Kolom Trias Kuncahyono
Syalôm Bertemu Salam
“musuhmu yang paling jahat, dapat menjadi sobatmu yang paling baik”; sebaliknya, “sobatmu yang paling baik bisa menjadi musuhmu yang paling jahat."
Yang terakhir, salam, biasanya diterjemahkan dengan “damai”; sedang yang pertama syalôm diterjemahkan dengan “sejahtera”.
Barangkali paling “pas” berarti: damai-sejahtera, aman-sentosa. Damai-sejahtera, aman-sentosa berarti tidak ada perang.
Ketiga tradisi yang turun dari Abraham (Ibrahim)—Yahudi, Kristen, dan Islam— menurut Zachary Karabell (2008) memiliki inti perdamaian.
Di gereja-gereja di seluruh dunia, umat dalam bagian ibadat saling berpaling dan berkata, “Damai besertamu.” Masuklah ke toko, rumah, atau masjid mana saja di dunia Muslim, dan kita akan disambut dengan salam, “Salam aleikum”, “Salam sejahtera.”
Dan jawabannya selalu sama: “Dan untukmu, damai sejahtera.”
Orang Yahudi di Israel akan memulai dan mengakhiri percakapan dengan salam sederhana syalôm, “damai”.
Masing-masing agama mengajarkan pengikutnya untuk menyapa teman dan orang asing dengan tangan terbuka yang hangat untuk menerima.
Kedamaian datang pertama dan terakhir. Karena itu, syalôm, salam, berarti keadaan yang baik.
Mungkin tidak ideal tetapi bahagia, tanpa gangguan, tanpa rasa takut, tanpa kecemasan, tanpa kecurigaan, tanpa pikiran macam-macam; di sana ada persaudaraan.
Tahun lalu, di Abu Dhabi pula, terjadi pertemuan syalôm dan salam, saat Paus Fransiskus bertemu Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Ahmed el-Tayed pada tanggal 4 Februari 2019.
Pertemuan bersejarah ini menghasilkan The Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together (Tentang Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Beragama).
Dokumen Abu Dhabi ini menjadi peta jalan yang sungguh berharga untuk membangun perdamaian dan menciptakan hidup harmonis di antara umat beragama, dan berisi beberapa pedoman yang harus disebarluaskan ke seluruh dunia.
Paus Fransiskus mendesak agar dokumen ini disebarluaskan sampai ke akar rumput, kepada semua umat yang beriman kepada Allah.
Lewat dokumen tersebut, kedua tokoh dunia itu mengajak semua pihak, tanpa kecuali, untuk menemukan kembali nilai-nilai perdamaian, keadilan, kebaikan, keindahan, persaudaraan manusia dan hidup berdampingan dalam rangka meneguhkan nilai-nilai ini sebagai jangkar keselamatan bagi semua, dan untuk memajukannya di mana-mana
Dokumen Abu Dhabi mengingatkan, sejarah menunjukkan bahwa ekstremisme agama, ekstremisme nasional, dan juga intoleransi telah menimbulkan di dunia, baik itu di Timur atau Barat, apa yang mungkin disebut sebagai tanda-tanda “perang dunia ketiga yang sedang berlangsungsedikit demi sedikit”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/syalom-001.jpg)