Breaking News:

Belajar Melalui Sistem Daring, Orangtua Murid Beli Smartphone Hingga Pasang Wifi

Atas kondisi ini Ade berharap agar PJJ segera berakhir dan kegiatan belajar mengajar tatap muka bisa segera kembali digelar.

Warta Kota/Rangga Baskoro
Kegiatan MPLS di SMAN 22 Jakarta berlangsung secara daring, Matraman, Jakarta Timur, Senin (13/7/2020). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kegiatan belajar mengajar di awal tahun ajaran baru 2020/2020 dilakukan dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring. Meskipun masih dalam masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), beberapa orangtua murid mengeluhkan soal biaya untuk kuota internet.

Salah satunya diungkap orangtua murid, Raminah (50). Warga yang tinggal di Blok Empang, Muara Angke, Pluit, Penjaringan, ini mengaku anaknya yang diterima di SMPN 261, masih mengikuti MPLS secara daring.

Gugus Tugas Khawatir Liga 1 Jadi Klaster Baru Penyebaran Covid-19, Peraturan Ketat Harus Disiapkan

Peringatan PBB: Ratusan Juta Orang Berada di Ambang Kelaparan Parah Akibat Pandemi Corona

Kondisi ini, lanjut Raminah, membuatnya harus memutar otak agar anaknya bisa mengikuti MPLS secara daring. Raminah akhirnya membelikan anaknya smartphone. “Dapat bantuan dari pemerintah dan uangnya dibeliin handphone yang murah-murah. Terpenting anak saya bisa ngikutin pelajaran,” kata Raminah, Selasa (14/7/2020).

Warga RT 04/22 Pluit, itu mengaku harus mengeluarkan uang untuk membeli kuota internet agar anaknya bisa mengikuti PJJ secara daring. “Kalau isi paket internet Rp 60.000, nggak sampai dua minggu sudah habis. Sebulan bisa Rp 200.000,” tutur Raminah.

Raminah yang bekerja sebagai pengupas kerang, itu mengaku biaya itu sangat membebani. Apalagi, suaminya, Muhammad Muchlis, tidak lagi bekerja.

Kemenpora Lakukan MoU Dengan PP Perpani dan PB PASI, Menpora: Kita Lakukan Terbuka Agar Bisa Diawasi

Horee, Ada130 Orang Dinyatakan Sembuh Usai Menjalani Isolasi dan Perawatan di RLC Kota Tangsel

Hal senada juga diungkap Ade (25), warga RT 04/22 Pluit. Ade adalah wali dari Darwini, siswa Kelas IX SMP Negeri 261. “Kalau adik saya pakai handphone ibunya karena Darwini nggak punya handphone. Cuma, buat beli kuota internet, bisa ngeluarin biaya Rp 200 sebulan,” ujarnya.

Ade mengakuu besarnya biaya kuota internet dirasa cukup memberatkan. “Mau pakai KJP (Kartu Jakarta Pintar) nggak mungkin. Nanti ditanyain seragam sudah jelek kok nggak dibeli yang baru atau sepatu sudah lusuh kok nggak diganti,” katanya. Atas kondisi ini Ade berharap agar PJJ segera berakhir dan kegiatan belajar mengajar tatap muka bisa segera kembali digelar.

Pasang wifi

Warga lainnya, Wartini mengaku harus mengeluarkan biaya kuota inernet Rp 150.000 untuk anaknya agar bisa belajar secara daring. Ibu dua anak ini mengakui biaya kuota internet cukup membebani.
Warga Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, itu mengaku anaknya yang baru masuk SD belum paham benar dengan sistem belajar daring. “Kadang anak saya suka ngedumel kalau lagi belajar daring,” ujarnya, Selasa (14/7/2020).

129.807 Peserta PBPU BPJS Kesehatan Pindah dari Kelas II ke Kelas III

Hujan di Periuk Kota Tangerang Kembali Kebanjiran

Sementara, Ilham Andriyansah, akhirnya memutuskan memasang wifi untuk memudahkan anaknya belajar sistem daring. “Saya harus keluarin Rp 800.000 untuk pemasangan wifi,” ujar warga Kota Bambu Utara, Palmerah, Jakarta Barat itu.

Meski demikian, Ilham mengaku, selama belajar daring, jaringan internet tidak terus lancar. “Ini kerap tersendat-sendat videonya. Entah keterbatasan jaringan wifi di sekolahnya atau apa kita nggak tahu,” papar Ilham. 

Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: Agus Himawan
Sumber: Motor Plus
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved