Senin, 4 Mei 2026

Berita Internasional

Erdogan: Status Hagia Sophia Urusan Internal Turki, Rusia: Ya, tapi Itu Simbol Toleransi Antar Agama

Rusia menyebut, museum Hagia Sophia merupakan 'simbol dari perdamaian dan toleransi antar-agama', selain tempat suci bagi umat Kristen.

Tayang:
Editor: Fred Mahatma TIS
Ozan KOSE / AFP
Hagia Sophia pada 28 Juni 2020. Pada 10 Juli 2020, pengadilan tinggi Turki mencabut status Hagia Sophia sebagai museum. Pencabutan status itu disambut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan memutuskan mengubah kembali Hagia Sophia menjadi masjid, di mana awalnya situs warisan budaya UNESCO tersebut merupakan katedral terbesar di dunia pada era Bizantium. 

"Ini adalah debat di mana Erdogan tak bisa kalah dan oposisi tak bisa menang. Faktanya, keputusan ini berpotensi memecah penentang," paparnya dilansir AFP.

Meski begitu, pakar menyebut pengembalian status Hagia Sophia menjadi masjid bisa memanaskan relasi Erdogan dengan negara Barat.

Apalagi, saat ini pemerintahannya tengah berjibaku dengan krisis ekonomi dan konflik yang mereka dukung di sejumlah kawasan Timur Tengah.

MUSEUM Hagia Sophia Diubah Jadi Masjid oleh Presiden Turki Erdogan, Amerika Serikat dan Yunani Marah

'Memahami dengan kekecewaan'

Sementara itu, Rusia dapat memahami bahwa status Hagia Sophia merupakan urusan internal Turki.

Namun, negeri 'Beruang Merah' ini tetap mengungkapkan kekecewaan karena penghentian predikat museum yang sudah disematkan sejak 1935.

Komunitas internasional memberikan sorotan tajam setelah Jumat (10/7/2020), pengadilan setempat memutuskan mencabut status museum Hagia Sophia.

Gereja Ortodox Rusia juga sudah menyatakan keberatannya atas manuver yang dilakukan oleh Ankara, seperti diberitakan AFP Senin (13/7/2020).

Dalam komentarnya, juru bicara kementerian luar negeri Maria Zakharova menuturkan Moskwa 'memahami dengan kekecewaan' keputusan Ankara.

Katedral era Bizantium

Awalnya Hagia Sophia merupakan katedral era Kekaisaran Bizantium.

Bangunan yang masuk situs warisan dunia UNESCO itu lalu dijaikan masjid ketika dikuasai Turki Ottoman dan pada 1935 diubah jadi museum.

Pada Jumat, juru bicara gereja Ortodox, Vladimir Legoida, menyatakan 'kekhawatiran jutaan orang Kristen' tidak didengar oleh Ankara.

Simbol toleransi

Sementara komentar Zakharova muncul setelah Wakil Menteri Luar Negeri, Sergei Vershinin, memandang masalah itu adalah urusan internal Turki.

Negara lain, beber Vershinin, tidak punya hak untuk melakukan intervensi manuver yang dilaksanakan pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Zakharova menerangkan, museum tersebut merupakan "simbol dari perdamaian dan toleransi antar-agama" selain tempat suci bagi umat Kristen.

Sang juru bicara melanjutkan, pemerintah Rusia berharap manajemen Hagia Sophia bisa mematuhi segala aturan yang ditetapkan Hagia Sophia.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved