Banjir Jakarta

UPDATE Tinggi Muka Air Jumat 5 Maret 2021: Dua Pintu Air di Jakarta Utara Status SIAGA 2

Update tinggi muka air (TMA) hari Jumat (5/3/2021) pukul 05.00 WIB menunjukkan, dua pintu air di Jakarta Utara dalam kondisi Siaga 2 atau siaga.

istimewa via Beritajakarta
Update ketinggian muka air Jumat (21/12/2020) di PA Marina dan PA Pasar Ikan menjadi siaga 2 atau siaga. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Update tinggi muka air (TMA) hari Jumat (5/3/2021) pukul 05.00 WIB menunjukkan, dua pintu air di Jakarta Utara dalam kondisi Siaga 2 atau siaga. 

Dua pintu air di Jakarta Utara tersebut adalah Pintu Air Pasar Ikan dan Pintu Air Marina Ancol.

Sedangkan 11 pintu air lainnya berstatus Siaga 4 atau normal.

Apa itu Siaga 2. Siaga 2 artinya bila wilayah genangan air mulai meluas, maka akan ditetapkan Siaga 2 atau siaga.

Video: Ini Kata Polda Metro soal Pembatalan Timnas U23 vs Tira Persikabo

Penanggung jawab untuk siaga 2 adalah Ketua Harian Satkorlak Penanggulangan Bencana Provinsi (PBP), yaitu sekretaris daerah.

Sejak minggu lalu di bulan Februari, kondisi tinggi muka air di Pintu Air Pasar Ikan Jakarta Utara berstatus Siaga 3 pascabanjir besar yang melanda Ibu Kota pada Sabu (20/2/2021) lalu.

Terpantau hingga pukul 05.00 dini hari tadi, kondisi 11 pintu air status Siaga 4 atau normal, termasuk di Bendung Katulampa, Bogor.

Baca juga: BERANI Tolak Perintah Junta Militer, Tiga Personel Polisi Myanmar Cari Perlindungan ke India

Baca juga: BREAKING NEWS: Mantan Muncikari Prostitusi Online Robby Abbas Ditangkap Polisi di Kamar Hotel

Kondisi itu diambil dari data terakhir yang dirilis oleh Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta pada Jumat (5/3/2021) sampai pukul 05.00 WIB. 

Dari 13 pintu air di Jakarta termasuk Bendung Katulampa di Bogor dan Pintu Air Depok, terpantau dari laman BPBD DKI Jakarta bahwa PA Pasar Ikan dan PA Marina Ancol hari ini berstatus Siaga 2 atau siaga.

Meski 11 pintu air statusnya Siaga 4, masyarakat diingatkan untuk tetap waspada, karena cuaca di sekitarnya semuanya mendung atau mendung tipis, termasuk cuaca di sekitar bendung Katulampa Bogor.

Hanya sekitar Pintu Air Karet yang kondisi cuaca terpantau terang.

Baca juga: BREAKING NEWS: Gempa 8,1 Magnitude dan Peringatan Tsunami di Laut Pasifik, Gempa Terkuat di Dunia

Untuk lebih jelasnya, silakan simak update tinggi muka air di 12 pintu air yang dirilis DInas SDA DKI Jakarta Jumat pukul 05.00 WIB, sebagai berikut:

Selengkapnya, update tinggi muka air di 13 pintu air adalah sebagai berikut:

1. Pesanggrahan ketinggian 75 cm dengan cuaca mendung tipis (Siaga 4)

2. Angke Hulu ketinggian 45 cm dengan cuaca mendung tipis (Siaga 4)

3. Katulampa ketinggian 30 cuaca mendung tipis (Siaga 4)

4. Depok ketinggian 110 cm cuaca mendung tipis (Siaga 4)

5. Manggarai ketinggian 620 cm terang (Siaga 4)

Baca juga: Andin Menghilang di Beberapa Episode Sinetron Ikatan Cinta, Ternyata Amanda Manopo Sakit Tifus

6. Krukut Hulu ketinggian 30 cm dengan cuaca terang (Siaga 4)

7. Karet ketinggian 290 cm terang (Siaga 4)

8. Waduk Pluit ketinggian minus 190 cm cuaca mendung tipis  (Siaga 4)

9. Pasar Ikan (kali/laut) ketinggian -195/211 cm cuaca terang  (Siaga 2)

10. PA Marina (kali/laut) ketinggian 205/204 cuaca mendung tipis (Siaga 2)

11. Cipinang Hulu ketinggian 120 cm dengan cuaca mendung tipis (Siaga 4)

12. Sunter Hulu ketinggian 130 cm dengan cuaca mendung tipis (Siaga 4)

13. Pulo Gadung ketinggian 330 cm dengan cuaca terang (Siaga 4).

Baca juga: RAMALAN SHIO Jumat 5 Februari 2021, Ada 5 Shio Bakal Berlimpah Rezeki, Termasuk Naga dan Tikus

Penjelasan Kepala BMKG tentang Periode Puncak Musim Penghujan

Seelumnya, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan, sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek, sedang berada di periode puncak musim penghujan.

BMKG memprediksi, periode puncak musim penghujan ini akan terus berlangsung hingga awal Maret 2021.

"Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi selama periode puncak musim penghujan ini."

 

"Yang diperkirakan masih akan berlangsung sampai dengan akhir Februari hingga awal Maret," ucap Dwikorita dalam konferensi pers online, Sabtu (20/2/2021).

Selain itu, dalam sepekan ke depan, wilayah Jabodetabek diprediksi akan diguyur hujan intensitas ringan hingga sedang.

"Sepekan ke depan, wilayah Jabodetabek umumnya berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang," tutur Dwikorita.

 

Dwikorita mengingatkan, potensi peningkatan intensitas curah hujan masih akan terjadi hingga 25 Februari 2021.

Peta curah hujan, lanjut Dwikorita, menunjukkan adanya dominasi warna kuning, penanda curah hujan akan berpotensi mengalami peningkatan.

"Jabodetabek sampai tanggal 25 Februari, gambarnya hijau dan kuning," ungkap Dwikorita.

4 Faktor

BMKG menyebut, ada beberapa hal faktor penyebab curah hujan ekstrem terjadi di Indonesia.

Faktor pertama, adanya aktivitas seruakan udara yang cukup signifikan dari arah Asia pada 18- 19 Februari.

"Seruakan udara dari Asia, aktivitas tersebut cukup signifikan."

"Mengakibatkan peningkatan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat," ucap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat konferensi pers virtual, Sabtu (20/2/2021).

Faktor kedua, lanjutnya, aktivitas gangguan atmosfer di zona ekuator, yang mengakibatkan adanya perlambatan dan pertemuan angin dari arah Asia, dengan angin dari arah Samudra Hindia.

"Ada pembelokan, perlambatan dan pertemuan angin, dari arah utara."

Baca juga: Marzuki Alie Siap Mubahalah Soal SBY Bilang Mega Kecolongan 2 Kali, Andi Arief Minta Menahan Diri

"Ini kebetulan terjadinya tepat melewati Jabodetabek."

"Saat membelok, melambat, di situlah terjadi peningkatan intensitas pembentukan awan-awan hujan."

"Yang akhirnya membentuk sebagai hujan dengan intensitas tinggi," ulas Dwikorita.

"Jadi angin yang dari utara itu terhalang, tidak bisa langsung menerobos ke selatan."

"Karena terhalang angin yang dari arah barat itu, sehingga angin dari utara itu membelok ke timur," tutur Dwikorita.

Saat laju angin dari utara ke selatan terhambat, di situlah terjadi peningkatan intensitas pembentukan awan-awan hujan, yang akhirnya menyebabkan terjadinya hujan di Jabodetabek.

Faktor ketiga, adanya tingkat kebasahan dan labilitas udara di sebagian besar wilayah Jawa bagian barat.

Kebasahan dan labilitas udara ini cukup tinggi, dan mengakibatkan peningkatan potensi pembentukan awan-awan hujan di wilayah Jabodetabek.

"Jadi ini tingkat labilitas dan kebasahan udara yang berpengaruh dalam peningkatan curah hujan," terang Dwikorita.

Terakhir, terpantau adanya daerah pusat tekanan rendah di Australia bagian utara.

Daerah pusat tekanan rendah di Australia ini membentuk pola konvergensi di sebagian besar Pulau Jawa.

"Jadi fenomena yang ada di Pulau Jawa ini juga dipengaruhi terbentuknya daerah pusat tekanan rendah di Australia bagian utara, yang membentuk pola konvergensi di Pulau Jawa."

"Ini juga berkontraksi pada peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek," paparnya. (soe/Fandi Permana)

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved