Keamanan Privasi

Tidak Mengunci Kartu SIM, Efeknya Bisa Bikin Kantong Kebobolan

Kini smartphone ibarat brankas. Bagi orang-orang yang gemar bertransaksi elektronik, HP menjadi alat paling praktis untuk bertransaksi.

Seorang pedagang terlihat sedang registrasi SIM card di gerai miliknya di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten, Selasa (7/11/2017). Pemerintah mewajibkan registrasi ulang SIM card bagi para pengguna telepon seluler hingga 28 Februari 2018 dengan memakai nomor NIK dan kartu keluarga (KK). (KOMPAS.com /ANDREAS LUKAS ALTOBELI) 

Kabar heboh baru-baru ini tentang pencurian data konsumen beberapa situs jual beli, tentulah membuat konsumen situs tersebut ketar-ketir. Sebagian konsumen langsung melakukan langkah antisipatif supaya data pribadinya tidak dimanfaatkan orang lain. Password, terutama harus diganti.

Sejalan dengan kian tinggi keterikatan orang dengan dunia digital, password pun menjadi keharusan, alias mutlak untuk diperhatikan. Ibarat kata, password adalah kunci brankas. Jika kunci itu jatuh ke tangan penjahat, dan kita belum sempat mengganti kuncinya, selesai sudah urusannya.

Kini smartphone ibarat brankas. Bagi orang-orang yang gemar bertransaksi elektronik, HP menjadi alat paling praktis untuk melakukan kegiatan tersebut.

Karena itu pula, banyak orang menggunakan HP sebagai tempat untuk menyimpan data yang diperlukan dalam bertransaksi. Data itu bisa saja berupa nomor kartu kredit, nomor kartu debit, akun-password toko onlen ini itu, dan lainnya. Jadilah HP sebagai brankas.

Maka, HP mutlak diberi "kunci". Tak hanya itu. Kartu SIM pun wajib hukumnya diberi kunci atau PIN.

Tapi, buat apa mengunci SIM, kan smartphone sudah menyediakan sistem penguncian yang makin canggih? Ada sistem penguncian pakai huruf (sandi), pakai angka (PIN), pakai pola, sidik jari, dan pengenalan wajah (face recognition). Bahkan pengamanan itu bisa digunakan secara berlapis. Tak mungkinlah orang lain bisa menggunakan HP itu.

Kalau HP itu hilang, Google pun sudah menyediakan fitur "temukan HP saya" untuk melacak keberadaan HP tersebut. Iphone juga punya fitur itu. Bahkan sejumlah merek HP Android juga punya fasilitas serupa yang terhubung dengan server mereka.

Melalui fitur ini kita bisa mematikan HP itu, atau bahkan me-reset-nya sehingga semua isinya terhapus. Jadi, apa kurangnya keamanan "brankas" HP saya?

Aman memang, tapi lubang kerugian kita masih terbuka lebar melalui kartu SIM yang abai diberi PIN.

Penjahat atau pencopet HP sudah canggih. Mereka selain mendapat duit dari penjualan HP korban, juga memanfaatkan kartu SIM-nya untuk menggaet untung lebih. Ya, karena nomor SIM sudah jamak digunakan sebagai identitas diri, sekaligus bukti otorisasi, untuk akun media sosial maupun e-comm.

Halaman
12
Penulis: Bambang Putranto
Editor: Bambang Putranto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved