Selasa, 2 Juni 2026

Wamenhan Bilang Bela Negara Bukan Pendidikan Militer, tapi Mirip

Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono mengklarifikasi usulan pendidikan bela negara untuk mahasiswa.

Tayang:
KONTAN
Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono mengklarifikasi usulan pendidikan bela negara untuk mahasiswa.

Ia menegaskan, yang tengah dibahas oleh pihaknya dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bukanlah pendidikan militer, melainkan pendidikan bela negara.

"Saya mau koreksi sedikit ya, itu bukan pendidikan militer, itu bela negara."

DAFTAR Cuti Bersama ASN 2020, Pengganti Libur Idul Fitri 28-31 Desember 2020

"Kalau militer itu kan kesannya militerisasi."

"Tapi kalau bela negara kan berbeda itu," kata Trenggono dalam acara Talk Highlight Radio Elshinta bertajuk 'Pendidikan Militer 2021 Milenial Harus Siap Jadi Komponen Cadangan, Rabu (19/8/2020).

Terkait kerja sama Kemhan dengan Kemendikbud, Trenggono mengatakan hal tersebut masih pada tingkat diskusi.

Densus 88 Ciduk Istri Ali Kalora di Poso, Pernah Gabung 23 Hari Bersama MIT

Awalnya, kata Trenggono, Kemhan tengah mencari bentuk pendidikan bela negara yang cocok untuk generasi milenial.

Kemudian, Kemhan berdiskusi dengan Kemendikbud dan mengetahui Kemendikbud memiliki program Merdeka Belajar.

Dalam diskusi tersebut kemudian Kemhan mengusulkan bagaimana jika kegiatan bela negara dimasukkan dalam program Merdeka Belajar, karena kegiatan tersebut positif.

Meski Anggap Cuma Oposisi Jalanan, Boni Hargens Nilai KAMI Bisa Jadi Ancaman karena Tiga Alasan Ini

Trenggono menjelaskan, bentuk pendidikan bela negara adalah pendidikan terkait disiplin, ketangkasan, dan sebagainya.

Ia pun menegaskan pendidikan tersebut tidak bersifat wajib dan mengikat, melainkan sukarela.

"Nah, salah satu yang ketemu adalah, oke di perguruan tinggi ada merdeka belajar, misal satu semester mereka ikut pendidikan bela negara, ikut pendidikan disiplin dan lain-lain."

Jangan Gagal Paham, Ini 7 Istilah Baru dalam Penanganan Covid-19

"Bukan militer tapi latihan bela negara."

"Tapi seolah mirip militer tapi bukan. Itu latihan disiplin ketangkasan dan lain-lain," terang Trenggono

Trenggono mengungkapkan, satu di antara yang mendasari usul tersebut adalah semakin besarnya pengaruh dari luar negeri terhadap milenial.

Respons Deklarasi KAMI, Politikus Golkar: Apanya yang Perlu Diselamatkan?

Khususnya, melalui perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat.

Ia mencontohkan bagaimana saat ini budaya pop antara lain musik dan sebagainya dari Korea Selatan (K-Pop), bisa mempengaruhi sebagian besar dunia.

"Nah tinggal kita, apa akan bisa menjadi negara yang mampu mempengaruhi pihak lain atau kita yang terpengaruh," tutur Trenggono.

Harun Masiku Sudah 7 Bulan Buron, KPK Masih Optimis Bisa Menangkap

Terkait bela negara, kata Trenggono, sebetulnya tidak hanya untuk mahasiswa, namun juga untuk semua milenial bangsa.

Bahkan menurutnya setiap penduduk Indonesia yang dewasa juga harus punya jiwa bela negara.

"Mereka tinggal di sini, besar di sini, dan mereka juga harus berbuat sesuatu, bahwa ada kedaulatan bangsa ini harus dijaga semua pihak, termasuk milenial itu," beber Trenggono.

INI Lima Kandidat Vaksin Covid-19 yang Diracik Indonesia, Bikin Sendiri dan Kerja Sama Negara Lain

Sebelumnya diberitakan, Kementerian Pertahanan tengah menjajaki kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, agar para mahaswa bisa ikut Program Bela Negara.

Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, rencananya mahasiswa bisa ikut pendidikan militer selama satu semester.

Nantinya, kata Trenggono, hasil dari pendidikan tersebut akan dimasukkan ke dalam Satuan Kredit Semester (SKS).

 Subsidi Gaji Rp 600 per Bulan Cair pada 25 Agustus 2020, Bakal Diserahkan Langsung oleh Jokowi

Trenggono mengatakan, rencananya program tersebut ditujukan agar Indonesia memiliki generasi milenial yang tidak hanya kreatif dan inovatif, melainkan juga cinta bangsa dan negara dalam kehidupannya sehari-hari.

"Nanti, dalam satu semester mereka bisa ikut pendidikan militer, nilainya dimasukkan ke dalam SKS yang diambil."

"Ini salah satu yang sedang kita diskusikan dengan Kemendikbud untuk dijalankan."

 LIVE STREAMING Upacara HUT ke-75 RI di Istana: Wakil Aceh Dipilih Jadi Pembawa Sang Merah Putih

"Semua ini agar kita memiliki milenial yang tidak hanya kreatif dan inovatif."

"Tetapi cinta bangsa dan negara dalam kehidupan sehari-harinya," kata Trenggono dalam keterangan tertulis, Minggu (16/8/2020).

Ia mengatakan, Kemhan melalui Program Bela Negara akan terus menyadarkan masyarakat, terutama para milenial, untuk bangga sebagai orang Indonesia.

 Erick Thohir: Kebijakan Bapak Presiden Tangani Covid-19 Sudah Tepat, Enggak Usah Berdebat Lagi

Trenggono berpesan agar milenial Indonesia tidak kalah dengan Korea Selatan yang mampu mengguncang dunia melalui budaya K-Pop, yang jika dilihat dari sudut pertahanan, sebagai cara mereka melalui industri kreatifnya mempengaruhi dunia.

Menurutnya, Indonesia seharusnya bisa seperti itu, karena kita punya seni dan budaya yang banyak.

"Rasa bahwa saya adalah orang Indonesia, terlahir di Indoensia, memiliki kultur Indonesia, adat istiadat Indonesia."

 HUT ke-75 RI, Jokowi Kembali Kenakan Baju Adat Asal NTT, Kali Ini dari Timor Tengah Selatan

"Kami ingin melalui Program Bela Negara, milenial bangga terlahir di Indonesia, menjadi bagian dari warga dunia."

"Ini filosofi dari Program Bela Negara itu," terang Trenggono.

Trenggono mengatakan, kecintaan terhadap negara oleh milenial bisa ditunjukkan dengan bergabung dalam Komponen Cadangan (Komcad), sesuai amanat UU 23/2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara.

 Besok KAMI Ajukan 8 Tuntutan kepada Jokowi di Tugu Proklamasi, Siap Debat dengan Siapapun

"Komcad ini bukan wajib militer. Ini kesadaran dari warga masyarakat yang ingin membela negara jika terjadi perang, difasilitasi dengan memberikan pelatihan selama beberapa bulan."

"Usai latihan dikembalikan ke masyarakat. Jika negara dalam keadaan perang, mereka siap bertempur," bebernya.

Trenggono juga berpesan kepada para milenial untuk terus belajar dan berkompetisi.

 FOTO-FOTO Polisi dan Pengendara Berdiri Tegak Saat Peringatan Detik-detik Proklamasi di Bundaran HI

Ia meminta agar milenial Indonesia tidak kalah dengan milenial di negara lain. 

"Bikin inovasi dan lain sebagainya yang bisa membawa harum nama bangsa dan bermanfat bagi masyarakat."

"Kita yang sudah senior selalu akan memberi ruang dan fasilitas untuk generasi berikutnya berkompetisi," papar Trenggono.

 Uang Kertas Baru Nominal Rp 75.000 Diluncurkan Saat HUT ke-75 RI, Begini Cara Mendapatkannya

Indonesia saat ini, kata Trenggono, adalah negara yang tengah berkompetisi, karenanya harus siap menghadapi persaingan dunia.

Indonesia, kata dia, akan memasuki era bonus demografi mulai 2025 sampai 2030, yang ditandai dengan dominannya penduduk usia produktif.

Generasi milenial, kata Trenggono, akan mengisi bonus demografi tersebut, sehingga perlu disiapkan untuk menggerakkan perekonomian bangsa di masa depan.

 Pakai Teknologi Teranyar, Uang Kertas Baru Pecahan Rp 75 Ribu Lebih Sulit Dipalsukan

"Kita negara yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang kuat, laut bagus, alam bagus, dan lainnya."

"Jadi, generasi berikutnya ini harus kita pacu, kita picu supaya mereka punya jiwa atau rasa nasionalisme yang tumbuh."

"Mereka lahir dan besar di mana pun akan kembali ke tanah air atau negara ini."

"Mereka harus tunjukkan kecintaannya kepada bangsa ini melalui satu kreativitas dan inovasi, serta cinta produk lokal," beber Trenggono. (Gita Irawan)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved