Warga Miskin
LSM TRUTH Sesali Masih Ada Warga Miskin yang Terabaikan di Kota Tangsel
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Tangerang Public Transparency Watch (TRUTH) prihatin melihat keberpihakan Pemkot Tangsel atas kemiskinan yang terjadi
WARTAKOTALIVE.COM, TANGSEL - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Tangerang Public Transparency Watch (TRUTH) prihatin melihat keberpihakan Pemkot Tangsel atas kemiskinan yang terjadi.
Seperti diketahui, kondisi suami istri Mursih Susanti (41) dan Narun (44) yang sakit keras, dan hidup di rumah yang tidak laik, menjadi potret buram Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Padahal, rumah Mursih dan Narun yang sudah ditinggali selama 21 tahun itu tak jauh dari Ibu Kota Jakarta. Rumah mereka ada di ujung gang bilangan RT 005/RW 06, Kelurahan Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangsel.
Diberitakan sebelumnya, Mursih tengah menjalani masa pemulihan dari kanker payudara, sedangkan Narun masih mengidap infeksi paru-paru.
Mereka tinggal di rumah semipermanen, beratap asbes yang selalu bocor kala hujan turun, berdinding triplek dan beralas semen.
Nahasnya, Mursih mengaku hampir tidak pernah mendapat bantuan pemerintah. Ia bahkan mengaku tidak terdaftar pada program kesejahteraan semacam Program Keluarga Harapan (PKH).
LSM TRUTH melihat kondisi Mursih dan Narun sebagai hal yang sebenarnya tidak boleh terjadi di Tangsel.
Dengan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) sebesar Rp 4 triliun, harusnya tidak ada lagi warga miskin yang menderita karena hidup susah.
"Berbagai jenis bantuan banyak diberitakan namun tidak sampai rumah Ibu Mursiah. Tentu kami sebagai masyarakat mempertanyakan bagaimana Pemkot Tangsel, memetakan persoalan Rumah Tak Layak Huni (RUTLH), karena jika program tersebut sudah berjalan sejak tahun sebelumnya dengan anggaran Rp 22 miliar," ucap Jupry Nugroho, Wakil Koordinator TRUTH, Senin (21/12/2020).
"Bagaimana ada masyarakat yang tidak masuk dalam penerima manfaat sedangkan dirinya berKTP Tangsel dan sudah lebih dari 10 tahun tinggal di rumah reyot," imbuhnya.
Jupry mempertanyakan kinerja pejabat di wilayah yang seperti tidak mengetahui atau sengaja membiarkan kondisi pasangan suami istri tersebut.
"Lalu timbul pertanyaan Lurah dan Camat sudahkah berkerja untuk berkordinasi atau mungkin tidak tau jika ada wargnya harus tinggal dirumah reyot," ujarnya.
Menurut Jupry, Mursih dan Narun patut dibantu. Alasannya, mereka warga miskin. Ini bisa dilihat dari kondisi rumah.
Rumah Mursih dan Narun alasnya hanya berlapiskan semen, sementara dindingnya dari triplek. Beratap asbes tanpa langit-langit, kerangka atap hanya disangga bambu tipis.
Setiap hujan, asbes dan rangka atap seperti tidak berfungsi, air tetap mengalir ke dalam rumah karena banyak bagian yang bocor.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/suami-istri-sakit.jpg)