Selasa, 28 April 2026

Kesehatan

Protein Hewani dan 9 Asam Amino Esensial Cegah Stunting pada Anak-anak

Anak kondisi stunting dapat mengalami gangguan kognitif, penurunan sistem imun, serta obesitas dan hipertensi saat dewasa.

Penulis: LilisSetyaningsih |
The Telegraph
Ilustrasi anak-anak mengalami stunting atau tubuh pendek. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Stunting ditandai perawakan pendek pada anak-anak.

Namun bukan hanya dari segi fisik.

Anak kondisi stunting dapat mengalami gangguan kognitif, penurunan sistem imun, serta obesitas dan hipertensi saat dewasa.

Selain itu, obesitas dan hipertensi  menjadi penyebab utama penyakit tidak menular yang dapat menguras biaya untuk pengobatan.

Dampak stunting membuat semua negara di seluruh dunia berlomba menurunkan angkanya karena dianggap merusak generasi bangsa.

Bayangkan, jika stunting dibiarkan, maka akan muncul generasi bodoh dan penyakitan.

Sedangkan di Indonesia secara umum angka stunting masih 27,67 persen (2019).

Baca juga: Rotary Club Jakarta Sunter Centennial Gelar Gerakan Ayo Cegah Stunting di Cijeruk, Bogor

Baca juga: Prilly Latuconsina Kampanye Program Stunting Gara-gara Prihatin Gizi Buruk Anak

Anak-anak stunting itu  terdapat 18 provinsi, prevalensi stunting 30-40 persen.

Angka tersebut membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan kasus stunting terbesar di Asia Tenggara.

Ahli tumbuh kembang anak Prof Dr dr Damayanti R Sjarif SpAK  mengatakan, stunting harus dicegah sedini mungkin.

Hal itu berhubungan dengan pertumbuhan otak yang pesat pada 1.000 hari pertama kehidupan anak.

Sementara pertumbuhan otak sifatnya irreversible atau tidak bisa diperbaiki lagi bila terjadi kerusakan.

Stunting adalah perawakan pendek yang disebabkan kekurangan gizi jangka panjang.

Penyebab kekurangan gizi kronik karena asupan nutrisi tidak optimal dan kebutuhan nutrisi meningkat akibat penyakit.

Baca juga: Ajak Mahasiswa Atasi Masalah Stunting, Kemendikbud: Belajar Bukan Hanya di Kampus

Baca juga: Wapres Maruf Amin : Jumlah Balita Stunting Masih Tinggi, 2024 Harus Turun Jadi 14 Persen

Menurut Damayanti, anak stunting sudah terlambat untuk ditangani. 

Dia menjelaskan, 80 persen otak manusia terbentuk saat berusia  2 tahun.

"Bila diintervensi ketika lebih dari 2 tahun bisa naik, tapi tidak akan melewati teman-teman yang tidak stunting. Nanti akan bermasalah saat berebut sekolah dan kerja," ujar Damayanti.

Damayanti mengatakannya saat Media Scientific Session dan Product Launch Frisian Flag Primagro 1+  dan 3+, Untuk Dukung Potensi Tumbuh Kembang si Kecil, Kamis (15/4/2021).

Deteksi dini stunting

Pengukuran berat badan dan tinggi badan secara teratur jadi tatalaksana utama ntuk mengetahui gejala stunting.

Ketika anak masuk kondisi weight faltering atau kondisi kenaikan berat badan anak tidak adekuat bahkan stagnan, orangtua harus waspada.

Jikaa tidak segera diintervensi, bisa anak mengarah ke stunting.

Baca juga: TOT Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Stunting bagi SDM Kesos Resmi Dibuka

Baca juga: Bappenas RI Sebut Kabupaten Tangerang Patut Menjadi Program Sampel Stunting PSN

Damayanti memaparkan dalam 3 bulan pertama, bayi harus naik antara 750-900 gram per bulan, dan 600 gram  perbulan oada 3 bulan berikutnya.

Bayi dengan berat  lahir 3 kilogram ketika kontrol hanya naik menjadi 3,5 kg itu sudah weight faltering.

Kekurangan berat badan itu harus dicari penyebabnya apakah air susu ibu (ASI) tidak cukup atau penyebab lainnya.

Dia  menyarankan,  anak mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan, kemudian diikuti makanan pendamping Air Susu Ibu (MPASI)  bergizi tepat dan lengkap. 

Specialized Nutrition Director PT Frisian Flag Indonesia William Lumentut mengatakan,  kualitas asupan gizi masih kurang maksimal pada pertumbuhan anak Indonesia.

William mengutipnya dari hasil riset The South East Asian Nutrition Surveys (SEANUTS).

Menurut dia, asupan proporsi protein hewani lebih rendah 30 persen dibandingkan protein nabati yang dibutuhkan sejumlah 70 persen.

Padahal, agar anak dapat berkembang maksimal, harus mendapatkan asupan gizi seimbang.

Baca juga: Ini Cara Cegah Stunting Sejak Dini: Gizi, Pola Asuh dan Berasuransi

Baca juga: Wali Kota Jakarta Pusat Sebut Asupan Gizi Jadi Poin Penting Cegah Stunting

Salah satu kandungan penting dan kaya manfaat yang seringkali luput dari perhatian adalah sembilan asam amino esensial  (9AAE).

Proses tumbuh kembang anak pada 1.000 hari pertama kehidupan merupakan masa emas yang tidak bisa diulang.

Oleh karena itu dibutuhkan perhatian khusus dari orangtua terutama dalam penyediaan asupan gizi yang optimal.

Susu salah satu sumber protein hewani dengan kandungan 9AAE.

"Memahami pentingnya optimalkan tumbuh kembang anak di masa emas kehidupannya, Frisian Flag Indonesia terus berinovasi untuk bisa hadirkan produk-produk berkualitas," kata William.

William menjelaskan, asam Amino sering dianggap sebagai pembentuk blocks of life, berperan sangat penting dalam perkembangan holistik anak usia pertumbuhan.

"Mulai dari mendukung tulang dan gigi yang kuat, sampai dengan mendukung kesiapan mereka belajar," kata William Lumentut.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved