidak mampu mendampingi anak saat Belajar Dari Rumah (BDR).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/rakor-ptkkn.jpg)