Pembunuhan

Kasus Pembunuhan Karyawan Metro TV, Jasad Ditemukan di Pinggir Tol JORR W2 dan Harta Bendanya Utuh

Penemuan sosok jasad karyawan Metro TV di pinggir Tol JORR W2, Kelurahan Ulujami, Kecamatan Pesanggarahan, Jakarta Selatan, bikin heboh.

Editor: PanjiBaskhara
Kompas.com
Ilustrasi - Seorang karyawan Metro TV dibunuh di pinggir Tol JORR W2, Kelurahan Ulujami, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Penemuan sosok jasad karyawan Metro TV di pinggir Tol JORR W2, Kelurahan Ulujami, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, bikin heboh.

Diketahui, jasad karyawan Metro TV di Tol JORR W2 tersebut atas nama Yodi Prabowo yang kini tengah ditangani pihak kepolisian.

Terkait kasus pembunuhan karyawan Metro TV Yodi Prabowo masih didalami pihak kepolisian setempat.

Besar dugaan karyawan Metro TV dibunuh tak jauh dari lokasi penemuan jenazah.

Harta Benda Yodi Prabowo Karyawan Metro TV yang Dibunuh di Pinggir Tol JORR W2 Ulujami Masih Lengkap

Karyawan Metro TV Tewas Ditikam, Mayatnya Ditemukan di Pinggir Jalan Tol JORR W2

KRONOLOGI Guru SD Dirudapaksa dan Dibunuh, Pelaku Sempat Nonton Video Porno dan Intip Korban Mandi

Tepatnya dii sisi Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road West 2 (JORR W2), Jakarta Selatan.

Hal tersebut diungkapkan Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan AKBP Irwan Susanto.

Dipaparkannya, pihaknya masih mendalami kasus pembunuhan Yodi Prabowo.

Namun ditemukan sejumlah fakta, satu di antaranya harta benda milik korban masih lengkap.

Harta benda milik korban yang diamankan di lokasi kejadian antara lain sepeda motor Honda Beat bernomor polisi B6750WHC yang sebelumnya diamankan Polsek Pesanggrahan di lokasi kejadian pada Rabu (8/7/2020).

Sedangkan, harta benda yang ditemukan pada jenazah korban antara lain, dompet berisi identitas, kartu ATM dan uang tunai serta ponsel milik korban.

"Barang-barangnya tidak ada yang hilang, intinya korban tidak kejahatan," jelasnya dihubungi pada Jumat (10/7/2020).

Luka Tusuk

Yodi Prabowo ditemukan tewas tergeletak di sisi jalan tol Jakarta Outer Ring Road West 2 (JORR W2), Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan pada Jumat (10/7/2020) pukul 11.00 WIB.
Yodi Prabowo ditemukan tewas tergeletak di sisi jalan tol Jakarta Outer Ring Road West 2 (JORR W2), Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan pada Jumat (10/7/2020) pukul 11.00 WIB. (istimewa)

Nasib naas dialami seorang karyawan MetroTV bernama Yodi Prabowo.

Pria berusia 26 tahun itu ditemukan tewas tergeletak di sisi jalan tol Jakarta Outer Ring Road West 2 (JORR W2), Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan pada Jumat (10/7/2020) pukul 11.00 WIB.

Penemuan tersebut diungkapkan Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan AKBP Irwan Susanto bermula dari sejumlah anak-anak di sekitar lokasi kejadian.

Pihaknya kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan ditemukan sejumlah fakta.

Korban ditemukan masih mengenakan jaket berwarna hijau lumut, celana jeans warna hitam, tas selempang, sepatu outdoor, dan helm warna hitam dalam keadaan terpelungkup.

Korban dipastikannya tewas dibunuh.

Hal tersebut terlihat dari sejumlah luka tusukan pada bagian perut dan dada.

Warga Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan itu diperkirakannya dibuang usai dieksekusi di sekitar kejadian.

Sebab diketahui sepeda motor korban sebelumnya diamankan anggota Polsek Pesanggrahan pada Rabu (8/7/2020) lalu.

"Untuk dari Hasil identifikasi sementara korban ditemukan luka tusukan dari lebih dari satu di bagian dada atasnya diduga korban pembunuhan," ungkap AKBP Irwan dihubungi pada Jumat (10/7/2020).

Lebih lanjut dipaparkannya, pihaknya telah menguhuhbungi pihak keluarga.

Kabar duka tersebut dibalas dengan pihak keluarga yang menyebutkan korban sudah tidak pulang ke rumah selama tiga hari belakangan.

“Ya betul sudah tiga hari,” katanya.

Terkait kasus pembunuhan tersebut, pihaknya kemudian mengirim jenazah korban ke Rumah Sakit Pusat Polri Kramat Jati, Jakarta Timur untuk diotopsi.

Bersamaan dengan hal tersebut, pihaknya mengamankan sebilah pisau dengan gagang berwarna hitam yang ditemukan di lokasi kejadian.

"Kasus masih kita dalami, belum diketahui apakah termasuk alat kejahatan atau tidak. mengenai motifnya juga begitu," jelasnya.

Anak Gadis Berusia 10 Tahun Dibunuh Ayah

Seorang gadis berusia 10 tahun dibunuh oleh ayahnya sendiri dengan cara  mencekiknya menggunakan ikat pinggang.

Penyebabnya hal 'sepele' karena di gadis itu "mengangkat suaranya" kepada ayahnya.

Ayah dari Iran bernama Hussein Alef itu mengakui telah membunuh gadis itu dengan ikat pinggang untuk mencekiknya.

Media lokal melaporkan bahwa di pengadilan, Hussein Alef, mengaku bertanya kepada tetangganya tentang hukuman apa yang akan dikenakan jika membunuh putrinya dan merasa dia tidak akan dihukum.

Sang putri yang dibunuh ayah bernama Hadits Orujlu.

Hussein mengaku kepada polisi: "Putriku banyak mengangkat suaranya kepadaku, aku menjadi marah sejenak dan tidak bisa mengendalikan diri lagi."

Seorang saksi bernama Rahimeh Faizi mengatakan: "Dia tahu bahwa karena dia adalah seorang ayah, hukum tidak memberikan hukuman berat."

Hussein Alef, kata Rahimeh Faizi, mengatakan, 'Aku akan membayar tebusan dan tinggal di penjara selama beberapa tahun'.

Laporan forensik menemukan bahwa gadis muda itu meninggal karena sesak napas setelah dicekik, demikian dilaporkan Iran International TV.

Di bawah hukum Syariah di Iran ketentuan "mata ganti mata", pembunuhan dapat dihukum mati.

Tetapi hukum menawarkan pengecualian untuk pembunuhan seorang anak oleh wali yang sah.

Wali yang sah ini umumnya merujuk pada ayah atau kakek kandung.

Raha Bahreini, Peneliti Iran di Amnesty International, mengatakan kepada Fox News: "Ayah atau kakek dari pihak ayah yang membunuh anak-anak atau cucu mereka tidak tunduk pada proporsionalitas, yang dapat memperburuk risiko 'kejahatan kehormatan' terhadap anak perempuan dan perempuan."

Gadis 14 Tahun Juga Dibunuh Ayah

Romina Ashrafi (13) gadis Iran yang tewas setelah lehernya digorok oleh ayah kandungnya sendiri dengan alasan 'demi kehormatan'.
Romina Ashrafi (13) gadis Iran yang tewas setelah lehernya digorok oleh ayah kandungnya sendiri dengan alasan 'demi kehormatan'. (Masih Alinejad/twitter/dailymail)

Sebelumnya dilaporkan Romina Ashrafi yang berusia 14 tahun dipenggal oleh ayahnya dalam pembunuhan demi kehormatan yang mengejutkan Iran bulan lalu.

Romina Ashrafi disebut-sebut pergi dengan kekasihnya berusia 30 tahun sehingga membuat marah dan malu keluarga. 

Setelah pembunuhan Romina, Iran mengeluarkan undang-undang yang bertujuan melindungi anak-anak dari kekerasan, yang telah terhenti selama lebih dari satu dekade.

Undang-undang baru itu diratifikasi pada 7 Juni 2020 oleh Dewan Pengawas garis keras pengawas, yang harus menyetujui semua RUU yang disahkan oleh parlemen untuk memastikan mereka konsisten dengan konstitusi negara dan hukum Islam.

Jika undang-undang perlindungan anak telah disahkan sebelumnya, itu bisa menyelamatkan nyawa Romina dan Hadis, sumber lokal menyarankan.

Terlepas dari undang-undang baru, pemerintah Iran belum memberlakukan rancangan undang-undang yang ditulis lebih dari sembilan tahun yang lalu yang akan mengkriminalisasi kekerasan berbasis gender, yang tersebar luas di Iran.

Sementara tidak ada data resmi yang berkaitan dengan pembunuhan demi kehormatan di Iran, kantor berita internal ISNA memperkirakan bahwa rata-rata 350 hingga 450 pembunuhan demi kehormatan terjadi di Republik Islam setiap tahun.

Penelitian badan tersebut menemukan bahwa pembunuhan demi kehormatan dan pembunuhan yang dilakukan oleh anggota keluarga merupakan hampir 20 persen dari semua pembunuhan di Iran.

Wartawan di Iran International TV, Nargess Tavassolian mengatakan: "Lebih banyak berita tentang kejahatan ini terungkap, tetapi perlu diingat bahwa kejahatan ini tidak dilaporkan, dan mereka tidak menemukan jalan mereka ke media."

Gadis Berambut Panjang Dipenggal Ayah

Sebuas-buasnya harimau , tak akan memangsa anaknya sendiri.

Peribahasa itu untuk menggambarkan betapa orangtua tidak akan tega melukai atau membunuh anaknya sendiri meski orangtua tersebut berperilaku kejam.

Tetapi, kasus yang ini benar-benar nyata.

Seorang gadis  berusia 13 tahun tewas di tangan ayah kandung sendiri.

Tragisnya, gadis bernama Romina Ashrafi ini tewas dalam kondisi mengenaskan, lehernya nyaris putus ditebas sabit.

Ayah penggal leher anak kandung, Romina Ashrafi,  saat korban tertidur lelap dengan alasan demi sebuah kehormatan.

Informasi yang diperoleh Wartakotalive.com dari dailymail.co.uk menyebutkan, Romina Ashrafi selama ini menjalin kasih dengan lelaki 34 tahun.

Romina Ashrafi terbunuh dengan sabit pertanian di rumah keluarganya di Hovigh, kabupaten Talesh, selatan Teheran, Iran, sebagai bentuk 'hukuman', demikian berita-breita di media lokal Iran.

Romina Ashrafi diberitakan  telah merencanakan untuk melarikan diri dengan seorang pria yang lebih tua yang telah dia cintai, kata TV International Iran.

Gadis remaja itu awalnya melarikan diri dari rumahnya dengan Bahamn Khavari (34) setelah ayahnya menyatakan kemarahan atas rencana mereka untuk menikah.

Namun kedua keluarga mereka menghubungi pihak berwenang setempat untuk melakukan perburuan lima hari sebelum menahan pasangan itu dan membawa Romina kembali pulang.

Media lokal melaporkan bahwa meskipun Romina mengatakan kepada pihak berwenang bahwa ia akan berada dalam bahaya bila tetap di rumah dan mengkhawatirkan nyawanya, pihak berwenang tetap memulangkannya seperti yang dipersyaratkan oleh hukum Republik Islam Iran.

Lokasi pembunuhan remaja Romina Ashrafi (13) oleh ayah kandungnya di kota Iran Talesh, sekitar 198 mil barat laut ibukota, Teheran, Iran, telah memicu protes nasional.
Lokasi pembunuhan remaja Romina Ashrafi (13) oleh ayah kandungnya di kota Iran Talesh, sekitar 198 mil barat laut ibukota, Teheran, Iran, telah memicu protes nasional. (dailymail)

Ayah Serahkan Diri ke Polisi

Setelah melakukan pembunuhan, ayah Romina diduga menyerahkan dirinya ke polisi dan mengaku melakukan kejahatan - sambil memegang senjata berlumuran darah yg digunakan untuk membunuh.

Gubernur distrik Kazem Razmi mengatakan ayah gadis itu ditahan dan penyelidikan atas kasus ini sedang berlangsung.

Wakil Presiden untuk Urusan Wanita Masoumeh Ebtekar juga telah mengumumkan 'perintah khusus' untuk menyelidiki pembunuhan itu, kata Iran International, dan ayahnya menghadapi hukuman penjara hingga 10 tahun jika terbukti bersalah.

Ayah Romina akan lolos dari hukuman mati karena dia adalah 'wali' Romina, dan Hukum Pidana Islam berarti dia dibebaskan dari 'qisas', atau 'pembalasan dalam bentuk barang', Al Arabiya melaporkan.

Hukum Syariah mengatakan bahwa hanya 'pemilik darah' - anggota keluarga dekat - yang diijinkan untuk menuntut eksekusi atas pembunuhan seorang kerabat.

Ini berarti sebagian besar pembunuhan demi kehormatan tidak dihukum karena keluarga cenderung tidak menuntut hukuman mati untuk anggota keluarga lainnya.

Pembunuhan Anggota Keluarga Sering Terjadi di Iran

Berita kematian Romina telah mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh Iran, dengan Presiden Hassan Rouhani mendesak kabinetnya untuk mempercepat hukum yang lebih keras dalam apa yang disebut pembunuhan demi kehormatan.

Dia telah mendorong untuk adopsi cepat dari tagihan yang relevan, beberapa yang tampaknya bolak-balik selama bertahun-tahun di antara berbagai badan pembuat keputusan di Iran.

Undang-undang Iran berarti anak perempuan dapat menikah setelah usia 13 tahun, meskipun usia rata-rata pernikahan untuk wanita Iran adalah 23.

Fariba Sahraei, editor senior di Iran International, mengatakan: "Setiap tahun di Iran, wanita, dan anak perempuan dibunuh oleh saudara lelaki mereka dengan kedok untuk mempertahankan kehormatan mereka, tetapi sifat pembunuhan Romina Ashrafi adalah salah satu yang telah mengejutkan negara itu dan seluruh dunia."

Sementara jumlah pasti pembunuhan demi kehormatan di Iran tidak diketahui, seorang pejabat kepolisian Teheran sebelumnya mengatakan mereka bertanggung jawab atas sekitar 20 persen dari pembunuhan Iran.

Media Pemerintah Iran Edit Foto Korban

Sementara itu, Media pemerintah Iran telah dituduh mengedit foto seorang gadis berusia 13 tahun yang dipenggal oleh ayahnya.

Editing foto dilakukan demi membuat gadis itu terlihat seolah-olah dia mengenakan jilbab penuh.

Romina Ashrafi terbunuh dengan sabit ketika dia tidur di rumah keluarganya di Hovigh, Iran utara, pada 21 Mei sebagai 'hukuman' karena mencoba menikahi pria yang lebih tua.

Romina Ashrafi (13) gadis Iran tewas dibunuh ayah kandung menggunakan sabit atau arit pertanian.
Romina Ashrafi (13) gadis Iran tewas dibunuh ayah kandung menggunakan sabit atau arit pertanian. (Masih Alinejad/twitter/dailymail)

Berita itu dilaporkan secara luas di media berbahasa Persia, tetapi surat kabar milik pemerintah Jame Jam tampaknya telah memotret gambar Romina untuk menutupi rambutnya.

Gambar pertama Romina yang berkeliling dunia minggu ini menunjukkan dia berdiri di sebelah pot bunga dengan jilbab hijau pastel.

Syal itu berada jauh di belakang kepalanya yang berarti bagian depan rambutnya terlihat - yang melanggar hukum kerendahan hati Iran.

Gambar lain, yang tampaknya telah muncul di surat kabar edisi Rabu, menunjukkan Romina dengan rambutnya tertutup sepenuhnya.

Masih Alinejad, seorang jurnalis Iran yang berbasis di AS yang telah lama berkampanye untuk membatalkan hukum itu, mengirim foto korban melalui twitter.

Romina Ashrafi (13) gadis Iran yang tewas setelah lehernya digorok oleh ayah kandungnya sendiri dengan alasan 'demi kehormatan'.
Romina Ashrafi (13) gadis Iran yang tewas setelah lehernya digorok oleh ayah kandungnya sendiri dengan alasan 'demi kehormatan'. (Masih Alinejad/twitter/dailymail)

Dia menulis: 'Malu di media pemerintah Republik Islam karena menutupi rambut Romina oleh photoshop.

“Dia berusia 13 tahun dan dibunuh oleh ayahnya. Sekarang mereka menggambarkan korban pembunuhan demi kehormatan di 'jilbab yang sesuai' untuk kehormatannya.

"Mereka membunuhnya lagi. Ini adalah apartheid gender, bukan perbedaan budaya. '

Alinejad sendiri telah menjadi target serangan rezim di masa lalu, dan saudaranya saat ini di penjara di Iran. Dia berkampanye untuk pembebasannya.

Pembunuhan Romina memicu kemarahan di Iran ketika pertama kali dilaporkan minggu ini - termasuk oleh Iran International TV - dan telah menyebabkan seruan untuk memperkuat hukum 'pembunuhan demi kehormatan'.

Lokasi pembunuhan remaja Romina Ashrafi di kota Iran Talesh, sekitar 198 mil barat laut ibukota, Teheran, Iran.

Wabah Virus Corona atau Covid-19 yang belum juga teratasi meski sudah berlangsung 6 bulan, membuat sebagian orang mengalami depresi atau stres.

Akibatnya, mereka melakukan tindakan atau langkah-langkah di luar kewajaran atau akal sehat untuk menghentikan wabah virus yang bersumber dari Wuhan, China, pada akhir tahun 2019 itu.

Contoh konkret adalah apa yang dilakukan seorang imam atau pendeta yang memenggal kepala umatnya dengan alasan untuk menghentikan pandemi Virus Corona.

Dailymail memberitakan, seorang imam berusia 70 tahun memenggal seorang pria sebagai pengorbanan untuk mengakhiri pandemi Coronavirus.

Imam atau pendeta itu melakukan tindakan 'gila' setelah dalam keadaan mabuk atau teler lantaran menghisap ganja.

Imam atau Pendeta Sansari Ojha (70), dari Kuil Brahmani Dei di Bhubaneswar, India, memenggal kepala umatnya, Saroj Kumar Pradhan, (52) pada hari Rabu sebagai 'pengorbanan' untuk mengakhiri wabah Virus Corona atau Coronavirus.
Imam atau Pendeta Sansari Ojha (70), dari Kuil Brahmani Dei di Bhubaneswar, India, memenggal kepala umatnya, Saroj Kumar Pradhan, (52) pada hari Rabu sebagai 'pengorbanan' untuk mengakhiri wabah Virus Corona atau Coronavirus. (dailymail)

Kronologi Pendeta Hindu Penggal Kepala Umat

Sementara itu, kasus pembunuhan sadis dengan modus penggal kepala juga terjadi di negara lain.

Sansari Ojha dari Kuil Brahmani Devi di bawah kantor polisi Narasinghpur di Cuttack, India, memenggal kepala Saroj Kumar Pradhan yang berusia 52 tahun.

Pendeta Hindu dari daerah Bandhahuda di Odisha, India,  membunuh pria itu untuk menenangkan seorang dewi, katanya.

Dia memenggal kepala Pradhan dengan kapak pada pukul 01:00 dini hari waktu setempat di sebuah kuil.

Detektif Ashish Kumar Singh mengatakan Ojha mabuk berat pada saat itu dan menyerah kepada polisi pada hari yang sama setelah sadar.

Dia mengatakan pendeta Ojha mengklaim dia diperintahkan oleh seorang dewi dalam mimpinya untuk mengorbankan manusia untuk mengakhiri pandemi.

Alok Ranjan Ray, perwira polisi sub-divisi Athagarh, mengatakan: "Pendeta itu mengklaim bahwa ia melihat seorang dewi dalam mimpinya dan diminta untuk mengorbankan nyawa manusia untuk mengakhiri coronavirus."

"Karena itu, untuk menenangkan sang dewi, dia memenggal pria itu," katanya kepada Gulf News.

Personel polisi mencoba mengendalikan pekerja migran setelah mereka memblokir jalan raya nasional selama protes terhadap Pemerintah Punjab menuntut pengembalian lebih awal ke kota asal mereka di pinggiran Amritsar, India, Rabu (29/5/2020).
Personel polisi mencoba mengendalikan pekerja migran setelah mereka memblokir jalan raya nasional selama protes terhadap Pemerintah Punjab menuntut pengembalian lebih awal ke kota asal mereka di pinggiran Amritsar, India, Rabu (29/5/2020). (NARINDER NANU / AFP)

Polisi mengatakan mereka telah memulai penyelidikan dan kedua pria itu diketahui mengisap ganja sebelum serangan itu.

Tubuh Pak Pradhan telah dikirim untuk otopsi dan senjata pembunuhan telah disita dari kuil.

Aktivis sosial Satya Prakash Pati mengatakan kepada India Today: 'Tidak dapat dipercaya pada abad ke-21 bahwa orang masih berperilaku biadab seperti itu.

"Kami menuntut tindakan keras terhadap yang bersalah."

Pendeta itu diketahui memiliki perselisihan yang lama dengan Tuan Pradhan tentang kebun mangga di desa Bandhahuda.

Pak Pradhan merawat pohon-pohon di kuil Brahmani Devi, yang aksesnya dibatasi karena Coronavirus, dan pasangan itu berbagi kamar bersama.

Penumpang mengantre ketika mereka diperiksa oleh petugas kesehatan pada saat kedatangan mereka dari New Delhi di stasiun kereta api New Jalpaiguri, India setelah pemerintah melonggarkan penguncian nasional yang diberlakukan sebagai tindakan pencegahan terhadap Virus Corona atau Covid-19,  Rabu (29/5/2020).
Penumpang mengantre ketika mereka diperiksa oleh petugas kesehatan pada saat kedatangan mereka dari New Delhi di stasiun kereta api New Jalpaiguri, India setelah pemerintah melonggarkan penguncian nasional yang diberlakukan sebagai tindakan pencegahan terhadap Virus Corona atau Covid-19, Rabu (29/5/2020). (DIPTENDU DUTTA / AFP)

India mencatat 4.797 kematian akibat virus korona kemarin karena jumlah infeksi di negara itu meningkat menjadi 167.442, mengikuti pertumbuhan eksponensial hingga Mei 2020.

Ada kekhawatiran bahwa negara ini menjadi episentrum baru untuk penyakit di Asia, menyusul tingkat infeksi yang sangat rendah sebelumnya saat pandemi.

Jumlah kasus di India merupakan seperempat dari infeksi baru di Asia pada Jumat lalu.

Berdasarkan data worldometers, jumlah kasus Virus Corona di India sampai kemarin mencapai 173.491 kasus dengan jumlah kematian 4.980 orang.

Sebanyak 82.627 pasien Covid-19 di India dinyatakan sembuh.

Monyet kera berkumpul di dekat monumen Taj Mahal di Agra di negara bagian Uttar Pradesh, India, 13 November 2018. Monyet-monyet di India
Monyet kera berkumpul di dekat monumen Taj Mahal di Agra di negara bagian Uttar Pradesh, India, 13 November 2018. Monyet-monyet di India "menyerang" seorang petugas kesehatan dan melarikan diri dengan sampel darah uji coronavirus, menyebarkan kekhawatiran hewan itu akan menyebarkan Virus Corona di India. (Pawan Sharma / AFP)

Sementara itu, hingga hari ini, jumlah kasus Virus Corona di dunia telah mencapai 6 juta kasus, tepatnya 6.026.091.

Dalam sehati kemarin terjadi penambahan 125.184 kasus.

Jumlah kematian pasien Covid-19 di dunia mencapai 366.415 orang (penambahan 4.866 orang).

Sebanyak 2.655.953 orang dinyatakan sembuh.

Kasus Virus Corona di India berada di urutan ke-9 dunia dan tertinggi di benua Asia.

Kasus Corona di India terjadi lonjakan luar biasa sejak awal Mei 2020. (Wartakotalive.com/SumberLain)

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved