Kolom Trias Kuncahyono

Syalôm Bertemu Salam

“musuhmu yang paling jahat, dapat menjadi sobatmu yang paling baik”; sebaliknya, “sobatmu yang paling baik bisa menjadi musuhmu yang paling jahat."

Istimewa
Ilustrasi 

Karena itu, kedua pemimpin agama itu dengan tegas menyatakan bahwa agama tidak boleh memprovokasi peperangan, sikap kebencian, permusuhan, dan ekstremisme, juga tidak boleh memancing kekerasan atau penumpahan darah.  

Realitas tragis ini merupakan akibat dari penyimpangan ajaran agama.

Hal-hal tersebut adalah hasil dari manipulasi politik agama-agama dan dari penafsiran yang dibuat oleh kelompok-kelompok agama yang, dalam perjalanan sejarah, telah mengambil keuntungan dari kekuatan sentimen keagamaan di hati para perempuan dan laki-laki agar membuat mereka bertindak dengan cara yang tidak berkaitan dengan kebenaran agama. Hal ini dilakukan untuk mencapai tujuan yang bersifat politis, ekonomi, duniawi, dan picik.

Karena itu, Paus dan Imam el-Tayed menyerukan kepada semua pihak untuk ber-henti menggunakan agama untuk menghasut (orang) kepada kebencian, kekerasan, ekstremisme dan fanatisme buta, dan untuk menahan diri dari menggunakan nama Allah untuk membenarkan tindakan pembunuhan, peng-asingan, terorisme, dan penindasan.

Ilustrasi
Ilustrasi (Istimewa)

Dalam syalôm dan salam, terkandung di dalamnya budaya hidup bersama, toleransi, dan persaudaraan.

Itulah yang semestinya terjadi, seperti diserukan Paus Fransiskus dan Imam el-Tayed kepada seluruh umat beragama.

Dalam praktik keseharian, memang, orang sangat mudah dan fasih mengucapkan  syalôm dan salam. Kedua kata tersebut dapat dengan mudah meluncur dari mulut, di mana saja, termasuk di mimbar-mimbar terhormat, kapan saja.

Seakan-akan, kata-kata indah itu memiliki sayap sehingga mudah terbang keluar dari mulut dan hingga di hati setiap orang yang mendengarnya.

Akan tetapi, banyak kali, lain di bibir lain ditindakan. Dari mulut keluar salam, dalam praktiknya tidaklah demikian.

Di negeri yang Bhinneka Tunggal Ika ini, yang dari sejak semula majemuk, plural dalam segala hal hal semacam itu terjadi.

Misi suci agama yakni “membuat umat manusia bahagia di mana-mana” belum sepenuhnya terwujud di negeri ini.

Maka, toleransi menjadi sangat penting untuk ditegakkan menjadi modal awal agar kita semua terbebas dari sikap intoleransi.

Toleransi di Indonesia, lebih sebagai peneguhan bahwa masyarakat kita itu majemuk—masyarakat dunia juga majemuk.

Artinya, itulah realitas masyarakat Indonesia, yang harus diterima dengan lapang dada, tulus ihklas, dan penuh syukur.

Di sinilah arti penting   syalôm dan salam, sebagai satu saudara. ***

BACA KOLOM TRIAS KUNCAHYONO SELENGKAPNYA, KLIK: Syalôm Bertemu Salam

Sumber: WartaKota
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved