Breaking News:

Sidang John Kei

Kenapa John Kei Tertawa Divonis 15 Tahun Penjara? Berikut Ini Penjelasan Lengkap Kuasa Hukumnya

Di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Barat, pada Kamis (20/5/2021) Jhon Kei tertawa saat divonis 15 tahun penjara oleh majelis hakim. Kenapa?

Penulis: Desy Selviany | Editor: Panji Baskhara
istimewa
Kenapa John Kei tertawa saat divonis 15 tahun penjara oleh majelis hakim di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Barat? Foto: John Kei 

Hal serupa disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terkait putusan tersebut.

Diketahui putusan tersebut jauh lebih ringan dari tuntutan JPU. Sebelumnya JPU menuntut John Kei 18 tahun penjara atas kasus pembunuhan berencana yang menjeratnya.

Sebelumnya dalam dakwaan John Kei didakwa dengan lima pasal berlapis yakni Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman pidana penjara 20 tahun.

Selain itu, John juga dijerat Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan, Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal dunia, dan Pasal 2 ayat 1 UU Darurat RI Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api dan senjata tajam.

Namun, dari putusan hakim, hanya dua pasal primer yang terbukti menjerat John Kei. Yakni Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dan Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan.

John Kei dinyatakan tidak terbukti dalam Pasal 2 ayat 1 UU Darurat RI Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api dan senjata tajam. 

Anak Buah John Kei Divonis 13 Tahun Penjara

Tiga anak buah John Kei dijatuhi vonis 13 tahun penjara oleh majelis hakim.

Ketiganya dianggap terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap anak buah Nus Kei Yustus Corwing Rahakbau alias Erwin.

Putusan itu dibacakan oleh Ketua Majelis Hakim Kamaluddin di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar) Kamis (20/5/2021).

Ketiga anak buah John Kei yang divonis 13 tahun penjara ialah Henra Yanto Notanubun, Semuel Rahabinan (Teco), dan Bony Haswerus Sebudun.

Seperti dua terdakwa anak buah John Kei lainnya, ketiga terdakwa dianggap terbukti bersalah atas Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Lalu keduanya juga terbukti bersalah atas pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, juga Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Mereka juga terbukti bersalah atas Pasal 2 ayat 1 UU darurat RI tahun 1951 tentang kepemilikan senjata tajam.

Dalam sidang, Kamaluddin menyatakan terdakwa Henra Yanto Notanubun, Semuel Rahabinan (Teco), dan Bony Haswerus Sebudun terbukti secara sah lakukan tindak pidana pembunuhan berencana yang dilakukan bersama.

Mereka juga dianggap terbukti melakukan penganiayaan terhadap orang hingga luka berat dan membawa senjata penikam secara bersama-sama.

"Maka menjatuhkan pidana para terdakwa tersebut Henra Yanto Notanubun, Semuel Rahabinan (Teco), dan Bony Haswerus Sebudun dengan pidana masing-masing selama 13 tahun," ujar majelis hakim.

Atas putusan tersebut, baik terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengatakan pikir-pikir atas putusan hakim.

Diketahui sebelumnya putusan itu jauh lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut ketiganya dengan 16 tahun penjara.

Tuntutan itu dibacakan JPU dalam sidang di Ruang Sidang Utama, PN Jakarta Barat, Selasa (11/5/2021).

Dijaga Ketat Polisi

Sidang kasus pembunuhan terhadap anak buah Nus Kei, Yustus Corwing Rahakbau alias Erwin terus bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Kali ini, sidang yang beragendakan vonis atas terdakwa John Kei pada Kamis (20/5/2021) dikawal ketat aparat Kepolisian bersenjata laras panjang.

Pantauan Wartakotalive.com Kamis (20/5/2021) sampai pukul 13.30 WIB sidang belum kunjung dimulai.

Meskipun perserta sidang, jaksa penuntut umum (JPU), dan kuasa hukum sudah berada di ruang Kusumah Atmadjah.

Majelis hakim terlihat belum tiba di ruang sidang.

Padahal para terdakwa salah satunya John Kei yang berada di Polda Metro Jaya sudah terkoneksi secara video conference.

Sejumlah petugas polisi berjaga di PN Jakbar dengan membawa senjata laras panjang.

Mereka berjaga di ruang sidang utama dan memeriksa perserta yang masuk ke ruang sidang.

Kasat Samapta Polres Metro Jakarta Barat AKBP Agus Rizal didampingi Kapolsek Palmerah Kompol Agus Widar mengatakan ada sekira 100 personel polisi yang dikerahkan.

Dimana 60 personel dari Polres Metro Jakarta Barat dan sisanya 40 personel dari Polsek Palmerah.

Penjagaan dibagi menjadi tiga bagian yakni di pintu gerbang PN Jakbar, di pintu utama, dan di dalam ruang sidang.

"Di depan ruangan sidang kami backup petugas pengadilan. Siapa saja yang masuk akan digeledah petugas pengadilan apabila ditemukan adanya massa yang bawa barang mencurigakan akan kami amankan langsung," tandasnya.

Diketahui sebelumnya John Kei dituntut 18 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Ia dituntut Pasal 340 KUHP terkait pembunuhan berencana terhadap Yustus Corwing Rahakbau alias Erwin di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat.

Minta Dibebaskan Hakim

Terdakwa pembunuhan John Kei minta dibebaskan oleh Majelis Hakim.

Ia berharap pembebasannya akan menghapus stigma negatif orang Indonesia bagian timur.

Hal itu disampaikan John Kei saat membacakan pledoi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Selasa (18/5/2021).

Dalam pledoinya, John Kei tidak mengakui tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menyebut telah terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap Yustus Corwing Rahakbau alias Erwin.

Sebab kata John Kei, sejak masuk bui tahun 2012 lalu, ia sudah bertobat dan tidak lagi memilih jalan kekerasan.

"Kiranya Yang Mulia dapat memberikan saya kesempatan untuk meneruskan niat pelayanan dan pertobatan saya," ujar John Kei.

Apabila bebas, ia juga berjanji akan membawa serta rekan-rekannya untuk bertobat dan menjauhi jalan kekerasan.

Khususnya kata John Kei, teman-temannya dari Indonesia bagian timur yang masih terjebak dalam dunia kejahatan akan dapat ikut bertobat dengannya.

John Kei juga mengatakan bahwa bebasnya ia juga dapat membuat stigma negatif orang dari Indonesia bagian timur berubah.

"Setidak-tidaknya saya dapat memperbaiki stigma rasisme masyarakat Indonesia yang masih beranggapan bahwa orang timur adalah penjahat hanya karena kulit gelap dan rambut ikal, sehingga mereka bisa mendapatkan pekerjaaan yang lebih baik dan lebih layak," terang John Kei.

Maka dari itu John Kei berharap mendapatkan kebenaran dan keadilan atas peradilan ini.

Ia bersikeras merasa tidak bersalah atas tuduhan tindak pidana yang ditujukan kepada.

"Saya masih ada harapan pada peradilan ini, saya masih ada harapan pada Majelis Hakim Yang Mulia, para Wakil Tuhan, penentu kebenaran, penjunjung tinggi keadilan yang paling mutlak," tandasnya sambil mengutip doa nabi Daud.

Diketahui terdakwa John Kei dituntut pidana 18 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Ia dianggap terbukti dalam merencanakan pembunuhan yang membuat seseorang alami luka-luka.

Tuntutan itu dibacakan JPU di Pengadilan Negeri Jakarta Barat Selasa (11/5/2021). Dalam tuntutannya, JPU lebih banyak memakai berita acara pemeriksaan (BAP).

Atas hal tersebut, ia dikenakan pidana primer Pasal 340 KUHP junto pasal 55 ayat 1 junto Pasal 55 ayat 2 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan pasal lain mengikuti.

John Kei dituntut oleh JPU dengan hukuman 18 tahun penjara.

"Maka ajukan pidana kepada John Kei 18 tahun penjara," ujar JPU dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Barat Selasa (11/5/2021).

Kuasa Hukum Dituntut 18 Tahun Penjara

Daniel Farfar, Kuasa hukum John Kei yang didakwa terlibat dalam pembunuhan di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat dituntut 18 tahun penjara.

Tuntutan itu pun memicu kegaduhan hingga akhirnya sidang diskors Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar) pada Selasa (11/5/2021).

Dalam sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Daniel Farfar bersalah dan terbukti melakukan perencanaan secara bersama-sama hingga hilangkan nyawa orang.

Maka dari itu Daniel Farfar dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan pidana primer Pasal 340 KUHP junto pasal 55 ayat 1 junto Pasal 55 ayat 2 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan pasal lain mengikuti.

Maka dari itu atas perbuatannya Daniel Farfar dituntut oleh JPU dengan hukuman 18 tahun penjara.

"Maka diajukan pidana kepada Daniel Farfar 18 tahun penjara," ujar JPU dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Barat Selasa (11/5/2021).

Usai tuntutan itu, majelis hakim menskors persidangan. Sebelum diskors, majelis mempersilakan Daniel Farfar untuk memberikan pledoi atau pembelaan pada Senin (17/5/2021) mendatang.

Setelah majelis membubarkan diri, persidangan pun mulai riuh.

Para pendukung John Kei geram kepada JPU yang dianggap tidak adil.

"Eee bagaimana ini jaksanya tidak adil woy," bentak para pendukung John Kei.

Aparat kepolisian pun langsung meringsek masuk ke persidangan membubarkan penonton sidang.

Sambil berlalu, para peserta sidang tetap marah-marah ke luar ruang persidangan.

Selain di tribun persidangan, keributan juga terjadi di meja kuasa hukum. Beberapa kuasa hukum tidak terima dengan tuntutan tersebut.

"Jaksa zalim. Sekalian saja dihukum mati terdakwa. Terdakwa itu punya anak, kepala rumah tangga," ujar seorang kuasa hukum dengan nada tinggi.

Diketahui sebelumnya Daniel Farfar didakwa pasal berlapis oleh JPU Kajaksaan Negeri Jakarta Barat.

Ia didakwa Pasal 340 KUHP junto pasal 55 ayat 1 junto Pasal 55 ayat 2 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Kemudian pada dakwaan kedua, Pasal 338 KUHP junto Pasal 55 ayat 1 junto Pasal 55 ayat 2 KUHP tentang pembunuhan.

Dakwaan ketiga, Pasal 170 ayat 2 KUHP junto Pasal 55 ayat 1 KUHP tentang pengeroyokan menyebabkan korban meninggal dunia.

Keempat, Pasal 351 ayat 2 KUHP junto Pasal 55 ayat 1 junto pasal 55 ayat 2 KUHP tentang penganiayaan.

Kelima, Pasal 2 ayat 1 UU darurat RI 1951 junto Pasal 55 ayat 1 KUHP tentang kepemilikan senjata api dan senjata tajam.

Namun demikian, dalam proses persidangan, Daniel menampik dakwaan JPU.

Ia menolak terkait dengan matinya anak buah Nus Kei di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat.

Alibinya, Daniel mengaku hanya memberi kuasa kepada anak buahnya untuk menagih hutang Nus Kei sebesar Rp 2 Miliar kepada John Kei.

Ia menolak telah memerintahkan pembunuhan berencana atau penyerangan terhadap anak buah Nus Kei. 

Diramaikan Pendukung John Kei

Sidang kasus pembunuhan anak buah Nus Kei, yakni Yustus Corwing Rahakbau alias Erwin di Pengadilan Negeri Jakarta Barat memasuki agenda tuntutan.

Berbeda dengan sidang sebelumnya, sidang kali ini diramaikan sejumlah pendukung John Kei.

Mereka terlihat datang bersusulan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat Selasa (11/5/2021) siang.

Guna meminimalisir adanya hal yang tidak diinginkan, pihak Kepolisian terlihat memperketat penjagaan.

Sejumlah anggota bersenapan laras panjang ditempatkan di sejumlah titik strategis Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Bersamaan dengan hal tersebut, petugas security memeriksa barang bawaan pengunjung mulai dari sisi depan gedung Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Apabila tidak membawa barang berbahaya, pengunjung kemudian dipersilakan masuk.

Di depan ruang sidang Kusumah Atmadja, aparat kepolisian dengan senjata laras panjang pun terlihat berjaga.

Aparat Kepolisian tidak lagi mempersilahkan pengunjung lantaran ruang sidang dinyatakan penuh sejak pukul 13.00 WIB.

Sedangkan pada area bagian dalam ruang sidang, pengunjung terlihat sudah memenuhi ruangan sidang.

Meski begitu, protokol kesehatan tetap dijaga karena bangku yang terisi hanya setengahnya.

Hal itu membuat ruang sidang tidak padat meskipun dipenuhi pengunjung sidang.

Juru Bicara PN Jakbar Eko Ariyanto mengatakan rencananya sidang digelar pukul 13.00 WIB.

"Rencananya sidang jam satu siang, mudah-mudahan on time," ujarnya dikonfirmasi.

Namun sampai pukul 13.30 WIB terlihat sidang belum kunjung dimulai.

Agenda sidang kali ini harusnya ialah tuntutan Jaksa Penuntut Umun (JPU).

Terdakwa John Kei didakwa pasal berlapis atas kasus pembunuhan dan penganiayaan.

Dakwaan pertama, yakni pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Ketiga, pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dan terakhir pasal 2 ayat 1 UU darurat RI tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api dan senjata tajam.

Tak Pernah Niat Bunuh Nus Kei

Terdakwa pembunuhan John Kei menampik telah berencana membunuh Nus Kei.

Alasannya karena Nus Kei adalah orang kepercayaannya saat ia ditahan di Nusakambangan.

Hal itu diungkapkan John Kei saat menjadi saksi mahkota di persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (6/5/2021).

Menurut John Kei, meski Nus Kei pernah menghinanya hingga harga dirinya jatuh, John Kei tidak pernah berniat untuk membalas.

"Saya enggak bales, karena dia itu anak buah saya, seorang yang paling saya percaya saat saya di Nusakambangan."

"Dia yang menggantikan adik saya Tito Refra saat dia meninggal," jelas John Kei kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Bahkan kata John Kei, ia pernah berpesan kepada anak-anaknya agar tidak membalas perbuatan Nus Kei.

John Kei mengatakan bahwa Nus Kei dibawanya ke Jakarta dari Ambon sekira tahun 1997.

Saat itu Nus Kei, tinggal di rumah John Kei. Nus Kei juga dibelikan sepatu celana dan baju oleh John Kei.

Bahkan kata John Kei, Nus Kei sempat diberikan uang bulanan untuk menyewa kontrakan.

Dari lamanya sejarah dengan Nus Kei itulah John Kei mengaku sempat melakukan upaya mediasi berkali-kali dengan Nus Kei saat konflik utang Rp 1 miliar terjadi.

Namun saat itu upaya mediasi gagal, alasannya karena Nus Kei tidak mau datang ke rumah John Kei

Nus Kei hanya berjanji akan membayar utang Rp 1 miliarnya dengan nominal uang Rp 2 Miliar.

Namun meski begitu, John Kei bersikeras bahwa ia tidak pernah berencana menyerang atau membunuh Nus Kei.

Bahkan sampai saat ini, ia meminta anak-anaknya untuk tidak dendam dengan Nus Kei.

"Saya bilang ke anak-anak saya. Sudah Kei Papa sayang kamu, ampuni saja mereka, mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat, biarin saja mereka," bebernya.

John kei Menyesali Kematian Anak Buah Nus Kei

Persidangan kasus pembunuhan anak buah Nus Kei, yakni Yustus Corwing Rahakbau alias Erwin di Jalan Kresek Raya, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat pada Minggu (21/6/2020) menghadirkan John Kei sebagai terdakwa.

John Kei mengaku menyesal atas tewasnya Yustus Corwing Rahakbau alias Erwin.

Terlebih Erwin diungkapkannya merupakan saudaranya sendiri.

John Kei mengatakan, ia langsung menghubungi kuasa hukumnya Daniel Farfar usai menerima informasi dari televisi tentang kediaman Nus Kei dan anak buah Nus Kei yang diserang.

Daniel datang ke rumah John Kei di Titian, Bekasi, Jawa Barat.

Di sana John Kei menanyakan terkait kematian Erwin.

"Daniel datang, saya ngomong apa masalah yang terjadi hingga Erwin meninggal. Tapi baru mau tanya, belum sempat nanya sudah ada dar-dor, dar-dor (penembakan)," ujar John Kei dalam kesaksiannya di Pengadilan Negeri Jakarta Barat Kamis (6/5/2021).Dalam persidangan, John Kei mengaku disekap bersama anak buahnya oleh pihak Kepolisian usai pembunuhan Erwin. 

Ia juga mengaku bahwa anaknya dilibatkan oleh polisi dan dibawa ke Polda Metro Jaya.

Anaknya ditahan selama tiga hari di Polda Metro Jaya.

Padahal kata John Kei, anaknya hanya mahasiswa biasa.

Hal itulah yang membuat John Kei mau menandatangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

"Oleh polisi anak saya digebukin, ditangkap, dianiaya, dia enggak bersalah, maka saya tanda tangan saja biar anak saya pulang," jelasnya.

Meski merasa tidak terlibat dalam pembunuhan Erwin, John Kei tetap merasa menyesal dengan kematian adik sepupunya itu.

"Pertama saya menyesal akan kejadian ini, dan saya menyesal, saya juga marah ke lawyer kenapa begini," ungkap John kei.

"Lawyer pun mengaku nggak tahu, karena ini masalah anak-anak di lapangan. Pada intinya saya menyesal karena yang mati saudara saya," tandasnya.

Diketahui John Kei didakwa pasar berlapis oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Salah satu pasal yang didakwakan ialah Pasal 340 KUHP terkait pembunuhan berencana.

Ia diduga terkait dengan tewasnya anak buah Nus Kei di Jalan Kresek Raya, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, Minggu (21/6/2020) lalu.

Minta Dibebaskan Hakim

Sidang kasus pembunuhan anak buah Nus Kei, yakni Yustus Corwing Rahakbau alias Erwin di Jalan Kresek Raya, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat pada Minggu (21/6/2020) kembali bergulir.

Kali ini, John Kei dihadirkan sebagai saksi mahkota atas terdakwa, antara lain Yeremias, Bukon Koko Bukubun, Daniel Farfar, dan John Kei di Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada Kamis (6/5/2021). 

Dalam sidang tersebut, John Kei menampik merencanakan pembunuhan atau penyerangan kepada Nus Kei.

Pria itu pun mohon majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat membebaskannya dari segala tuduhan.

"Saksi kami, sebagai saksi mahkota memang tidak dapat menunjukan bahwa ada perintah dari Bung John untuk bunuh Bung Nus atau siapapun itu," ujar kuasa hukum, John Kei, Anton Sudanto usai persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada Kamis (6/5/2021).

Selain itu, John Kei mengaku dipaksa untuk tanda tangani Berita Acara Perkara (BAP) saat diperiksa sebagai tersangka oleh penyidik Polda Metro Jaya.

Hal itu lantaran anaknya bernama Rembo sempat ditahan polisi selama tiga hari.

Tujuannya agar John Kei segera menandatangani BAP tersebut.

Hal itulah kata Anton yang membuat BAP dengan pemeriksaan di persidangan berbeda.

"Jadi beliau minta langsung untuk dibebaskan. Sementara yang lain para terdakwa ada yang mengaku telah membacok, bacok seperti apa, berapa kali, itu perlu kita apresiasi," terangnya.

Namun demikian, Anton mengakui bahwa pada faktanya ada penyerangan hingga membuat anak buah Nus Kei tewas.

Oleh karena itu kata Anton, sudah pasti ada yang bertanggung jawab atas penyerangan tersebut.

Beberapa terdakwa juga sudah mengakui bahwa ada penyerangan tersebut.

Meskipun penyerangan itu dianggap tidak berencana.

Maka dari itu kata Anton, baik John Kei atau Daniel Farfar harusnya dibebaskan.

Karena John Kei hanya memberi surat kuasa penagihan utang.

Sementara Daniel Farfar hanya kuasa hukum yang memberi perintah menagih utang kepada anak buahnya.

"Paling anak-anaknya yang lakukan itu dan itu di luar kontrol. Bung John enggak ada perintah sama sekali jadi sudah harus bebas itu," jelasnya.

Menyerahkan Diri

Sempat buron selama tiga hari, anggota kelompok John Kei yang terlibat pembunuhan Yustus Corwing Rahakbau alias Erwin di Jalan Kresek Raya, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat pada Minggu (21/6/2020) akhirnya menyerahkan diri ke polisi.

Semuel Rahanbinan (SR) alias Tecco (35) mengungkapkan keputusan itu berangkat dari rasa khawatir akan aksi balas dendam yang dilakukan dari kelompok Nus Kei.

Hal tersebut diungkapkan Tecco saat memberi keterangannya sebagai saksi atas John Kei di Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada Selasa (4/5/2021).

Tecco mengakui bahwa ia ikut membacok Erwin saat di Duri Kosambi. Ketika itu kata Tecco ia ikut membacok Erwin karena korban yang membonceng Erwin, Frangky Rumatora alias Angki ketika itu terlihat mengeluarkan senjata tajam dari dalam saku celana.

Awalnya Tecco dan kelima rekannya mendapat tugas dari Daniel Farfar untuk menagih utang kepada Nus Kei yang tinggal di Green Lake City, Tangerang, Banten.

Namun, mobil yang ditumpangi Tecco nyasar hingga ke kawasan Duri Kosambi.

Sebagian dari mereka turun dari mobil sesampainya di Jalan Kresek Raya.

Mereka mengaku berniat menanyakan alamat kepada warga sekitar.

Namun saat sebagian keluar dari mobil, Tecco melihat dua pria menggunakan satu motor melintas di jalan tersebut.

Pria berawakan Ambon seperti mereka itu mendekat.

Kemudian Tecco melihat pria yang membawa motor mengeluarkan sebilah pisau dari kantung celananya.

Pisau itu hendak diarahkan ke Yeremias.

Melihat hal itu, Tecco berteriak kepada rekannya Yeremias bahwa Angki mengeluarkan pisau.

"Saya teriak ke Yeremias kemudian Yeremias keluarkan golok dan bacok ke arah mereka," jelas Tecco.

Keributan antara kedua kelompok inipun pecah.

Kelompok John Kei yang sudah mempersiapkan senjata tajam di mobil menyerang dua anggota dari kelompok Nus Kei.

Hal itu membuat satu anggota dari Nus Kei, Erwin meregang nyawa dan Angki alami jari putus akibat serangan kelompok John Kei.

Setelah itu, keenam terdakwa masuk ke dalam mobil dan melarikan diri.

Mereka sempat ke sebuah kantor milik Daniel Farfar di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Hingga kemudian sebagian terdakwa ditangkap di kantor tersebut, sementara sebagian lagi ditangkap di kawasan Perumahan Titian, Bekasi, Jawa Barat.

Sementara Tecco berhasil melarikan diri ke Depok, Jawa Barat.

Selama tiga hari pelariannya, Tecco merasa tidak tenang.

Ia khawatir keluarganya akan menjadi korban pembalasan dendam kelompok Nus Kei.

"Saya takut keluarga saya jadi korban makanya saya serahkan diri. Jadi takut ada serangan balasan," bebernya.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved