Kamis, 23 April 2026

Virus Corona

Satgas Penanganan Covid-19 Inginkan Bantuan Komunikasi Tokoh Agama dan Ormas

Peran tokoh agama dan tokoh ormas sangat dibutuhkan oleh Satgas Penanganan Covid-19 bantu mengkomunikasikan tentang Covid-19

Biro Pers Setpres/Lukas
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan perlunya tokoh agama turut serta sosialisasi dampak Pandemi Covid-19 dalam jumpa pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (24/11/2020) 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -  Sinergi antara komunitas agama maupun organisasi masyarakat (ormas) adalah prinsip utama bagi pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19.

Peran sertanya dibutuhkan bagi Satgas Penanganan Covid-19 dalam melakukan komunikasi publik.

"Sejak awal Satgas berusaha melakukan komunikasi publik yang spesifik terhadap karakteristik masyarakat. Akan tetapi hal ini tidak akan mudah jika prosesnya tidak melibatkan gate keeper komunitas tersebut," ungkap Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Kantor Presiden, Selasa (24/11/2020), yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Baca juga: Realisasi Pajak Hiburan Di Kota Bekasi Masih Rendah Akibat Pandemi Covid-19

Baca juga: Imam Besar Masjid Istiqlal: Peran Ulama Penting di Masa Pandemi Covid-19, tapi Ulama yang Mana Dulu

Untuk itu, apresiasi diberikan seting-tingginya kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) serta beberapa ormas lainnya yang membantu meringankan beban pemerintah dengan menyampaikan satu narasi, yaitu "Tekan Penularan Covid-19 dengan Protokol Kesehatan", yang disesuaikan dengan rincian kegiatannya masing-masing.

Satgas Covid-19 berharap semakin banyak komunitas di masyarakat yang bisa tergerak untuk bekerjasama dengan pemerintah, untuk sama-sama membangun kedisiplinan masyarakat yang dapat dimulai dari lingkungannya masing-masing.

"Kami tekankan, Satgas Covid-19 terbuka dengan semua kerjasama, khususnya terkait untuk mensosialisasikan pentingnya protokol kesehatan," ujarnya.

Baca juga: Ingin Dijemput Tim Reaksi Cepat, Warga Positif Covid bisa Hubungi Nomor Ini Sertakan Juga Hasil Swab

Baca juga: Sampai Memohon, Satgas Covid-19 Minta Anies Baswedan Tegas Tindak Pelanggar Protokol Kesehatan

Selain itu, secara rutin Satgas Covid-19 pusat berkomunikasi dengan satgas Covid-19 di setiap daerah dan selalu menekankan prinsip non diskriminatif, sebagaimana tertuang dalam UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dalam melakukan penanganan pandemi Covid-19.

Satgas daerah harus berprinsip teguh untuk melakukan upaya pengendalian tanpa pandang bulu, termasuk saat melakukan penjaringan kasus dengan melakukan testing (pemeriksaan) dan tracing (pelacakan) terhadap siapapun yang mengikuti kegiatan kerumunan.

"Saat ini beberapa daerah sedang melakukan penjaringan, dan kami masih memantau perkembangannya. Bukti konkrit kami membantu memenuhi ketersediaan rapid test swab antigen," ujarnya.

Baca juga: Cegah Lonjakan Kasus Covid-19, Ganjar Usulkan Pemerintah Hapus Recana Libur Bersama Akhir Tahun

Baca juga: Erick Sebut 16 Persen Masyarakat Tolak Vaksin Covid-19, Dianggap Kecil karena 66 Persen Setuju

Selain itu, diketahui pula peserta kerumunan-kerumunan diikuti masyarakat yang berusia muda.

Bahwa kebanyakan penderita Covid-19 tidak bergejala, adalah usia muda dan memiliki potensi menularkan kepada orang disekitarnya termasuk di rumahnya.

Untuk itu ia mengajak para orang tua, pihak RT/RW setempat untuk dapat menyampaikan pesan terhadap kaum muda yang berpartisipasi dalam kegiatan kerumunan agar mau mengikuti tes pemeriksaan.

"Ingat, bahwa apabila seseorang terlihat sehat, bukan berarti mereka terbebas dari Covid-19. Karena adanya kasus positif yang tidak menampakkan gejala apapun," pesan Wiku.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved