Kolom Trias Kuncahyono
Mendadak Ingat Bung Hatta
Seorang negarawan memiliki tugas suci bagi bangsanya yakni tugas suci pemberadaban, the task of civilitsation. Ini tidak mudah.
Seorang negarawan memiliki tugas suci bagi bangsanya yakni tugas suci pemberadaban, the task of civilitsation. Ini tidak mudah.
Buya Syafii Maarif dalam Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah (2009), memberikan gambaran jelas tentang bagaimana the task of civilisation itu dilakukan oleh para tokoh-tokoh bangsa ini.
Baca juga: UPDATE Banjir Jakarta Minggu, BPBD DKI: Pintu Air Angke Hulu Masih SIAGA 1, Sunter Hulu Siaga 2
“Betapa seorang Natsir atau Prawoto Mangkusasmito begitu dekat dengan Ignatius Joseph Kasimo, Herman Johannes, Albert Mangaratus Tambunan, atau Johannes Leimena, baik pada masa revolusi kemerdekaan maupun sesudahnya. Atau antara Burhanuddin Harahap dengan Ida Anak Agung Gde Agung yang Hindu….”
Sekadar catatan: baik Natsir, Kasimo, maupun Leimena adalah orang-orang penting, tokoh-tokoh penting dari kelompok agamanya masing-masing.
Mohammad Natsir yang berasal dari Minangkabau ini di tahun 1950-an adalah petinggi Masyumi atau Majelis Syuro Muslimin Indonesia (juga PNI dan NU), partai besar di zaman Soekarno.
Dalam Politik Bermartabat IJ Kasimo (2011), JB Sudarmanto menulis, “Meskipun dalam praksis politik, Kasimo bisa berseberangan dengan Natsir atau Sjarifudin Prawiranegara, tapi sebagai sosok pribadi, mereka tetap memandang Kasimo sebagai seorang yang jujur dan tulus hati memperjuangkan kepentingan bangsanya.”
Meskipun mereka berbeda ideologi tetapi memiliki cita-cita, visi akan masa depan yang sama bagi bangsa dan negara.
Baca juga: WANITA EMAS Bagi-bagi Uang Bagi Korban Banjir di Cipinang Melayu Dibubarkan Petugas, Ini Alasannya
Karena itu, mereka bisa membangun persahabatan sejati. Vera amicitia est inter bono, persahabatan sejati hanya terjadi di antara orang-orang yang tulus. Begitu kata pepatah Romawi.
Kita bersyukur bahwa negara ini didirikan oleh para negarawan; para tokoh mulia, yang berkarakter mulia pula seperti mereka itu, yang lebih berbuat ketimbang berbicara atau malahan berteriak-teriak lantang, membuat pernyataan kontroversial sekadar cari perhatian, membangun citra atau takut tak dikenal lagi begitu tidak menjabat.
Mereka (masih ada yang lain) para tokoh besar—negarawan—lebih memikirkan dan berbuat untuk bangsa dan negaranya ketimbang untuk partainya atau kelompoknya atau golongannya, atau keluarganya sendiri.
III
Seperti itulah Bung Hatta, yang namanya mendadak muncul dalam benak di saat negeri ini bising oleh berbagai pernyataan yang sebenarnya tidak produktif di tengah pandemi yang membutuhkan kebersamaan, persatuan, dan kesatuan untuk mengatasinya.
Ya, Bung Hatta yang memilih mundur dari jabatannya sebagai Wakil Presiden karena teguh pada prinsip (Bung Hatta di Mata Tiga Putrinya: 2015).
Keputusan seperti itu hanya bisa dicapai kalau “seseorang sudah bisa ‘melampaui dirinya’.”
Artinya, sudah tidak berpikiran tentang keperluan duniawi bagi pribadinya sendiri, tetapi sudah selalu menanam kebajikan untuk kehidupan dan masa depan bangsanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/hatta-karno-soe.jpg)