Kolom Trias Kuncahyono

Mendadak Ingat Bung Hatta

Seorang negarawan memiliki tugas suci bagi bangsanya yakni tugas suci pemberadaban, the task of civilitsation. Ini tidak mudah.

Istimewa
Foto ilustrasi: Bung Hatta dan Bung Karno 

Itulah politik kemanusiaan, derajat tertinggi kesempurnaan hidup beriman.

Dan, itulah pula yang dilakukan Bung Hatta, pahlawan nasional, proklamator, negarawan, yang setelah tidak lagi di lingkungan pemerintahan, tidak lagi di lingkungan kekuasaan benar-benar menarik diri dari hiruk-pikuk dan kebisingan dunia politik, dunia kekuasaan.

Ia tidak tergoda untuk mengritik secara terang-terangan, lantang, “di tengah lapangan” pun pula sekadar cari perhatian, misalnya, terhadap Bung Karno yang masih berkuasa.

Meskipun dalam banyak hal berbeda pendapat dan pandangan dengan Bung Karno, tetapi Bung Hatta tetap bersahabat dengan Bung Karno.

Daniel Dhakidae dalam Mohammad Matta, Politik, Kebangsaan, Ekonomi (1926-1977) menulis Hatta adalah seorang intelektual yang berpolitik dan politikus serta negarawan dengan landasan etik-intelektual yang kuat dan mendalam.

Untuk ini Bung Hatta bertarung selama hidupnya.

Daya pikat Bung  Hatta adalah integritasnya. Yang ia katakan, itulah yang ia lakukan.

Begitulah Bung Hatta, yang mendadak namanya menyusup dalam ingatan ketika jagat Indonesia ini sedang bising. ***

Baca kolom Trias Kuncahyono selengkapnya, klik: Mendadak Ingat Bung Hatta

Sumber: WartaKota
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved