Breaking News:

Berita Nasional

Masalah Kembali Terulang, Perajin Tahu Berharap Kedelai Lokal Jadi Perhatian Utama Pemerintah

Masalah Kembali Terulang, Perajin Tahu Berharap Kedelai Lokal Jadi Perhatian Utama Pemerintah ketimbang Kedelai Impor Asal Amerika Serikat

Penulis: Rizki Amana | Editor: Dwi Rizki
Warta Kota
Sofyan Tasbim selaku pemilik industri Perajin Tahu Non Formalin Tasbim  

WARTAKOTALIVE.COM, PAMULANG - Kenaikan harga kedelai impor yang kerap kali menyulitkan para produsen tahu dan tempe lokal diharapkan Pemilik industri Perajin Tahu Non Formalin Tasbim, Sofyan Tasbim tidak kembali terulang.

Mewakili produsen tahu dan tempe nasional, dirinya berharap agar pemerintah dapat memprioritaskan kedelai lokal, ketimbang kedelai impor.  

Sehingga kenaikan harga kedelai impor asal Amerika Serikat itu tidak lagi mempengaruhi industri tahu dan tempe nasional.

"Sekarang kita pakai GCU Kedelai sekitar harga di atas Rp 9.300 per kilogram, itu import dari Amerika Ssrikat," kata Tasbim saat ditemui di lokasi industrinya, Kedaung, Pamulang, Kota Tangsel, Kamis (7/1/2021).

Ia menjelaskan penggunaan bahan baku kedelai import untuk industri tahu ya itu bukan tanpa alasan. 

Menurutnya penggunaan bahan baku import tersebut ditengarai akan sulitnya mendapatkan kedelai hasil panen dari petani lokal. 

Baca juga: Siap Didistribusikan, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi Bersedia Jadi Orang Pertama Divaksin Covid-19

Ditambah, jarangnya produksi kedelai lokal yang didapat para sejawatnya dari pasaran akibat tak banyaknya panen yang dihasilkan para petani kedelai di tanah air. 

Hingga harga pasaran kedelai hasil petani lokal lebih tinggi jika dibandingkan dengan produk import. 

"Lokalnya mungkin berkisar diangka Rp 12.000 sampai Rp 15.000 per kilogram, itu barangnya juga tidak ada atau sulit didapat," katanya. 

Baca juga: Dorong Keterbukaan Informasi Publik, Partai Gerindra Kembali Dianugerahi Penghargaan dari KIP

Dirinya yang telah bergelut dengan industri perajin tahu dalam beberapa tahun terkahir menjelaskan bila tahu yang dihasilkan dari kedelai lokal memiliki kualitas lebih baik. 

Sebab tingkat kepadatan tahu akan lebih baik bila dihasilkan sepenuhnya dari kedelai dalam negeri. 

Sementara, kedelai import yang banyak digunakan para perajin lebih mudah menghasilkan tahu dengan tingkat kepadatan yang cenderung mudah hancur saat dicetak menjadi tahu. 

"Kedelai petani lokal lebih kecil memang cuman lebih bagus kualitasnya. Kalau import kacang kedelai ya lebih besar-besar, tapi harus teliti supaya gak mudah pecah kalau sudah diolah jadi tahu," ungkapnya. 

Oleh karena itu, ia berharap agar pemerintah lebih dapat memeperbanyak lahan pertanian yang dikhususkan untuk petani kedelai. 

"Ya semoga saja petani kedelai semakin banyak agar kita dapat gunakan produk lokal. Nah hasil tahunya juga lebih baik bila pakai kedelai dari petani lokal karena tahu lebih padat," pungkasnya. (m23) 

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved