Vakcin Covid19

Satpam SMPN 11 Tangsel Positif Covid-19 Setelah Divaksin, Meninggal Dunia Tiga Pekan Kemudian

Satpam SMPN 11 Tangsel Positif Covid-19 Setelah Divaksin, Meninggal Tiga Pekan Kemudian. Walau Begitu RSU Tangsel Membantah Kematian karena Vaksin

Penulis: Rizki Amana | Editor: Dwi Rizki
Istimewa
ILUSTRASI Meninggal dunia 

WARTAKOTALIVE.COM, PAMULANG - Kabar mengejutkan datang dari Kota Tangerang Selatan (Tangsel). 

Seorang satpam SMPN 11 Kota Tangsel berinisial S dillaporkan meninggal dunia setelah terinfeksi virus corona covid-19 pada Minggu (28/3/2021).

S yang meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Umum Kota Tangerang Selatan (RSU Kota Tangsel) itu diketahui positif covid-19 setelah menjalani vaksinasi pada tiga pekan sebelumnya, tepatnya Rabu (3/3/2021).

Terkait hal tersebut, Humas RSU Kota Tangsel, Lasdo membenarkan kabar tersebut.

S diungkapkannya meninggal dunia saat menjalani perawatan intensif di RSU Kota Tangsel

Satpam SMPN 11 Kota Tangsel itu pun terkonfirmasi positif covid-19 sebelum dinyatakan meninggal dunia.

"Datang tanggal 28 maret malam itu sudah rujukan dari Puskesmas. Jadi sudah ada komunikasi antara Puskesmas dengan kita datang memang sudah dalam kondisi sakit berat," papar Lasdo saat ditemui di RSU Kota Tangsel, Pamulang, Tangsel pada Kamis (1/4/2021).

"Gejala-gejala yang muncul seperti covid-19, kemudian dilakukan konfirmasi dengan tes swab, hasilnya memang positif," tambahnya. 

Baca juga: Niat Bela Anaknya Ketika Hendak Ditangkap Polisi, Maudu Justru Tewas Ditembak Bersimbah Darah

Kondisi S lanjutnya, semakin memburuk setelah tim medis RSU Kota Tangsel mendiagnosis penyakit penyerta yang diderita S. 

Berdasarkan rekam medis, S mengalami keluhan pernafasan sejak dua pekan sebelumnya.

S katanya mengalami batuk berat hingga kesulitasn bernafas. 

Baca juga: Anies Bikin Gebrakan Baru, Gandeng NU Hadirkan Musala di Halte Transjakarta dan Stasiun Ibu Kota

"Jadi pasien datang sudah dalam kondisi dengan pasien covid-19. Kondisinya memang sudah sangat berat, dan menurut anamnesa memang beliau sudah mengeluhkan batuk-batuk semenjak dua minggu sebelum masuk rumah sakit," jelas Lasdo.

"Sudah ada gejala batuk. Tapi memang masalah nafas, dari anamnesa itu enam jam sebelum masuk rumah sakit. Dia sudah kesulitan bernafas," paparnya. 

Penyakit penyerta dari anamnesa yang diidap S dijelaskan Lasdo meliputi jantung, hipertensi, serta diabetes melitus.

Oleh karena itu, pihak menegaskan penyebab S meninggal dunia bukan dikarenakan penyuntikan dosis pertama vaksin covid-19. 

Baca juga: Anies Banggakan Jokowi, AtasJasanya Pengelolaan Stasiun di Ibu Kota Kini Dipegang Pemprov DKI

Sebab, apabila terdapat keluhan kesehatan pasca penyuntikan vaksin covid-19, gejala yang dialami pasien akan terlihat dalam kurun satu hari setelah vaksinasi. 

"Seharusnya tidak ada korelasi dengan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Karena kalau kita lihat kekebalan (tubuh) terbentuk sebulan setelah vaksin kedua. Dan data vaksin kedua itu tidak ada. Tapi beliau tanggal 28 (Maret 2021) datang ke kita dan sudah dalam kondisi buruk. Kalaupun vaksinnya sudah lengkap dua dosis itu belum terbentuk," ungkap Lasdo. 

"Dibilang akibat KIPI, harusnya waktunya enggak sejauh itu. Kan divaksin tanggal 3 Maret 2021, kejadian meninggal di tanggal 29 (Maret 2021). Kalau di KIPI itu kan cepat. KIPI paling lama 24 jam," jelasnya. (m23)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved