Breaking News:

kudeta di Myanmar

BERANI Tolak Perintah Junta Militer, Tiga Personel Polisi Myanmar Cari Perlindungan ke India

Tiga personel polisi Myanmar menyeberang mencari perlindungan ke India setelah menolak perintah Junta Militer Myanmar.

AFP/Tribunnews.com
Tiga personel polisi Myanmar menyeberang mencari perlindungan ke India setelah menolak perintah Junta Militer Myanmar. Foto ilustrasi: Sebuah kendaraan polisi menembakkan meriam air untuk membubarkan pengunjuk rasa selama demonstrasi menentang kudeta militer di Naypyidaw, Myanmar, pada 8 Februari 2021 (STR/AFP) 

WARTAKOTALIVE.COM, NEW DELHI - Gara-gara berani menolak perintah Junta Militer, tiga personel polisi Myanmar harus membayar mahal atas keputusannya yang berani itu.

Tiga personel polisi Myanmar mencari perlindungan ke negera India usai menolak perintah Junta Militer.

Tiga personel polisi Myanmar menyeberang ke Negara Bagian Mizoram di timur laut India untuk mencari perlindungan di sana, daripada menjalankan perintah yang diberikan oleh junta militer, kata seorang pejabat polisi India pada Kamis (4/3/2021).

Para pengunjuk rasa menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, berlarian saat diserang aparat militer dengan gas air mata (STR / AFP)
Para pengunjuk rasa menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, berlarian saat diserang aparat militer dengan gas air mata (STR / AFP) (AFP/Tribunnews.com)

Ketiga pria itu melintasi perbatasan dekat Kota Vanlaiphai Utara pada Rabu sore (3/3/2021) dan pihak berwenang setempat sedang memeriksa kesehatan mereka dan membuat pengaturan untuk mereka, kata pengawas polisi di Distrik Serchhip, Mizoram.

"Apa yang mereka katakan adalah mereka mendapat instruksi dari penguasa militer yang tidak dapat mereka patuhi, sehingga mereka melarikan diri," kata Inspektur Stephen Lalrinawma kepada Reuters.

"Mereka mengungsi karena pemerintahan militer di Myanmar," kata Lalrinawma.

Baca juga: Indonesia Minta Myanmar Buka Pintu bagi ASEAN untuk Bantu Penyelesaian Konflik

Baca juga: Besok, Para Menteri Luar Negeri ASEAN akan Bertemu Bahas Krisis Myanmar

India berbagi perbatasan darat sepanjang 1.643 kilometer dengan Myanmar, di mana lebih dari 50 orang telah tewas selama protes terhadap kudeta militer pada 1 Februari 2021.

Pemimpin junta militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing - dalam pidato pertamanya setalah kudeta -menyebut pihaknya akan mengadakan pemilu multipartai
Pemimpin junta militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing - dalam pidato pertamanya setalah kudeta -menyebut pihaknya akan mengadakan pemilu multipartai (Tribunnews.com)

Sebelum perlawanan tiga personel polisi Myanmar menolak perintah Junta Militer, Duta Besar Myanmar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kyaw Moe Tun juga membangkang perintah Junta Militer.

Sebelumnya Kyaw Moe Tun mengatakan kepada PBB pada Jumat (26/2/2021) bahwa dia berbicara untuk pemerintahan Suu Kyi dan meminta bantuan untuk membatalkan "kudeta militer ilegal dan inkonstitusional."

Pidato seperti itu berseberangan dengan mereka yang berkuasa di suatu negara dan jarang terjadi.

Baca juga: Aung San Suu Kyi Hadapi Dua Dakwaan Baru di Pengadilan Myanmar

Halaman
1234
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved