Viral Medsos

Viral Pengendara Moge Keroyok Anggota TNI, Budayawan Sebut Moge Tak Cocok di Indonesia

Ramai Anggota Moge Keroyok TNI, Budayawan Sebut Moge Tak Cocok di Indonesia. Simak selengkapnya di dalam berita ini.

Youtube Kang Dedi Mulyadi
Mantan Bupati Purwakarta Dedy Mulyadi saat melakukan dialog dengan kursi kosong. Ia mengakui melakukan itu karena diilhami Najwa Shibab. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Akhir-akhir ini motor gede jadi bahan perbincangan akibat peristiwa pengeroyokan dua anggota klub moge terhadap tentara. 

Sejumlah pihak pun memberikan komentarnya. 

Bahkan ada yang menyebut moge tidak cocok di Indonesia

Anggota DPR RI yang juga dikenal sebagai seorang budayawan, Dedi Mulyadi, yang menilai motor gede alias moge tidak cocok di Indonesia.

Baca juga: Striker Persebaya Surabaya David Da Silva Punya Pelatih Pribadi

Hal ini karena kondisi jalan yang ada di Indonesia tidak mendukung bagi lalu lalang moge, apalagi dilakukan secara berombongan.

"Di Indonesia ini kebanyakan jalannya sempit dan padat. Jadi moge tidak cocok di Indonesia. Kalau di Amerika cocok karena jalannya lebar-lebar dan relatif sepi," kata Dedi Mulyadi melalui ponselnya, Senin (2/11/2020).

Dedi Mulyadi mengatakan, di Indonesia ada lima kualifikasi jenis jalan yakni, jalan nasional, provinsi, kabupaten, desa, dan jalan tol.

Jalan nasional lebarnya minimal 11 meter,  jalan provinsi 9 meter, jalan kabupaten 7,5 meter, jalan desa 3,5 meter, dan jalan tol lebarnya minimal 23 meter.

Baca juga: Pengusaha yang Berperan sebagai Perantara Suap Djoko Tjandra Ajukan Justice Collaborator

Selain padat oleh kendaraan yang lalu lalang, kepadatan jalan di Indonesia juga ditambah oleh kehadiran pedagang kaki lima (PKL) dan di beberapa titik areal pabrik bahkan menghadirkan kemacetan arus lalu lintas.

Sementara, lanjut Dedi, moge yang berbadan lebar dan didesain harus melaju secara kencang berhadapan dengan jalan yang sempit dan padat itu. Disinilah terjadi persoalan.

"Jalannya sempit tapi moge kan tak bisa jalan pelan-pelan, maka rombongan moge ini harus ngebut sehingga meminggirkan pengguna jalan yang lain. Di sinilah persoalannya.

Apalagi suaranya keras memekakkan telinga, jadi secara kultural moge tidak cocok di Indonesia. Banyak pengguna jalan lain yang terluka hatinya karena harus minggir," kata Dedi.

Menurut Dedi Mulyadi, solusi untuk moge ini sebaiknya diberi tempat di jalan tol sehingga tidak mengganggu pengguna jalan yang lain.

Baca juga: Bek Kanan Persita Tangerang Muhammad Toha Sedih Kehilangan Ayah Angkat

"Yang cocok itu di jalan tol tapi kan sampai sekarang tidak diperbolehkan," kata Dedi.

Soal Moge, Dedi Mulyadi : Anda Itu Siapa? Orang Lain Harus ke Pinggir Jalan, Touring Saja Nyusahin

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved