Minggu, 24 Mei 2026

Properti

Kampus Untirta Sindangsari Manfaatkan Konstruksi Laba-Laba

Sesuai namanya konstruksi laba-laba merupakan fondasi yang dibentuk dari rangkaian sirip berbentuk segitiga terbuat dari kombinasi besi dan beton.

Tayang:
Editor: Ichwan Chasani
ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/hp.
Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Fatah Sulaiman (kanan) bersama Gubernur Banten Wahidin Halim (tengah) dan Penasihat Untirta Farih Nuril (ketiga kiri) bersama staf meninjau kompleks kampus baru Untirta di Sindangsari, Serang, Banten, Rabu (2/10/2019). Kompleks kampus Untirta tersebut dibangun dengan biaya Rp600 miliar diatas lahan seluas 12 hektar dengan 11 gedung termasuk gedung Rektorat, Dekanat, Gedung Serbaguna, ruang perkuliahan, asrama mahasiswa, sarana olahraga, dan sejumlah laboratorium untuk merealisasikan Untirta sebagai pusat pengembangan IPTEK. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) di SIndangsari, Kabupaten Serang, Banten, yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo pada Kamis (4/3/2021)  memanfaatkan penggunaan konstruksi sarang laba-laba.

Pembangunan kampus baru ini terdiri dari 12 gedung yang sepenuhnya dibiayai dari pinjaman  Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/ IDB) senilai 56,9 juta dolar AS (setara Rp820,5 miliar), sebanyak 8 gedung menggunakan konstruksi sarang laba-laba.

"Penggunaan konstruksi sarang laba-laba karena selain merupakan karya anak bangsa juga karena konstruksi ini tahan gempa dan tentunya mempertimbangkan efisiensi mengingat gedung yang kami bangun hanya empat lantai," kata Ketua Tim Teknis dan PIC Civilwork Kampus Untirta Sindangsari, Rifky Ujianto, ST, MT dalam pernyataan resminya, Selasa (16/3/2021).

Seperti diketahui konstruksi sarang laba-laba merupakan inovasi yang patennya dipegang PT Katama. Sesuai namanya konstruksi  ini merupakan fondasi yang dibentuk dari rangkaian sirip berbentuk segitiga terbuat dari kombinasi besi dan beton. Apabila dilihat dari atas menyerupai jaring laba-laba.

Fondasi ini sudah banyak dimanfaatkan untuk bangunan-bangunan tahan gempa di  Aceh, Sumatera Barat, dan Bengkulu, bahkan juga dimanfaatkan untuk landasan glinding/ taxiway Bandara Juata Tarakan, Kalimantan Utara serta beberapa ruas jalan  di tanah ekstrim.

Bagi Fakultas Teknik Untirta hadirnya konstruksi peraih Upakarti ini menjadikan laboratorium nyata. Dosen dan Mahasiswa dapat praktik langsung sehingga  dapat membangkitkan motivasi untuk menciptakan inovasi-inovasi dibidang konstruksi.

Rifky mengakui hadirnya konstruksi sarang laba-laba membantu dosen dan mahasiswa untuk mempelajari konstruksi terutama untuk mengetahui kemampuannya untuk menahan gempa.

Bahkan, jelas Rifky, saat pekerjaan yang sudah mencapai 70 persen terjadi gempa di Kabupaten Serang sebesar 7,1 SR ternyata bangunan tidak mengalami kerusakan sedikitpun.

Rifky juga menjelaskan konstruksi sarang laba-laba didisain untuk bangunan enam lantai di daerah gempa. Sedangkan di kampus Untirta Sindangsari gedung yang menggunakan konstruksi ini hanya empat lantai.

Rifky juga menjelaskan mengapa hanya delapan dari dua belas bangunan saja yang menggunakan konsruksi sarang laba-laba, karena sebagian lahan di kawasan ini menggunakan sistem cut and fill (gali dan uruk) yang tidak cocok untuk konstruksi sarang laba-laba.

Rifky juga menjelaskan mengapa konstruksi sarang laba-laba merupakan inovasi karya anak bangsa. Hal ini dikarenakan seluruh material beton dan besi bisa di dapat di semua daerah di Indonesia, termasuk peralatan yang hanya menggunakan hanya stamper dan ekscavator.

Serta lebih penting lagi tenaga tukang yang dibutuhkan tidak membutuhkan lisensi khusus semua bisa mengerjakan. Serta yang lebih penting lagi proyek ini padat  tenaga kerja.

Efisien

Sedangkan menurut Ir. M. Arif Toto R, M. Eng, dari Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) yang juga perencana proyek ini, penggunaan konstruksi laba-laba ini selain pertimbangan kekuatannya terhadap gempa juga karena lebih efisien khususnya bangunan empat lantai.

Mengenai kekuatan konstruksi ini, Toto mengatakan berdasarkan hasil lokakarya nasional dan rekomendasi Ditjen CIpta Karya Kementerian PUPR, Balitbang Puskim Bandung, PU NAD, Universitas Syah Kuala dapat disebut konstruksi ini memiliki kemampuan memperkecil risiko terjadinya pergeseran tanah karena kekuatannya menggunakan daya dukung tanah itu sendiri yang dipadatkan.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved