Transportasi
Awas, Cuaca Ekstrem hingga April 2021, Menhub Minta Para Operator Transportasi Ekstra Waspada
Kemenhub mengimbau para operator transportasi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem ini untuk keselamatan penumpang.
Sementara itu, saluran penghubung yang sudah dikeruk sebanyak 390 saluran, dengan volume pengerukan 121.002,6 m3. “Itu untuk tahun 2020 ya, pada tahun-tahun sebelumnya juga sudah dilakukan pengerukan di lokasi lainnya,” ungkap Dudi.
Dudi menerangkan, pembangunan drainase vertikal (sumur resapan) yang dilakukan oleh Dinas SDA DKI bekerja sama dengan unsur-unsur terkait di wilayah dan melibatkan masyarakat. Hingga 31 Desember 2020, telah tersedia 2.974 titik drainase vertikal di 777 lokasi, seperti di RPTRA, gedung pemda, sekolah, taman kota, dan masjid.
Selain itu, untuk penanganan banjir rob melalui NCICD, dinas telah menentukan lokasi prioritas pembangunan tanggul pantai, yaitu Kamal Muara, Kali Blencong, Kali Adem-Muara Angke, Pantai Muara, Sunda Kelapa, dan Tanjung Priok. Saat ini telah terbangun sepanjang 12,6 Km tanggul pantai dan akan terus dilanjutkan pembangunannya.
Sedangkan untuk pembangunan/rehabilitasi sistem polder pada 2021-2022, lokasinya antara lain. Di sisi lain, dinas juga telah menyiapkan 487 pompa stationer di 178 lokasi, 175 pompa mobile di 5 wilayah, 257 alat berat, 465 dump truck, 36 pintu air, dan 8.101 personel (Pasukan Biru).
Baca juga: Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Turun, Ini 4 Rekomendasi TII
Baca juga: Pimpin Rapat Soal Kesejahteraan di Papua, Maruf Amin Tekankan Pentingnya Stabilitas Polhukam
Sementara itu Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Sabdo Kurnianto, mengatakan, pihaknya juga telah melakukan sejumlah kesiapsiagaan menghadapi musim hujan. BPBD Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan buku panduan kesiapsiagaan menghadapi banjir bagi masyarakat sebanyak 33.311 buku dan dibagikan kepada pengurus RT/RW.
“Masyarakat juga dapat mengunduh buku panduan tersebut melalui https://bit.ly PanduanKesiapsiagaanMenghadapiBanjirJakarta,” kata Sabdo.
Selain itu, BPBD DKI Jakarta juga telah membagikan buku pedoman pengendalian banjir bagi Organisasi Perangkat Daerah, Lembaga Usaha, dan Relawan sebanyak 611 buku. Panduan tersebut berisi penjelasan kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir, mulai dari saat tidak terjadi banjir (tas siaga bencana), sudah ada potensi banjir, pada saat terjadi banjir, jika berada di lokasi pengungsian, dan setelah banjir.
“Harapannya, masyarakat dapat lebih siap, meskipun personel dan pendukung lainnya juga kita kerahkan,” ujarnya.
BPBD DKI Jakarta juga telah menetapkan layout penempatan tenda pengungsi dengan protokol kesehatan Covid-19, yakni memisahkan tenda pengungsi umum, tenda kelompok rentan (ibu hamil, lansia), dan tenda kontak erat/suspek Covid-19. Pada lokasi pengungsian juga disiapkan area skrining kesehatan, area rapid antigen, dan toilet.
Baca juga: Gurauan Kapolri: Kapolsek, Kapolres, Kapolda yang Menolak Bertemu Kiai NU Bisa Dilaporkan ke Propam
Baca juga: VIDEO Viral Transaksi Pakai Dinar dan Dirham di Depok, BI Tegaskan Alat Pembayaran Sah Hanya Rupiah
Untuk mengantisipasi penumpukan pengungsi, Lurah dan Camat menyiapkan lokasi pengungsi alternatif sebanyak 2-3 kali lipat dari lokasi pengungsian yang ada. Pemprov DKI Jakarta juga menyiagakan petugas kesehatan/relawan kesehatan, Gugus Tugas Kota/Kecamatan/Kelurahan/RT/RW, melakukan sterilisasi lokasi pengungsian secara teratur menggunakan disinfektan, menyediakan hand sanitizer/tempat cuci tangan dilengkapi tandon air dan sabun.
Wilayah DKI Jakarta dialiri 13 sungai dari hulu dan sebagian besar daratan Utara berada di bawah muka air laut (rob). Selain itu, Jakarta juga mengalami penurunan tanah per tahun (land subsidence) dan perubahan tata guna lahan dengan populasi yang bertambah, pembangunan yang pesat, dan run off yang meningkat, sehingga daerah resapan semakin berkurang.
Seperti diketahui, Pemprov DKI Jakarta melalui BPBD Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini atas potensi curah hujan dengan intensitas yang lebat. Fenomena hujan yang disertai kilat/petir dan angin kencang/puting beliung ini diperkirakan bakal terjadi di wilayah DKI Jakarta pada 28 Januari - 2 Februari 2021.
Baca juga: Stefano Cugurra Pelatih Bali United Sudah Tahu Info Tentang Tim Lawannya Di AFC Cup 2021
Baca juga: Wilayah Kecamatan di Kota Depok Ini Paling Banyak Terjadi Gangguan Keamanan Sepanjang Pandemi 2020
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Sabdo Kurnianto menyampaikan, peringatan dini ini diperoleh dari Badan Meteorologi, Klomatologi dan Geofisika (BMKG). Tujuannya agar masyarakat lebih waspada dan mempersiapkan diri.
Kata dia, BMKG telah mengeluarkan prakiraan cuaca berbasis dampak (IBF) untuk dampak banjir/banjir bandang dalam 2 hari ini, yakni 28 - 29 Januari 2021. DKI Jakarta masuk dalam potensi dampak dengan status siaga.
"Kami mengimbau agar masyarakat dapat mengantisipasi dan menyiapkan segala sesuatunya untuk menjaga diri dari hujan angin. Kondisi cuaca ekstrem seperti ini dapat menimbulkan genangan, banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan jalan licin," kata Sabdo berdasarkan keterangan yang diterima pada Kamis (28/1/2021). (Hari Darmawan/Tribunnews.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20180626-ilustrasi-cuaca-ekstrem_20180626_151954.jpg)