Sejarah Tugu Selamat Datang, Didesain Henk Ngantung, Mantan Gubernur DKI Jakarta
Tugu Selamat Datang yang didesain Henk Ngantung tetap setia mengucapkan selamat datang kepada siapa pun dari belahan bumi mana pun.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Tugu Selamat Datang yang berada di Bundaran Hotel Indonesia Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, kembali menjadi perbincangan publik.
Di mana saat ini Mal Grand Indonesia, Tanah Abang, Jakarta Pusat diputuskan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat membayar hukuman sebesar Rp 1 miliar.
Mal Grand Indonesia dinyatakan bersalah karena menggunakan sketsa Patung Selamat Datang pada logo mal-nya.
Lalu bagaimana sebenarnya sejarah Tugu Selamat Datang?
Baca juga: Dilantik Sebagai Sekda DKI, Ini Daftar Harta Kekayaan Marullah Matali
Baca juga: Diduga Lelah Terima Aduan Warga yang Tak Dapat Bansos, Jadi Penyebab Dipotongnya Dana BST Kemensos
Baca juga: Lowongan Kerja di Jakarta Smart City DKI, Gaji Terbesar Rp 23 Juta, Banyak Posisi, Cek di Sini
Dikutip dari Kompas.com, Tugu Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, didesain oleh Henk Ngantung.
Tugu yang menampilkan sepasang pria dan wanita melambaikan tangan, menyambut orang datang ke Jakarta, adalah salah satu magnum opus Henk sepanjang hayatnya.
Tugu Selamat Datang digagas Presiden Soekarno.
Patung itu menghadap ke utara, tujuannya menyapa para delegasi Asian Games IV tahun 1962 yang tiba di Bandar Udara Kemayoran.
Kini, para tamu tak lagi datang dari Bandara Kemayoran di utara Bundaran HI.
Namun, Tugu Selamat Datang yang didesain Henk tetap setia mengucapkan selamat datang kepada siapa pun dari belahan bumi mana pun.
Henk merupakan seorang pelukis andal yang beberapa karyanya abadi hingga hari ini.
Jadi Gubernur Jakarta
Sebelum ditunjuk sebagai Gubernur DKI Jakarta oleh Presiden Soekarno tahun 1964 – naik dari posisi Wakil Gubernur yang telah ia emban selama 4 tahun - Henk sudah menelurkan berbagai karya.
Harian Kompas mencatat, pria bernama lengkap Hendrik Joel Hermanus itu sudah menggurat sejumlah sketsa penting saat proses Perjanjian Linggarjati di Jawa Barat, sejak 10 November 1946 sampai ditandatangani di Paleis Rijswijk (Istana Negara), Jalan Veteran, Jakarta, 25 Maret 1947.
Sketsa-sketsanya detail.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/foto-tanaman-bougenville-di-bundaran-hi5.jpg)