Minggu, 3 Mei 2026

Berita Internasional

Erdogan: Status Hagia Sophia Urusan Internal Turki, Rusia: Ya, tapi Itu Simbol Toleransi Antar Agama

Rusia menyebut, museum Hagia Sophia merupakan 'simbol dari perdamaian dan toleransi antar-agama', selain tempat suci bagi umat Kristen.

Tayang:
Editor: Fred Mahatma TIS
Ozan KOSE / AFP
Hagia Sophia pada 28 Juni 2020. Pada 10 Juli 2020, pengadilan tinggi Turki mencabut status Hagia Sophia sebagai museum. Pencabutan status itu disambut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan memutuskan mengubah kembali Hagia Sophia menjadi masjid, di mana awalnya situs warisan budaya UNESCO tersebut merupakan katedral terbesar di dunia pada era Bizantium. 

Rusia menyebut, museum Hagia Sophia merupakan 'simbol dari perdamaian dan toleransi antar-agama', selain tempat suci bagi umat Kristen.

WARTAKOTALIVE.COM, ANKARA - Perubahan status Hagia Sophia merupakan urusan internal Turki, maka setiap negara harusnya menghormati itu.

Hal tersebut ditegaskan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan setelah pengadilan setempat mencabut status museum Hagia Sophia yang masuk ke dalam warisan dunia UNESCO itu.

Alhasil, pencabutan Hagia Sophia dari museum memberikan jalan bagi pemerintah Turki untuk mengembalikan bangunan itu menjadi masjid.

Museum Hagia Sophia Jadi Masjid, Yunani Ancam Ubah Rumah Mustafa Kemal Ataturk Jadi Museum Genosida

"Pengambilan keputusan Hagia Sophia adalah hak negara Turki, bukan yang lain. Ini adalah urusan internal kami," tegas Erdogan kepada Kriter.

Dikutip Anadolu Minggu (12/7/2020), dia menekankan setiap negara harusnya menghormati negaranya, dan menjelaskan mengapa dia mengambil langkah yang menjadi sorotan itu.

Dalam pandangan mantan Wali Kota Istanbul tersebut, perubahan dari masjid menjadi museum pada 1934 merupakan 'keputusan menyakitkan buat mereka'.

Museum Hagia Sophia Diubah Jadi Masjid Lagi, Paus Fransiskus Sedih, Ini Fakta Monumen Era Bizantium

Dia mengabaikan kritik baik dari dalam negeri maupun luar, dengan menyatakan argumentasi yang mereka sampaikan 'tak ada artinya'.

Pada Jumat (10/7/2020), pengadilan tertinggi Turki, Dewan Negara, membatalkan dekrit kabinet yang sudah diterapkan selama 85 tahun terakhir.

Dalam putusan, disebutkan bangunan itu merupakan milik yayasan yang didirikan oleh Sultan Mehmet II, penakluk Istanbul, yang dipersembahkan sebagai masjid.

Bangunan itu awalnya merupakan katedral di bawah kekuasaan Kekaisaran Bizantium selama berabad-abad, dan kemudian jadi masjid pada 1435.

5 FAKTA Menarik Hagia Sophia, Didirikan Kaisar Justinian I Abad VI Dikuasai Ottoman hingga Erdogan

Sarat politis

Para pakar menyatakan, keputusan tersebut sarat muatan politis, lantaran memberi keleluasaan bagi Erdogan untuk menguatkan pendukungnya sekaligus memecah oposisi.

Jean Marcou, peneliti French Institute for Anatolian Studies mengatakan, bagi pendukung sang presiden, status museum Hagia Sophia merupakan perampasan.

"Niat Erdogan adalah menegaskan kekuasaan Turki dan Muslim lewat pendekatannya di nasional seperti halnya agama," beber Marcou.

FOTO-Foto Kemegahan Hagia Sophia Berusia 1.500 Tahun yang Diubah Presiden Turki Jadi Masjid

Ozgur Unluhisarcikli, Direktur German Marshall Fund di Ankara menjelaskan, manuver itu jelas akan merebut hati mayoritas rakyat.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved