Selasa, 14 April 2026

PSBB Transisi

Kader PSI Anggap Pemprov DKI Belum Serius Benahi Protokol Covid-19 di Pasar Tradisional

Saat mengunjungi pasar, hanya didapat sekitar 10 ASN yang bertugas berkeliling, jauh dari klaim akan ada 50 ASN diturunkan ke lapangan.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Feryanto Hadi
Ricky Martin Wijaya
Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PSI William Aditya Sarana saat jumpa pers di Gedung DPRD DKI Jakarta, Gambir, Jakarta Pusat pada Rabu (30/10/2019). 

WARTAKOTALIVE.COM, GAMBIR - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dianggap belum serius membenahi protokol kesehatan di pasar tradisional yang merupakan titik episentrum penyebaran Covid-19.

Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD DKI Jakarta mendesak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk membenahi pasar tradisional agar penyebaran virus dapat dikendalikan.

“Kita butuh terobosan dan ketegasan untuk memutus rantai penyebaran virus. Sekarang ini virus dari pasar tradisional sudah merambah ke pemukiman sekitar,” kata anggota Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta William Aditya Sarana berdasarkan keterangan yang diterima pada Sabtu (11/7/2020).

DKI Luncurkan Portal Siap Belajar Sambut Tahun Ajaran Sekolah 2020/2021

“Kalau tidak dibenahi lonjakan kasus akan terus terjadi,” tambah William yang juga menjadi anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta ini.

William mengaku, pihaknya telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Cengkareng, Jakarta Barat yang dikelola oleh Perumda Pasar Jaya pada Jumat (10/7/2020) lalu.

Dari hasil sidak tersebut ditemukan belum ada ketentuan pasti terkait pembatasan pengunjung pasar hingga 50 persen.

Padahal sejak aturan ganjil genap pedagang dihapus, kapasitas pengunjung pasar ini akan diawasi dan diperketat.

Mulai Minggu Besok, DKI Kurangi Dua Lokasi Kawasan Khusus Bersepeda

Pengerahan 5000 Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk memantau juga masih belum menjamin pelaksanaan protokol kesehatan akibat buruknya sistem ventilasi dan minimnya jarak antar lapak pedagang sehingga resiko penularan tinggi.

Dalam sidaknya, William juga mendapati pos pemantauan pengunjung dilakukan di samping parkiran motor, bukan di pintu masuk pasar.

Hal ini menyebabkan pengunjung yang berjalan kaki dapat mudah lolos dari hitungan.

Dia juga meragukan pengelola pasar memiliki hitungan pasti berapa jumlah pengunjung yang diperbolehkan masuk ke dalam pasar.

Terapis dan Pemandu Lagu Jual Sapi hingga Gadai Mobil demi Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Corona

“Diperkirakan 500 pengunjung boleh masuk pasar, tapi itu hanya tebakan pengelola pasar saja. Tapi bagaimana mau dibatasi kalau tidak ada yang menghitung,” ungkapnya.

Saat mengunjungi pasar, hanya didapat sekitar 10 ASN yang bertugas berkeliling, jauh dari klaim akan ada 50 ASN diturunkan ke lapangan.

Kata dia, ASN memang sudah bertugas, tapi fungsinya belum optimal.

“Banyak pedagang hanya memakai masker, tidak pasti apa cukup pakai masker atau wajib pakai face shield dan sarung tangan seperti anjuran Kemenkes,” ujarnya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved