Jumat, 17 April 2026

Mengintip Kampung Ramah Lingkungan di Desa Waringin Jaya Bojong Gede

Mengintip Kampung Ramah Lingkungan di RW 13 Desa Waringin Jaya Bojonggede. Simak selengkapnya di dalam berita ini.

Penulis: Yudistira Wanne |
YUDISTIRA WANNE
Ketua RW 13 Desa Waringin Jaya, Bojonggede, Kabupaten Bogor, Taufik saat mengunjungi tanaman hidroponik 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Berangkat dari kegelisahan terkait sampah yang kian menumpuk lantaran truk sampah tidak beroperasi sejak tahun 2017, warga RW 13 Desa Waringin Jaya, Bojonggede, Kabupaten Bogor justru melahirkan ide kreatif dan bermanfaat hingga saat ini.

Ketua RW 13, Desa Waringin Jaya, Taufik menceritakan bahwa warganya justru bahu membahu untuk menghadirkan bank sampah.

Lebih lanjut, Taufik membeberkan bahwa saat ini di lingkungannya justru menjadi salah satu wilayah yang dinobatkan sebagai Kampung Ramah Lingkungan (KRL) lantaran tersedia bank sampah, koperasi dan tanaman hidroponik.

'Ide awal itu, warga RT 06 memiliki komunitas. Kebetulan saat itu kami terbentur dengan pengolahan sampah. Pengolahan sampah seharusnya diangkut oleh truk kuning. Truk kuning saat itu mandek katanya mobilnya tidak bisa jalan," ujarnya.

Terlibat Perkelahian, Seorang Pria Menderita Luka Bacok di Duren Sawit

"Dari situ, kami komunitas menyiasati bagaimana cara mengolah sampah sampai akhirnya kami punya bank sampah," sambungnya.

Sementara itu, Taufik menjelaskan bahwa sampah rumah tangga yang ada di RW 13 dibawa ke bank sampah kemudian dipisahkan antara sampah kering dan sampah basah.

Untuk sampah basah, Taufik menjelaskan bahwa hasil olahan tersebut dijadikan bahan untuk keperluan tanaman hidroponik dan pupuk organik.

"Pengolahan sampah basah seperti sayuran dan lainnya dikumpulkan disatu tempat, lalu diolah kemudian di pres menjadi pupuk. Kalau cairan sampah basah ini untuk tanaman hidroponik dan pupuk organik," jelasnya.

Sedangkan untuk sampah kering, Taufik mengaku bahwa sampah pilihan tersebut dipilih lalu diolah menjadi suatu kerajinan.

Ditinggal Mantan Pelatih Persija, CEO Jakarta United FC Siap Jadi Pengganti

"Kalau sampah kering itu kami kumpulkan itu dipilih. Kemudian yang layak dipisahkan. Hampir semua sampah kering yang ada kemudian diolah menjadi kerajinan," ungkapnya.

Pria berambut putih itu pun mengaku bahwa pengolahan sampah yang dilakukan secara mandiri oleh warga di wilayahnya sudah berjalan bertahun-tahun.

"Warga di masing-masing RT mengolah sendiri sampahnya saat ini. Mangkanya saya menginginkan ada suatu tempat sebagai wadah usaha warga juga. Bagian usaha koperasi," paparnya.

"Pengolahan sampah sudah berjalan tiga tahun setengah. Hasil olahan tersebut didistribusikan untuk warga lokal saja. Dari warga kembali ke warga," tambahnya.

Terkait hasil panen, Taufik membeberkan bahwa hasil panen disalurkan kembali ke warga RW 13 dengan mengusung konsep dari warga untuk warga.

"Hasil panen seluruh anggota koperasi wajib untuk membeli hasil panen tersebut. Alhamdulillah sementara kebutuhan hidroponik itu dari masyarakat kembali ke masyarakat," ujarnya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved