VIDEO Wawancara Eksklusif Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika, Bicara Program Hingga Kisah Cintanya
Kepada jurnalis Warta Kota Muhammad Azzam, Ambu Anne menjabarkan program-program kerja Pemerintah Kabupaten Purwakarta.
Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Murtopo
WARTAKOTALIVE.COM, PURWAKARTA -- Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika mengusung slogan "Melanjutkan Purwakarta Istimewa" saat terpilih menggantikan bupati terdahulu yang juga suaminya, Dedi Mulyadi.
Ambu Anne, panggilan akrab Anne Ratna Mustika, menyebut Melanjutkan Purwakarta Istimewa merupakan bentuk implementasi untuk meneruskan program-program yang berpihak kepada rakyat.
Lantas apa saja yang menjadi program kerja Ambu Anne sebagai Bupati Purwakarta periode 2018-2023?
Kepada jurnalis Warta Kota Muhammad Azzam, Ambu Anne menjabarkan program-program kerja Pemerintah Kabupaten Purwakarta.
Baca juga: VIDEO Ucapan Selamat HUT ke-22 WARTA KOTA dari Bupati Purwakarta dan Wakil Bupati Karawang
Baca juga: Bupati Purwakarta Ambu Anne Paling Suka Buka Puasa Pakai Gorengan dan Comhu
Ia juga berbicara pengalamannya yang sempat mendapat penolakan dari warga semasa Pilkada.
Anne Ratna Mustika membeberkan semua tentang pengalamannya memimpin Kabupaten Purwakarta dalam wawancara eksklusif Warta Kota di Kabupaten Purwakarta yang berlangsung di Kantor Bupati Purwakarta, Jalan Ganda Negara, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Anne Ratna Mustika mengaku tidaklah mudah menjadi Bupati perempuan pertama di Purwakarta karena ini sejarah pertama ada calon Bupati Purwakarta seorang perempuan.
Baca juga: Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika: Gaya Kepemimpinan Saya Beda dengan Suami
"(Semasa Pilkada) Ada beberapa kelompok masyarakat yang belum menerima tapi saya katakan saya punya niat baik. Bahwa pembangunan di Purwakarta harus berkesinambungan. Saya punya tagline, "Melanjutkan Purwakarta Istimewa" yang mana itu tagline kepemimpinan sebelumnya," ujarnya.
"Kemudian saya sosialisasikan program-program. Akhirnya saya menang dengan memperoleh suara terbanyak, 42 persen. Ini menjadi catatan sejarah dan semoga bisa menginspirasi perempuan-perempuan lainnya. Seperti yang tadi saya bilang, tantangan awalnya sungguh berat karena banyak yang tidak menghendaki, mereka bahkan sampai memotret dari sisi keagamaan, itu yang menjadi benturan. Tapi akhirnya proses bisa dilalui dan masyarakat (Purwakarta) menerima bupatinya seorang perempuan. Dan dengan program-program kerja yang saya lakukan, masyarakat merasakan betul manfaatnya, itu mungkin yang jadi masyarakat mulai menerimanya, ujarnya.
Baca juga: Selain Giat Panjatkan Doa Agar Pandemi Hilang, Bupati Purwakarta Minta Masyarakat Jangan Konsumtif
Anne Ratna Mustika mengaku tak pernah berpikir untuk mencalonkan diri menjadi bupati.
"Saya kan ibu rumah tangga, dan saya tidak punya backgroud (latar belakang) politisi atau aktivis. Saya hanya aktif di organisasi yang karena saya itu seorang istri bupati. Saya tidak pernah ikut organisasi mahasiswa dan lainnya, jadi backgroud saya betul-betul ibu rumah tangga yang mendampingi tugas-tugas suami saya waktu it, ujarnya..
Apalagi kata Anne Ratna Mustika saat suaminya Dedi Mulyadi menjabat sebagai Bupati Purwakarta, dia melihat bebannya sangat besar.
"Saya jadi bupati juga tidak pernah terbesit dalam benak saya, apalagi melihat suami saya waktu itu bebannya sangat besar, harus all out terjun memberikan pelayanan kepada masyarakat, on time jika masyarakatnya membutuhkan harus hadir. Terus apa yang dibutuhkan masyarakat harus dipenuhi. Bagi saya itu bukan hal mudah apalagi saya punya tanggung jawab "domestik". Saya biasa ngurus rumah, ngurus dapur, keluarga saya, orangtua saya, jadi tidak pernah kepikiran tapi memang didorong suami saya waktu itu, ujarnya.
Anne Ratna Mustika menceritakan alasan suaminya, Dedi Mulyadi mendukungnya untuk menjadi bupati.
"Jadi awalnya ada pertanyaan begini, "Apakah Kang Dedi (Mulyadi) tidak mempersiapkan kader untuk melanjutkan estafet kepemimpinan?". Nah sebetulnya suami saya dan partainya sudah mempersiapkan estafet kepemimpinan di Purwakarta, ada waktu itu wakilnya, Pak Dadang Koswara. Lalu Sekretaris Daerah Padil Karsoma juga, serta beberapa kader partai, ujarnya.