Virus Corona Jabodetabek

Update Covid-19 Kota Bogor: Pekan Ini Masih Status Zona Merah, Sebagian Besar dari Kluster Keluarga

Status Kota Bogor pekan ini masih zona merah atau berisiko tinggi terhadap penularan Covid-19 karena adanya peningkatan pasien yang terkonfirmasi.

Tribun Bogor
Wali Kota Bima Arya Sugiarto saat meninjau pelayanan di kantor Disdukcapil Kota Bogor, Selasa (3/7/2018). Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, Senin (5/10/2020) menyatakan, status Kota Bogor pada pekan ini masih zona merah atau berisiko tinggi terhadap penularan Covid-19 karena adanya peningkatan pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 sampai 15 persen. 

WARTAKOTALIVE.COM, BOGOR - Kasus penambahan positif Covid-19 di Kota Bogor masih tinggi, yang berasal dari kluster keluarga, sementara klaster keluarga berasal dari klaster perkantoran.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menyatakan, status Kota Bogor pada pekan ini masih zona merah atau berisiko tinggi terhadap penularan Covid-19 karena adanya peningkatan pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 sampai 15 persen.

Bima Arya mengatakan hal itu kepada pers di Balai Kota Bogor, Senin (5/10/2020), didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Sri Nowo Retno, Kepala Dinas Kominfo Kota Bogor Rahmat Hidayat, dan Kepala Satpol PP Kota Bogor Agustiansyah.

Menurut Bima Arya, pada pekan lalu, penambahan 179 kasus positif, yakni meningkat 15 persen dari pekan sebelumnya.

Sedangkan, jumlah kasus positif Covid-19 secara keseluruhan sampai Senin ini, sebanyak 1.387 kasus.

 Indonesia Siap-siap Hadapi Resesi Ekonomi, Ini yang Sebaiknya Dilakukan Masyarakat

 KABAR Gembira: Umrah Kembali Dibuka Mulai 4 Oktober dan 1 November 2020

Dari jumlah tersebut, sebanyak 941 kasus sudah dinyatakan sembuh, 51 kasus meninggal dunia, serta 395 kasus masih sakit.

Bima menjelaskan, hal penting untuk dicermati dan didalami adalah berapa persen komposisi kasus positif Covid-19 dari kluster yang dianggap sebagai sumber penularan.

Berdasarkan data harian penanganan Covid-19 Kota Bogor, sebagian besar kasus positif Covid-19 tercatat dari kluster keluarga.

"Dari 179 kasus positif ini, 118 di antaranya dari kluster keluarga," katanya.

Bima menegaskan, kluster keluarga ini jika didalami dan diurai lagi, akan diperoleh data penting, yakni 32 persen dari kluster keluarga dengan penularan dari perkantoran.

 Wawancara Eksklusif dengan Camat Cibitung: Kasus Covid-19 Tertinggi Imbas Klaster Industri

"Jadi, kasus positif yang terpapar di kluster keluarga ini adalah terpapar dari kluster perkantoran,” ujarnya.

Kemudian, 29 persen kasus positif dari fasilitas kesehatan, 19 persen dari kluster luar kota dan Jakarta, tujuh persen dari transmisi lokal atau pemukiman, enam persen dari rumah makan/kantin/mini market, empat persen dari acara-acara keluarga, serta tiga persen dari transportasi.

"Itu artinya, saat ini yang paling berbahaya adalah kluster perkantoran," katanya.

Menurut Bima, sektor perkantoran memiliki risiko penularan Covid-19 cukup tinggi karena para karyawan berada dalam satu ruangan tertutup secara bersama-sama dari pagi, siang, sore, dan bahkan sampai malam.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved