Kolom Trias Kuncahyono
Surat dari Sahabat: Covid-19, Ranggawarsita dan Sang Penguasa
“Bung, apakah zaman seperti ini yang dahulu diramalkan oleh Ranggawarsita?” Lalu, ia mengutip bagian dari Serat Sabda Pranawa karya Ranggawarsita.
• Mutasi di Tubuh Polri: IPW Sebut Penunjukan Kepala BNPT dengan TR Kapolri Malaadministrasi
Negara seketat apa pun penjagaannya, tidak ada artinya bagi Covid-19. Negara adikuasa yang memiliki senjata nuklir sekalipun tidak berdaya.
Virus korona memang ganas, Bung, menyerang siapa saja: pejabat dalam segala tingkatan, politikus, tenaga medis, bintang film, tentara, polisi, pemimpin agama, pengusaha, pengangguran, guru, dan segala macam profesi, orang kaya maupun miskin, orang yang tinggal di kota besar, kota kecil, maupun di desa-desa, orang-orang yang tinggal di rumah-rumah gedongan maupun rusun atau rumah sangat sederhana, laki-laki maupun perempuan.
Pandemi Covid-19 telah pula secara dramatis mendisrupsi pola sosial dan ekonomi sehari-hari masyarakat di seluruh dunia.
Perusahaan-perusahaan transportasi baik darat, laut, maupun udara tutup. Akibatnya jelas, banyak orang menganggur. Industri pariwisata dan hiburan, mati.
Demikian juga warung-warung makan dan restoran-restoran, merasakan akibatnya. Dan, orang yang kesulitan pangan di mana-mana semakin banyak, bahkan di seluruh dunia.
• Survei LKSP: Masyarakat Jakarta Mayoritas Puas terhadap Penanganan Covid-19 Anies Baswedan
Sementara, Bung, yang punya uang pun tidak bisa produktif seperti sebelumnya. Paling-paling beda mereka dengan yang tidak punya uang adalah mereka mampu menyimpan persediaan bahan makanan lebih banyak; mampu memborong. Meskipun kemudian ada yang rakus.
Tetapi, satu hal yang sama, Bung, antara yang kaya dan yang miskin, antara yang punya jabatan dan tak punya jabatan, antara bos dan anak buah, antara yang di kota dan di desa yakni berpikir bagaimana bertahan hidup. Hanya itu, Bung! Itu saja!
Karena itu, semua orang berharap dalam kegelisahan dan ketakutan—kecuali yang sudah tidak memiliki hati nurani lagi, yang justru memanfaatkan tragedi kemanusiaan ini untuk kepentingannya sendiri; dan ini ada--semoga situasi tidak semakin memburuk sehingga orang akan menjadi serigala bagi sesamanya.
Bung, kembali ke pertanyaan yang saya tulis di awal surat ini: apa sesungguhnya yang hendak dituju, yang menjadi tujuan Covid-19 itu?
Bila pandemi ini tidak segera bisa dihentikan penyebarannya, banyak hal akan menjadi lebih buruk di masa mendatang. Apalagi kalau tidak ada empati manusia dan solidaritas nasional.
Perang melawan pandemi ini hanya bisa berhasil kalau semua pihak bersedia “berdarah-darah, bekerja keras, berurai air mata, dan bermandi keringat,” seperti yang dikatakan Winston Churchill pada pidato, 13 Mei 1940.
“Saya tidak menawarkan apa-apa kecuali darah, kerja keras, air mata, dan keringat, " kata Churchill.
Apakah ada semangat seperti itu di hati kita semua, Bung?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/virus-corona-covid-19-intisari.jpg)