Minggu, 17 Mei 2026

Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Turun, Ini 4 Rekomendasi TII

Wawan mengatakan, negara yang mempunyai skor dan rangking sama dengan Indonesia adalah Gambia.

Tayang:

Wawan menjelaskan secara garis besar sejumlah penyebab turunnya skor IPK Indonesia tahun 2020.

Wawan mengatakan terdapat sembilan sumber data yang menjadi indikator terkait turunnya skor IPK Indonesia.

Pertama adalah Political Risk Service Corruption (PRS), yakni soal suap terkait dengan pelayanan publik.

Kedua adalah IMD Business School World (IMD) Competitiveness Yearbook, terkait dengan ada atau tidaknya penyuapan.

Ketiga adalah Global Insight Country Risk Ratings (GI), terkait dengan tingkat risiko individu atau perusahaan dalam menghadapi suap atau praktik korupsi lain.

Keempat, World Economic Forum Executive (WEF) Opinion Survey, terkait dengan penyuapan dan gratifikasi

Kelima, Bertelsmann Stiftung Transformation Index (BS), terkait dengan hukuman bagi pejabat publik yang melakukan praktik korupsi dan upaya yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi korupsi.

Keenam, Economist Intelligence Unit Country Risk Service (EIU), terkait akuntabilitas prosedur, keuangan negara yang disalahgunakan pejabat baik untuk pribadi maupun partai, atau penyalahgunaan kepentingan umum.

Ketujuh, Political and Economic Risk Consultancy (PERC), terkait bagaimana masyarakat mengukur persoalan korupsi di negara tempat koresponden bekerja.

Kedelapan, Varieties of Democracy Project, terkait dengan korupsi politik.

Kesembilan, Rule of Law Index, terkait bagaimana pemerintah menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi baik di tingkat eksekutif, yudikatif, legislatif, dan kepolisian.

Dari sembilan indikator tersebut, kata Wawan, dapat dibagi menjadi tiga klaster, yakni ekonomi dan investasi, penegakan hukum, serta politik dan demokrasi.

Terkait dengan isu ekonomi dan investasi, kata Wawan, secara umum beberapa indikator penyusun CPI (IPK) yang berhubungan dengan sektor ekonomi, investasi, dan kemudahan berusaha, mengalami stagnansi.

Bahkan, kata Wawan, mayoritasnya turun.

"Pada klaster kedua penegakan hukum, salah satu indikator penegakan hukum naik, World Justice Project Rule of Law Index (WJP)."

"Namun pada perbaikan kualitas layanan dengan hubungannya terhadap korupsi masih stagnan," ulas Wawan.

Hal tersebut bisa dilihat di Imindikator Bertelsmann Stiftung Transformation Index (BS) dan juga Economist Intelligence Unit Country Risk Service (EIU).

"Yang penting diketahui bahwa indikator WJP adalah indikator yang selalu di bawah rata-rata komposit CPI (IPK) tiap tahunnya," terang Wawan.

Terkait soal politik dan demokrasi, terutama sistem kepemiluan, kata Wawan, mengalami penurunan skor.

"Ini terlihat dari turunnya skor Varieties of Democracy."

"Hal ini berarti sektor politik masih rentan terhadap kejadian korupsi," papar Wawan. (Gita Irawan)

Sumber: Tribunnews
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved