Fenomena Alam

Fenomena Cuaca Panas dan Gerah Saat Bulan Ramadan, BMKG Jelaskan Penyebabnya

Banyak masyarakat yang mengeluh panasnya suhu di siang hari dan suasana yang cenderung gerah. Apa penyebabnya udara panas?

Spectrum Heat Beat
Ilustrasi kepanasan saat olahraga di tempat terbuka 

WARTAKOTALIVE.COM -- Meski beberapa kali diguyur hujan, namun cuaca atau udara di Indonesia masih terasa cukup gerah dan panas.

Terbukti pada siang hari suhu udara bisa mencapai 35 derajat celcius.

Memasuki pertengahan bulan Ramadan ini sejumlah wilayah di Indonesia memiliki cuaca yang cukup panas.

Banyak masyarakat yang mengeluh panasnya suhu di siang hari dan suasana yang cenderung gerah.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan menganai hal ini.

Jumat Pagi Asteroid 2020 HB6 dengan Kecepatan Tinggi Mendekati Bumi, Lapan: Tidak Berbahaya

Kasubid Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agie Wandala Putra menyebut kondisi panas ini tidak dirasakan oleh seluruh wilayah Indonesia.

"Kalau melihat dari distribusinya sebetulnya tidak semua daerah di indonesia sedang dilanda kondisi udara yang relatif panas. Sumatra masih banyak hujan. hanya memang Jawa, Bali, Nusa Tenggara sedang dalam kondisi kering," ungkapnya kepada Tribunnews.com melalui WhatsApp, Jumat (8/5/2020).

Agie mengungkapkan suasana terik umumnya disebabkan oleh suhu udara yang tinggi dan disertai oleh kelembapan udara yang rendah.

"Terutama terjadi pada kondisi langit cerah dan kurangnya awan, sehingga pancaran sinar matahari langsung lebih banyak diteruskan ke permukaan bumi," ujarnya.

Cuaca Jumat 8 Mei 2020 Seluruh Jakarta Cerah Berawan Siang Nanti, Waspada Hujan di Jaksel dan Jakbar

Berkurangnya tutupan awan terutama di wilayah Indonesia bagian selatan pada bulan-bulan ini disebabkan wilayah ini tengah berada pada masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.

"Sebagaimana diprediksikan BMKG sebelumnya, seiring dengan pergerakan semu matahari dari posisi di atas khatulistiwa menuju Belahan Bumi Utara," jelas Agie.

Transisi musim ditandai mulai berhembusnya angin timuran dari Benua Australia (monsun Australia) terutama di wilayah bagian selatan Indonesia.

Angin monsun Australia ini bersifat kering kurang membawa uap air, sehingga menghambat pertumbuhan awan.

Cuaca Panas Ekstrem, Ibu di Bekasi Masak Kerupuk di Bawah Terik Matahari

"Kombinasi antara kurangnya tutupan awan serta suhu udara yang tinggi dan cenderung berkurang kelembapannya inilah yang menyebabkan suasana terik yang dirasakan masyarakat," jelasnya.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved