Senin, 20 April 2026

Berita Internasional

Terjadi Penurunan Ekonomi Tertajam Sejak Perang Dunia II, Amerika Semakin Hancur?

Menurut Hans, kontraksi perekonomian Negeri Paman Sam ini merupakan yang tertajam sejak perang dunia II akibat pandemi Covid-19. 

Editor: Feryanto Hadi
Istimewa
Ilustrasi Bendera Amerika Serikat 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -Pengamat pasar modal Hans Kwee mengatakan, ekonomi Amerika Serikat (AS) pada kuartal IV tahun 2020 tercatat tumbuh 4 persen. 

Pertumbuhan ini melambat dibandingkan dengan kuartal tiga yang tumbuh 33,4 persen dan sedikit di bawah ekspektasi Wall Street di level 4,3 persen. 

"Dengan pertumbuhan tersebut maka di sepanjang tahun 2020 ekonomi Amerika terkontraksi minus 3,5 persen," ujarnya, Senin (1/2/2021). 

Baca juga: Kekhawatiran Munculnya Kudeta Militer di Myanmar Saat Aung San Suu Kyi Ditahan

Menurut Hans, kontraksi perekonomian Negeri Paman Sam ini merupakan yang tertajam sejak perang dunia II akibat pandemi Covid-19. 

"Perekonomian tahun 2020 dipengaruhi pandemi Covid-19 yang menghancurkan bisnis jasa, seperti restoran dan maskapai penerbangan," katanya. 

Pandemi juga dinilainya membuat jutaan orang di AS kehilangan pekerjaan dan jatuh miskin, sehingga solusi yang diberikan International Monetary Fund (IMF) adalah mendorong negara maju untuk memiliki tingkat utang publik yang jauh lebih tinggi setelah krisis pandemi Covid 19. 

"Kepastian kebijakan fiskal AS menjadi sangat penting bagi perekonomian dan pasar saham," pungkas Hans.

China geser AS soal PMA

Di sisi lain, China mengambil alih posisi Amerika Serikat (AS) sebagai penerima investasi asing langsung terbesar pada 2020, ini terlihat dari aliran aset yang tumbuh sebesar 4 persen menjadi total 163 miliar dolar AS.

United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD) melaporkan, negara itu berhasil menumbuhkan ekonominya sebesar 2,3 persen pada 2020.

Di sisi lain, para pesaingnya mengalami kesengsaraan yang meluas, seperti AS yang harus menyaksikan penurunan aliran asetnya sebesar 49 persen, menutup tahun dengan total 134 miliar dolar AS.

Baca juga: Strain Covid-19 Inggris Diklaim Sebabkan Lebih Banyak Kerusakan, Termasuk Kematian

Menurut angka yang dirilis organisasi tersebut, investasi global turun 42 persen, dari 1,5 triliun dolar AS pada 2019 menjadi 859 miliar dolar AS pada 2020, ini menjadi level terendah sejak 1990-an.

Selain itu, mencapai lebih dari 30 persen di bawah penurunan yang terlihat setelah krisis keuangan pada 2008 silam.

Dikutip Wartakotalive.com dari laman Sputnik News, Selasa (26/1/2021), UNCTAD memperkirakan FDI akan terus mengalami penurunan tajam pada tahun 2021, dengan investasi diperkirakan akan turun 5 hingga 10 persen lagi sepanjang tahun ini karena dampak penurunan kegiatan ekonomi yang masih berlangsung selama pandemi virus corona (Covid-19).

Baca juga: Sektor Komunikasi Diprediksi Menjadi Sumber Pertumbuhan Investasi Indonesia pada 2021

Baca juga: Realisasi Pagu Anggaran Kemenhub di 2020 Mencapai 95,58 persen, Tahun 2021 Dipotong untuk Covid-19

FDI Eropa mengalami penurunan yang lebih dahsyat dibandingkan AS, mengakhiri tahun dengan saldo negatif 4 miliar dolar AS.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved