Kriminalitas

Lindungi Anak Angkat dari Penyiksaan, Dio Justru Dituduh Lakukan Penculikan-Dikeroyok Oknum Polisi

Lindungi Anak Angkat dari Penyiksaan, Dio Justru Jadi Bulan-bulanan hingga Dituduh Melakukan Penculikan. Berikut Selengkapnya

Editor: Dwi Rizki
Istimewa
Luka lebam pada tubuh Darryl Kurniadi (6). Bocah malang itu diduga dianiaya oleh nenek dan ayah kandungnya sendiri 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Nasib malang dialami oleh SJ alias Dio, warga Apartemen Delta Cakung, Jalan raya Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur.

Pria yang merupakan ayah angkat seorang bocah bernama Darryl Kurniadi (6) itu babak belur dikeroyok oknum polisi atas tuduhan penculikan anak angkatnya.

Peristiwa tersebut diungkapkan Kuasa Hukum Dio, Krisdo H Pulungan terjadi setelah kliennya menyelamatkan Darryl yang diduga mengalami penyiksaan ketika berada di Jalan Pasir Kampung, Villa Rahayu Nomor 7D, RT 04/16, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat pada Jumat 15 Desember 2020.

Darryl diduga disiksa oleh nenek dan ayah kandung, yakni Thang Meng Lan (Cie Ameng) dan Danny Eka Prasetia serta kakak dari Cie Ameng, yaitu Thang Meng Ie atau biasa dipanggil Cie Lili.

Setelah mengamankan Darryl, kliennya itu kemudian membawa Darryl ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cimacan untuk dilakukan visum pada tanggal 16 Desember 2020.

Bukti Visum hasil pemeriksaan Darryl tersebut kemudian dilampirkan dalam laporan polisi yang dibuat kliennya di Polsek Pacet, Resort Cianjur, Polda Jawa Barat pada tanggal 21 Desember 2020.

Bersamaan dengan laporan polisi, Darryl kemudian dalam pengawasan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Cianjur serta Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Cianjur.

"Darryl mengalami trauma psikis yang sangat mendalam. Rencananya klien saya akan membawa Darryl untuk berkosultasi dengan psikolog," papar Krisdo H Pulungan dihubungi pada Sabtu (6/2/2021).

"Kasus dugaan penganiayaan ini juga akan dilaporkan kepada KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) dan Komnas PA (Komisi Nasional Perlindungan Anak) untuk mengusut dan mencegah berbagai pelanggaran hak anak," tambahnya.

Pihak Kepolisian melakukan olah TKP di kediaman SJ alias Dio, Apartemen Delta Cakung, Jalan raya Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur.
Pihak Kepolisian melakukan olah TKP di kediaman SJ alias Dio, Apartemen Delta Cakung, Jalan raya Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur. (Istimewa)

Namun, belum sempat melakukan pelaporan, nenek dan ayah kandung Darrly justru melaporkan balik kliennya dengan tuduhan penculikan anak.

Padahal, lanjutnya, Darryl masih dalam pengawasan Unit PPA Polres Cianjur dan P2TP2A Cianjur.

Stasiun Semarang Tawang Dikepung Banjir, KAI Daop 4 Alihkan Rute ke Selatan

Bersamaan dengan pelaporan tersebut, oknum Polri berpangkat AKBP, yakni HW bersama pihak keluarga ayah Kandung Darrly, antara lain Tommy, Deni, Cahya dan lainnya mendobrak kediaman kliennya pada tanggal 19 Januari 2021.

Tidak hanya merusak pintu apartemen dan merusak perabotan, kliennya juga mengalami penganiayaan.

Mirisnya, kejadian pengeroyokan disaksikan langsung oleh oknum anggota Polsek Cakung.

Setelah dianiaya, kliennya kemudian diborgol menuju Polsek Cakung yang selanjutnya dijemput anggota Polsek Pacet.

Sudah 2.500 Pakai GeNose, Ini Syarat dan Kriteria Pakai GeNose Test di Stasiun Pasar Senen

"Kami mendatangi Polsek Pacet untuk mempertanyakan tindakan yang dilakukan oknum HW, Polsek Cakung dan pelaku pengeroyokan. Ternyata tidak ada perintah penangkapan dan penahanan dari Polsek Pacet, setelah itu kami bawa Pak Dio pulang," ungkapnya.

Setelah kejadian tersebut, dirinya mendampingi Dio melakukan sejumlah langkah hukum, antara lain melaporkan oknum Polisi HW kepada Subbag Pelayanan dan Pengaduan Polri Daerah Metro Jaya dengan nomor surat STPL/03/I/REN.4.1.1./2021/Subbagyanduan ter tanggal 21 Januari 2021.

Selanjutnya, pihaknya juga melaporkan kasus pengeroyokan sekaligus pengerusakan rumah yang dilakukan oleh keluarga Danny Eka Prasetya kepada Polda Metro Jaya dengan Nomor TBL/408/I/YAN.2.5/2021/SPKT PMJ ter tanggal 23 Januari 2021.

"Atas kejadian tersebut klien kami mengalami trauma yang hebat dan masih terdapat luka lebam di bagian beberapa tubuh. Kejadian ini mengganggu aktivitas sehari-hari klien kami," jelasnya menunjukkan surat terbuka kliennya.

Dipercaya Pimpin Kota Jakarta Selatan, Anies Tunjuk Isnawa Adji Jadi Plt Wali Kota Gantikan Marullah

Surat Terbuka Dio

Ini kisah nyata tentang Darryl Kurniadi, bocah 6 tahun yang menjadi korban penyiksaan ayah dan nenek kandungnya sendiri.

Selama ini menjalani masa kecilnya dengan kepedihan. Hidup tanpa kasih sayang.

Darryl bocah malang itu lahir di Jakarta, 20 February 2014.

Ayahnya, Danny Eka Prasetia dan ibu yang bernama Rita.

Danny dan Rita memboyong Darryl yang masih berusia satu tahun untuk tinggal di apartemen yang sama dengan saya.

Kami bertetangga.

Saya ingat persis, 20 Februari 2015, Darryl berulang tahun.

Kami berserta beberapa orang merayakan dengan gembira hari lahir bocah mungil itu di apartemen.

Namun, kebahagian Darryl sirna.

Tak lama berselang, hubungan Danny dan Rita terlihat tidak harmonis.

Keduanya harus berpisah.

Keluarga kecil itu akhirnya memilih pergi dari apartemen.

Rita meninggalkan suami dan Darryl yang saat itu masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu.

Danny memutuskan membawa Darryl kembali ke rumah keluarganya di Jalan Kemayoran Timur Gang 6 Nomor 21 RT 13/07 Kelurahan Kemayoran, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Saya ingat persis karena hubungan kami cukup dekat sebagai tetangga.

Hidup berdua dengan Darryl yang masih balita tidak mudah bagi Danny yang tidak memiliki pekerjaan.

Hal itu membuat kebutuhan Darryl sering kali terbengkalai.

Yang lebih mengenaskan, karena terdesak kebutuhan, saat itu Danny punya keinginan untuk menjual Darryl sebesar Rp 7 juta.

Melihat kondisi itu, saya menawarkan bantuan menjadi ayah angkat untuk Darryl.

Saya penuhi semua kebutuhan Darryl seperti susu, popok, dan lain-lain.

Nah, selama menjadi ayah angkat Darryl, saya jadi mengetahui bagaimana kondisi bocah malang itu di Kamayoran.

Darryl diasuh dua orang nenek, yaitu Thang Meng Lan atau biasa dipanggil Cie Ameng dan Nenek kandung Darryl Kurniadi dan kakak kandung Cie Ameng yang tidak menikah Thang Meng Ie atau biasa dipanggil Cie Lili.

Sejak usia satu tahun atau selama diasuh kedua neneknya, Darryl justru mengalami penyiksaan yang luar biasa.

Bocah itu sering dipukul dengan menggunakan rotan, sapu dan lain-lain.

Bahkan Cie Lili sering meneteskan cairan lilin ke tubuh Darryl.

Darryl yang saat itu belum lancar berbicara saja sudah mengalami penyiksaan.

Saya menduga, kedua neneknya yang Chinese kuno tidak menyukai Darryl karena ibu kandung Darryl berasal dari pulau Jawa.

Rasa sayang saya sebagai ayah angkat kepada Darryl tersakiti melihat perlakukan mereka kepada Darryl.

Anak yang masih berjalan tertatih-tatih itu selalu dimarahi dan dianggap anak yang tidak diinginkan.

Untuk memastikan kondisi Darryl, saya selalu menyempatkan berkunjung untuk menengok beberapa hari dalam seminggu.

Sekaligus datang membawa semua kebutuhan Darryl.

Setelah Darryl menginjak usia 2 tahun, pada tahun 2016, saya mendaftarkan Darryl ke Kelas Bermain Sekolah KB-TK Baptis di Jakarta.

Hanya setahun Darryl bersekolah karena, sekolah harus ditutup.

Selama saya mencukupi biaya sekolah Darryl, terungkap Cie Ameng, nenek kandung sering mengambil uang yang seharusnya untuk memenuhi kebutuhan Darryl.

Belakangan saya ketahui, Cie Ameng adalah bekas mucikari di Pekan Baru dan salah satu tempat hiburan di Kelapa Gading.

Tidak hanya itu, Cie Ameng adalah pengguna zat psikotropika jenis sabu-sabu.

Bahkan, mengaku beberapa kali nyabu dengan Ketua RT setempat.

Meski kondisi di rumah semakin tidak kondusif, saya berusaha untuk memindahkan Darryl ke TK Strada John Berchmans di Jalan Gunung Sahari, Senen, Jakarta Pusat.

Celakanya, di sekolah yang baru itu, Darryl selalu menjadi pelampiasan kemarahan Cie Ameng.

Darryl sering dipukul dengan sapu lidi di depan umum.

Berhubung usia Darryl belum cukup untuk masuk SD, Darryl tiga tahun di TK.

Puncak kekejaman Cie Ameng, saat usia Darryl sekitar 4 tahun, Darryl pernah dimasukan ke dalam ember berisi air panas.

Siksaan demi siksaan dialami Darryl dari berbagai pihak.

Tidak hanya neneknya, Darryl pernah dikurung Danny bapak kandungnya di dalam lemari, hingga Darryl mengalami sesak napas di dalam lemari.

Termasuk juga saat usia Darryl menginjak 5 tahun, bocah yang seharusnya mendapat kasih sayang itu sering dihukum tidak diberikan makan seharian.

Awalnya, saya hanya mendengar dari Darryl soal kekejaman nenek dan papanya.

Namun, saya seakan tidak percaya ketika melihat penganiayaan kepada Darryl secara langsung.

Saat itu, saya pernah datang mendadak, Darryl setengah telanjang sedang dipukuli Cie Ameng di luar rumah disaksikan warga sekitar.

Ironisnya, warga sekitar bukannya membantu tapi memprovokasi keadaan.

Tidak ada rasa kemanusiaan.

Kondisi sosial warga Kemayoran khususnya tempat Darryl tinggal ternyata tidak kondusif untuk tumbuh kembang anak seusia Darryl.

Sebaiknya Darryl tidak mengikuti sekolah tatap muka apabila mulai direncanakan Januari 2021.

Tidak ada yang bisa mengontrol ketika Darryl di rumah bersama dua nenek dan ayah kandungnya.

Selama masa pademi Corona, Darryl yang telah berusia 6 tahun, bersama kedua neneknya diboyong ke Cipanas.

Tepatnya di Jalan Pasir Kampung, Villa Rahayu Nomor 7D, RT 04/16, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

Selama Darryl di Cipanas, saya meminta bantuan tetangga bernama Cing Cing untuk bantu mengawasi dan membimbing pelajaran Darryl.

Puji Tuhan, semua berjalan baik dan Darryl mendapat nilai baik.

Celakanya, selama tinggal di Cipanas, kedua neneknya masih terus menyiksa Darryl.

Tetangga dan Cing Cing menyaksikan langsung, Darryl dipukul dengan selang air.

Dianiaya, hati kita pasti teriris.

Darry pernah bilang 'Ama (nenek) aku gak mau mati'.

Amanya selalu bilang, 'Ama akan matiin kamu'.

Darryl yang masih berusia 6 tahun, berkata kepada saya, 'Daddy saya sudah tidak tahan lagi, Daddy bawa polisi tangkap Ama'.

Cie Ameng sang nenek sering mengancam Darryl perna berkata, 'Awas lu di sini masih ada yang bantu, lu jika dipukul. Kalau di Jakarta nggak ada yang bantu lu, akan saya matiin lu'.

Badan Darryl sudah sering babak belur.

Puncaknya, Jumat 15 Desember 2020, Darryl mengalami kekerasan hebat.

Darryl, bocah tidak berdosa itu dikeroyok bapak dan nenek kandungnya di dalam kamar belakang.

Wajah Darryl digigit, badan dipukul, wajah ditampar dengan sangat keras dan hidung lebam ditonjok.

Saya yang mengetahui kejadian itu segera berangkat ke Cipanas.

Saat itu, saya memutuskan untuk membawa Darryl ke Instalasi Gawat Darurat RSUD Cimacan untuk dilakukan visum pada tanggal 16 Desember 2020.

Bukti Visum hasil pemeriksaan Darryl terlampir di Polsek Pacet, Resort Cianjur, Polda Jawa Barat.

Tidak hanya visum, saya juga melaporkan kekejaman Ci Ameng, Cie Lili dan Danny Eka Prasetya ke Polsek Pacet, Cipanas-Cianjur pada tanggal Rabu 21 Desember 2020.

Kondisi anak sekarang ada di bawah pengawasan Polres dan P2TP2A ( Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak ) Cianjur.

Saat ini, Darryl mengalami trauma phsikis yang sangat mendalam.

Saya berencana membawa Darryl untuk berkosultasi dengan psikolog di awal Januari 2021 mendatang.

Dalam waktu dekat saya juga akan melaporkan kasus penganiayaan Darryl kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) untuk mengusut dan mencegah berbagai pelanggaran hak anak yang dilakukan perorangan.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved